Emitenhub.com - Investor perorangan Dimas Wibowo terpantau kian rajin belanja saham PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), sehingga kepemilikannya di emiten produsen makanan olahan merek Kibif itu sudah mencapai 8,24%.
Mengacu pada data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), nama Dimas Wibowo pertama kali muncul dalam daftar kepemilikan saham di atas 5% setelah terpantau memborong jumbo saham BEEF pada Mei 2026.
Berdasarkan data KSEI per 25 Mei 2026, Dimas Wibowo tercatat menggenggam sebanyak 409,92 juta lembar saham BEEF atau setara kepemilikan 5,05%.
Kepemilikan Dimas Wibowo di saham BEEF tersebut tercatat melalui PT BNI Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT Stockbit Sekuritas Digital, PT KB Valbury Sekuritas Indonesia, PT RHB Sekuritas Indonesia, dan PT Mandiri Sekuritas, masing-masing secara berurutan sebanyak 5,95 juta; 369,811 juta; 134.322; 30,77 juta; 3,65 juta; dan 9,60 juta lembar.
Sementara itu, berdasarkan data KSEI per 24 Agustus 2026, Dimas Wibowo tercatat menggenggam sebanyak 669.484.642 lembar saham BEEF atau setara kepemilikan 8,24%. Pada periode itu, Dimas tercatat memborong sebanyak 2,11 juta lembar saham BEEF lewat PT BCA Sekuritas.
Jika ditelusuri lebih lanjut, mengacu pada Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek yang berakhir pada akhir April 2026, tidak ada nama Dimas Wibowo dalam jajaran pemegang saham BEEF di atas 5%.
Dalam laporan tersebut, pemegang saham BEEF di atas 5% terdiri dari Asia Agri International sebanyak 5,73 miliar lembar (70,59%) dan Edie sebanyak 352,30 juta lembar (4,34%).
Kendati demikian, Dimas Wibowo per 30 April 2026 tercatat menggenggam sebanyak 331,37 juta lembar saham BEEF atau setara kepemilikan 4,08%. Kemudian, per 25 Mei 2026, kepemilikannya naik menjadi 409,92 juta (409.928.942) lembar, dan per 24 Agustus 2026 menjadi 669.484.642 lembar. Dengan demikian, sepanjang Mei-Agustus 2026 berjalan, Dimas Wibowo setidaknya telah memborong sebanyak 338,11 juta lembar saham BEEF.
Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham BEEF pada perdagangan Rabu (26/8/2026) ditutup pada harga Rp472 per lembar, setelah dibuka di harga Rp476 per lembar. Sepanjang perdagangan, harga saham BEEF bergerak di rentang Rp472-Rp490 per lembar, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp3,83 triliun.
Dengan harga Rp472 per lembar, sejak awal tahun (year to date/YtD) harga saham BEEF tercatat naik 0,85%, sedangkan dalam enam bulan terakhir terpantau melambung 42,17%.
Adapun BEEF yang juga merupakan produsen sosis Kibif tersebut pada akhir tahun lalu telah membuka tiga kegiatan usaha baru, yaitu segmen susu sapi, aktivitas cold storage (gudang pendingin), dan usaha penggemukan kerbau dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perseroan juga mulai mengembangkan bisnis peternakan sapi dan susu untuk menangkap peluang pertumbuhan permintaan protein hewani. Direktur Utama BEEF Ari Wijayanto menyampaikan perseroan saat ini memprioritaskan sejumlah lini usaha, mulai dari trading, penggemukan sapi, cold storage, hingga food processing. Perseroan juga tengah mempelajari pengembangan bisnis sapi perah (dairy cow) yang berlokasi di Purwokerto, Jawa Tengah.
Untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha, BEEF menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 yang akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional, pengembangan usaha, serta kondisi keuangan perseroan.
Alokasi capex terutama diarahkan untuk peningkatan kapasitas dan efisiensi operasional, pemeliharaan dan pengembangan fasilitas produksi, peternakan, cold storage, serta kebutuhan pendukung lainnya sesuai skala prioritas.
Di lini penggemukan sapi, BEEF saat ini memiliki sekitar 3.000 ekor sapi yang masih dalam tahap penggemukan. Pada tahun ini, perseroan memperoleh kuota impor sebanyak 9.000 ekor sapi. Ari menyampaikan perseroan tengah berupaya mendapatkan tambahan kuota impor dari pemerintah agar kegiatan impor sapi penggemukan dapat dilakukan secara lebih maksimal.
"Perseroan sedang berupaya kepada pemerintah untuk dapat penambahan kuota sehingga impor sapi penggemukan dapat lebih maksimal," ujarnya.
Peluang BEEF Menangkap Permintaan Program MBG
Di tengah pengembangan bisnis tersebut, BEEF melihat program MBG sebagai peluang untuk meningkatkan permintaan produk pangan dan protein hewani, termasuk daging sapi serta produk olahan.
"Dampak MBG terhadap perseroan sangat berpengaruh besar. Potensi dampak positif bagi perseroan antara lain berasal dari meningkatnya permintaan terhadap produk pangan dan protein hewani, termasuk daging sapi dan produk olahan yang sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Ari.
Menurutnya, peningkatan permintaan yang bersumber dari program tersebut dapat membuka peluang bagi perseroan untuk meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, memperluas jaringan distribusi, sekaligus mengembangkan basis pelanggan.
Selain bisnis sapi potong, BEEF juga tengah mempelajari peluang pengembangan bisnis dairy farm. Untuk produksi susu yang saat ini telah dikelola perseroan, pemasarannya masih dilakukan melalui koperasi setempat di area peternakan.
Adapun kapasitas produksi susu yang dikelola saat ini mencapai sekitar 21 ton liter per hari. Perseroan masih melakukan kajian terhadap pengembangan usaha dairy farm, termasuk rencana pemasaran dan kapasitas produksi apabila ekspansi tersebut direalisasikan.
Akumulasi agresif Dimas Wibowo hingga menembus 8,24% pun berlangsung saat BEEF tengah memperlebar lini usahanya, mulai dari penggemukan sapi, cold storage, food processing, hingga rintisan bisnis sapi perah, dengan program MBG sebagai salah satu katalis permintaan. Ke depan, sejauh mana ekspansi tersebut mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan utilisasi dan kinerja keuangan akan menjadi faktor yang dicermati pasar, seiring menguatnya minat investor terhadap saham produsen Kibif ini.


