Emitenhub.com - PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyatakan tengah mengupayakan percepatan pendayagunaan sumber-sumber air baru dari lokasi sekitar untuk mengurangi dampak El Nino terhadap operasional smelter nikel di kawasannya.
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menegaskan smelter nikel di kawasan IMIP terdampak fenomena El Nino, hingga berpotensi menurunkan produksi smelter di sentra nikel tersebut sekitar 30-40%.
Ia menegaskan perseroan bersama Eternal Tsingshan tengah berupaya melakukan langkah antisipasi untuk mencegah dampak kekeringan menjadi lebih besar.
"Saat ini tengah diupayakan langkah antisipasi dan mencegah dampak lebih besar, khususnya untuk menjamin ketersediaan air tetap memadai sebagai penyokong energi operasional industri di kawasan IMIP," kata Dedy kepada Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).
"Pihak manajemen IMIP dan Eternal Tsingshan tengah berupaya mempercepat pendayagunaan sumber-sumber air baru dari lokasi sekitar," ungkapnya.
Dedy menegaskan dampak fenomena El Nino tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP terhenti maupun memicu pengurangan tenaga kerja.
"Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja," ungkap Dedy.
Ia menyatakan perseroan memahami kondisi ketersediaan air dapat memengaruhi operasional fasilitas yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Sejumlah fasilitas yang terdampak antara lain smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL), pabrik produksi kokas, dan daya pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
"Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP," tegas dia.
Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan, dikabarkan mengalami kendala operasional akibat turunnya pasokan listrik imbas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kekurangan air.
Adapun smelter nikel BMS tercatat memiliki izin usaha industri (IUI) yang diterbitkan Kementerian Perindustrian, karena tidak terintegrasi langsung dengan kepemilikan konsesi tambang hulu atau izin usaha pertambangan (IUP) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.
Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif serta memperoleh hak dan kewajibannya.
Turunnya pasokan listrik akibat PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.
Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.
Di sisi lain, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyatakan proyek pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Sulawesi secara umum belum terkena dampak langsung dari fenomena El Nino tahun ini.
"Saat ini belum ada lokasi proyek pengolahan dan pemurnian nikel lainnya yang terdampak secara langsung akibat fenomena El Niño tahun ini," ungkap Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah saat dihubungi, Senin (31/8/2026).
Kendati demikian, Arif menegaskan sejumlah langkah pencegahan tetap dijalankan para pelaku usaha untuk menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang.
"Akan tetapi, langkah-langkah antisipasi masing-masing pelaku usaha tentunya telah dijalankan mengingat fenomena El Niño 2026 telah menyebabkan musim kemarau yang jauh lebih kering, panas, dan panjang di sebagian besar wilayah Sulawesi," jelasnya.
Kawasan Industri IMIP merupakan kerja sama antara Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Steel Group dari China.
Tsingshan Group sendiri merupakan perusahaan terbesar di dunia yang bergerak dalam pengolahan nikel dan telah menguasai teknologi pengolahan yang lengkap, maju, serta modern.
Pemegang saham IMIP didominasi oleh Shanghai Decent Investment Group dengan porsi 49,69%, PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebesar 25%, dan PT Bintang Delapan Investama sebesar 25,31%.
Sejak awal proyek industri nikel ini bergulir, nilai investasi di kawasan tersebut telah mencapai US$7,1 miliar. Di sana, terdapat setidaknya 11 smelter nikel dengan kapasitas 40 line.
Menyitir data Auriga Nusantara, terdapat setidaknya sembilan perusahaan asal China di IMIP, baik yang mengoperasikan pabrik pengolahan atau smelter maupun pembuatan baja nirkarat serta bahan baku baterai kendaraan listrik, yaitu:
PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS)
Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS)
Tsingshan Steel Indonesia (TSI)
Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy (IRNC)
PT Dexin Steel Indonesia (DSI)
Hengjaya Nickel Industry (HNI)
Ranger Nickel Industry (RNI)
Huayue Nickel & Cobalt (HYNC)
PT Gunbuster Nickel Industry
Qing Mei Bang New Energy Materials Indonesia (QMB)
Dampak El Nino terhadap sentra nikel Morowali menyoroti kerentanan industri smelter yang haus air dan listrik terhadap perubahan iklim. IMIP menyatakan produksinya berpotensi turun 30-40% namun operasional tetap berjalan tanpa pengurangan pekerja, sementara kasus PT BMS di Luwu menunjukkan tekanan yang lebih nyata lewat rencana merumahkan ratusan karyawan. Sejauh mana gangguan ini meluas akan bergantung pada seberapa cepat pelaku usaha mengamankan sumber air alternatif dan seberapa panjang musim kemarau bertahan di Sulawesi.


