Saham

TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sisa Dana Masih di Atas Rp3 Triliun! Apa Dampaknya ke Saham?

Ringkasan Cepat

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana mempercepat program buyback saham dengan anggaran maksimal Rp4 triliun. Hingga 19 Oktober 2026, sisa alokasi dana pembelian kembali saham masih lebih dari Rp3 triliun. Manajemen menyatakan aksi korporasi tersebut akan menggunakan kas internal dengan mempertimbangkan kebutuhan investasi, likuiditas, serta transformasi TelkomGroup melalui strategi TLKM 30.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang mempercepat program buyback saham senilai maksimal Rp4 triliun dengan sisa anggaran lebih dari Rp3 triliun pada Oktober 2026.

Ilustrasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang mempercepat program buyback saham senilai maksimal Rp4 triliun dengan sisa anggaran lebih dari Rp3 triliun pada Oktober 2026. (Foto:TLKM)

Emitenhub.com - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana mempercepat pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback dengan total anggaran maksimal Rp4 triliun. Hingga 19 Oktober 2026, perseroan masih memiliki sisa alokasi dana lebih dari Rp3 triliun dari program yang telah disetujui pemegang saham.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal Telkom untuk meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen menyatakan percepatan buyback akan mempertimbangkan kondisi pasar, ketersediaan kas, serta kebutuhan pendanaan operasional dan investasi.

Program pembelian kembali saham TLKM sebelumnya telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026.

Berdasarkan keputusan tersebut, periode pelaksanaan buyback berlangsung selama 12 bulan, mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Dengan demikian, rencana percepatan ini masih berada dalam periode program yang telah disetujui pemegang saham.

Telkom Masih Miliki Sisa Dana Buyback Lebih dari Rp3 Triliun

Direktur Utama Telkom Indonesia, Nanang Hendarno, menyatakan percepatan pembelian kembali saham mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Dalam keterangan resmi, Selasa (20/10/2026), Nanang menjelaskan bahwa pelaksanaan buyback tetap didasarkan pada evaluasi kondisi pasar dan prinsip disiplin alokasi modal.

Menurutnya, aksi korporasi tersebut sejalan dengan transformasi TelkomGroup melalui strategi TLKM 30 yang diarahkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan.

"Hal itu diarahkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan," ujar Nanang.

Dari total anggaran maksimal Rp4 triliun, sisa alokasi yang tersedia per 19 Oktober 2026 masih lebih dari Rp3 triliun.

Meski demikian, besaran dana yang akan digunakan dalam percepatan buyback belum dirinci. Realisasi pembelian tetap bergantung pada harga saham, kondisi perdagangan, dan keputusan manajemen selama periode pelaksanaan.

Buyback TLKM Gunakan Kas Internal, Likuiditas Tetap Jadi Prioritas

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Angelo, memastikan pendanaan program buyback seluruhnya berasal dari kas internal perseroan.

Menurutnya, pembelian kembali saham merupakan bagian dari keputusan alokasi modal yang harus mempertimbangkan kemampuan arus kas, kebutuhan likuiditas, dan prioritas investasi perusahaan.

Dengan demikian, pelaksanaan buyback tidak dilakukan secara terpisah dari kebutuhan pendanaan bisnis TelkomGroup.

Manajemen akan mengevaluasi waktu dan nilai transaksi agar penggunaan kas tetap sejalan dengan strategi pertumbuhan serta kondisi keuangan perseroan.

"Pelaksanaan buyback bagian dari keputusan alokasi modal yang kami pertimbangkan secara disiplin, dengan melihat fundamental Perseroan dan prospek bisnis ke depan," kata Angelo.

Telkom juga menegaskan pentingnya menjaga fleksibilitas keuangan agar perusahaan tetap mampu membiayai kegiatan operasional dan investasi strategis.

Pendekatan tersebut menjadi perhatian karena dana yang digunakan untuk membeli kembali saham akan mengurangi kas yang tersedia bagi kebutuhan perusahaan lainnya.

Sementara itu, dampak buyback terhadap jumlah saham beredar maupun laba per saham baru dapat dihitung setelah terdapat informasi mengenai realisasi pembelian.

Transformasi TLKM 30 dan HoldCo–OpCo Jadi Fokus Telkom

Percepatan buyback berlangsung bersamaan dengan transformasi bisnis TelkomGroup melalui strategi TLKM 30.

Perseroan tengah melanjutkan transisi menuju model Strategic Holding dengan struktur Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo).

Melalui struktur tersebut, Telkom berupaya mempercepat penataan portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional di lingkungan grup.

Inisiatif transformasi juga diarahkan untuk memperkuat margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA).

Manajemen memandang penguatan efisiensi dan penataan portofolio sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja operasional sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Dengan demikian, program buyback menjadi salah satu instrumen pengelolaan modal yang dijalankan beriringan dengan agenda transformasi perusahaan.

Meski sisa anggaran pembelian kembali saham masih lebih dari Rp3 triliun, Telkom belum memastikan seluruh dana tersebut akan digunakan dalam waktu dekat.

Perkembangan realisasi buyback, kebutuhan investasi, serta kemajuan transformasi TLKM 30 menjadi faktor yang perlu dicermati investor untuk menilai dampak strategi tersebut terhadap kondisi keuangan dan nilai perusahaan.

Iklan