Saham

Danantara Siapkan Tambahan Rp18 Triliun, Cukup Selamatkan IHSG dari Tekanan MSCI?

Ringkasan Cepat

Danantara membuka peluang menambah investasi hingga US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun hingga akhir 2026, ketika IHSG menghadapi tekanan akibat ketidakpastian status indeks MSCI. Nilai tersebut setara sekitar 1,11 kali rata-rata transaksi harian BEI sebesar Rp16,23 triliun pada 12–16 Oktober 2026. Meski berpotensi menambah permintaan saham domestik, Danantara belum memastikan seluruh dana akan masuk ke BEI karena keputusan investasi tetap mempertimbangkan valuasi, peluang keuntungan

• 5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Danantara menyiapkan potensi tambahan investasi Rp18 triliun di tengah tekanan IHSG akibat ketidakpastian MSCI, dengan latar grafik pasar saham Indonesia.

Ilustrasi Danantara menyiapkan potensi tambahan investasi Rp18 triliun di tengah tekanan IHSG akibat ketidakpastian MSCI, dengan latar grafik pasar saham Indonesia.

Emitenhub.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membuka peluang menambah investasi hingga US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun sampai akhir 2026. Rencana tersebut muncul ketika pasar saham Indonesia menghadapi tekanan akibat ketidakpastian status klasifikasi MSCI.

Namun, besarnya dana yang berpotensi masuk ke pasar saham domestik belum dapat dipastikan. Tambahan investasi tersebut masih bergantung pada kondisi pasar dan dapat dialokasikan ke berbagai instrumen, termasuk saham dan obligasi di dalam maupun luar negeri.

Sebagai gambaran, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12–16 Oktober 2026 mencapai Rp16,23 triliun. Dengan asumsi seluruh tambahan dana Danantara sebesar Rp18 triliun ditempatkan pada saham Indonesia, nilainya setara sekitar 1,11 kali rata-rata transaksi harian BEI pada periode tersebut.

Perbandingan tersebut menunjukkan skala potensi investasi Danantara terhadap aktivitas perdagangan bursa. Meski demikian, besarnya dana tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi kemampuan menopang IHSG selama periode tertentu.

Nilai transaksi harian mencakup aktivitas jual dan beli di pasar, sedangkan dampak investasi terhadap harga saham bergantung pada waktu pembelian, likuiditas, dan komposisi saham yang dipilih.

Danantara Siapkan Tambahan US$1 Miliar, Investasi Bergantung Kondisi Pasar

Mengutip laporan Reuters, Danantara sebelumnya telah mengalokasikan sekitar US$3 miliar untuk investasi pada instrumen saham dan obligasi, baik domestik maupun internasional.

Lembaga tersebut kini mempertimbangkan tambahan investasi hingga US$1 miliar sebelum akhir tahun apabila menemukan peluang yang dinilai menarik.

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, menjelaskan bahwa keputusan investasi tetap mempertimbangkan valuasi dan prospek keuntungan, bukan semata-mata bertujuan menahan penurunan pasar.

Menurut Rani, Danantara telah melakukan investasi secara bertahap sejak akhir tahun lalu, termasuk ketika pasar saham mengalami tekanan jual pada awal 2026.

Tekanan tersebut antara lain berkaitan dengan kekhawatiran investor setelah MSCI memperingatkan adanya kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Danantara juga membuka peluang meningkatkan investasi apabila perubahan klasifikasi indeks kembali memicu aksi jual dan menciptakan harga aset yang dinilai menarik.

Namun, Rani menegaskan keputusan tersebut tidak akan dilakukan secara otomatis karena tetap membutuhkan proses analisis dan uji tuntas.

"Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," ujar Rani.

Ia menjelaskan bahwa pembelian saham sebelumnya dilakukan karena Danantara melihat adanya nilai investasi pada aset yang mengalami tekanan harga.

Pendekatan tersebut menempatkan potensi keuntungan jangka panjang sebagai pertimbangan utama, bukan intervensi langsung untuk menjaga level indeks saham tertentu.

Dana Rp18 Triliun Setara 1,11 Kali Transaksi Harian BEI

Potensi tambahan investasi Danantara menjadi perhatian karena nilainya relatif besar dibandingkan rata-rata aktivitas perdagangan saham domestik.

Berdasarkan data BEI, RNTH sepanjang 12–16 Oktober 2026 tercatat sebesar Rp16,23 triliun.

Jika seluruh tambahan dana US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun ditempatkan pada saham Indonesia, nilainya setara dengan sekitar 1,11 kali RNTH pada pekan tersebut.

Meski demikian, perhitungan itu hanya menggambarkan perbandingan nominal dan bukan proyeksi dampak terhadap IHSG.

Dalam praktiknya, investor institusi dapat melakukan pembelian secara bertahap untuk mempertimbangkan likuiditas serta mengurangi dampak transaksi besar terhadap pergerakan harga.

Selain itu, tidak seluruh dana tambahan Danantara dipastikan akan masuk ke pasar saham Indonesia. Alokasinya masih dapat mencakup obligasi maupun aset investasi di luar negeri.

Karena itu, pengaruh dana tersebut terhadap IHSG akan bergantung pada besarnya alokasi aktual ke saham domestik, waktu pelaksanaan transaksi, dan emiten yang menjadi tujuan investasi.

Pembelian pada saham dengan likuiditas terbatas juga dapat menghasilkan dampak harga yang berbeda dibandingkan transaksi pada saham berkapitalisasi besar dengan perdagangan aktif.

Rosan Nilai Valuasi Saham Indonesia Menarik untuk Investasi Jangka Panjang

Secara terpisah, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi, Rosan Roeslani, menilai tekanan pasar saham Indonesia membuka peluang bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Jumat (16/10/2026), ketika pasar menghadapi ketidakpastian mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks MSCI.

Menurut Rosan, sejumlah saham yang tercatat di BEI telah mengalami penurunan valuasi, termasuk perusahaan badan usaha milik negara (BUMN).

Danantara memandang kondisi tersebut sebagai peluang untuk memperoleh saham perusahaan dengan fundamental yang dinilai masih baik pada valuasi lebih rendah.

Rosan mencontohkan sektor perbankan yang menurutnya memiliki sejumlah emiten dengan rasio harga terhadap nilai buku atau price-to-book value (PBV) di bawah satu kali.

Valuasi tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan sejumlah perusahaan sejenis di industrinya.

Selain perbankan, Danantara turut mencermati potensi investasi pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi.

Rosan menegaskan pendekatan investasi Danantara berorientasi jangka panjang, bukan transaksi jangka pendek yang hanya memanfaatkan kenaikan dan penurunan harga saham.

Ia menilai tekanan pasar yang dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen belum tentu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan.

Namun, valuasi rendah tetap perlu dievaluasi bersama kondisi keuangan, prospek laba, dan risiko masing-masing emiten sebelum menjadi dasar keputusan investasi.

Potensi Investasi Danantara Belum Menjamin Pemulihan IHSG

Rencana tambahan investasi Danantara muncul ketika pasar saham Indonesia menghadapi risiko penyesuaian portofolio investor global akibat ketidakpastian status indeks MSCI.

Dalam kondisi tersebut, kehadiran investor institusi dengan orientasi jangka panjang dapat menjadi salah satu sumber permintaan terhadap saham domestik.

Namun, tambahan investasi US$1 miliar belum tentu seluruhnya dialokasikan ke BEI dan tidak secara otomatis mampu mengimbangi tekanan jual investor asing.

Danantara juga belum menyampaikan rincian alokasi tambahan dana berdasarkan instrumen, sektor, maupun saham yang akan dibeli.

Dengan demikian, dampak aktual terhadap pasar baru dapat dinilai setelah terdapat realisasi investasi dan informasi mengenai penempatan dana tersebut.

Bagi investor, perkembangan alokasi Danantara, arah kebijakan MSCI, serta kondisi fundamental emiten tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai prospek pasar saham Indonesia.

Iklan