Emitenhub.com - Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada pertemuan Oktober 2026, meskipun rupiah menghadapi tekanan di sekitar Rp18.000 per dolar AS dan risiko inflasi meningkat akibat tingginya harga energi global.
Berdasarkan konsensus Bloomberg yang melibatkan 34 ekonom dan analis, median proyeksi BI-Rate berada di 5,75%. Namun, perbedaan pandangan masih cukup besar, dengan perkiraan suku bunga tertinggi mencapai 6,25%.
Sebanyak 12 ekonom dan analis, termasuk dari DBS Bank, BCA, Bloomberg Economics, CIMB, Moody's Analytics, Maybank, dan Bank Permata, memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6%.
Sementara itu, ekonom Citigroup Helmi Arman memperkirakan kenaikan yang lebih agresif sebesar 50 basis poin menuju 6,25%.
Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan dilema kebijakan moneter BI antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, tanpa memberikan tekanan tambahan yang tidak diperlukan terhadap perekonomian domestik.
Mayoritas Ekonom Perkirakan BI-Rate Bertahan di 5,75%
Kelompok ekonom yang memperkirakan suku bunga tetap menilai BI masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen moneter selain kenaikan BI-Rate.
Tekanan terhadap mata uang domestik antara lain dipengaruhi arus keluar modal asing dari pasar saham setelah MSCI membuka kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market.
Ketidakpastian tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek aliran dana asing dan likuiditas pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, inflasi Indonesia masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%, atau 1,5%–3,5%.
Inflasi tahunan pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%. Meskipun telah mendekati batas atas target, angka tersebut belum melampaui kisaran yang ditetapkan BI.
Ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat turut menjadi pertimbangan. Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75%–4%, dengan probabilitas sebesar 82,2% berdasarkan perkiraan pasar yang dikutip dalam konsensus.
Dalam kondisi tersebut, mempertahankan BI-Rate dapat menjadi pilihan apabila stabilitas rupiah masih dapat dijaga melalui intervensi dan instrumen moneter lainnya, sementara ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Namun, efektivitas pendekatan tersebut akan bergantung pada perkembangan arus modal asing, harga energi, dan kondisi pasar keuangan global.
Ekonom Prediksi BI Naikkan Suku Bunga ke 6% untuk Jaga Rupiah
Berbeda dari konsensus mayoritas, sejumlah ekonom menilai BI perlu menaikkan suku bunga untuk meredam pelemahan rupiah dan mengantisipasi peningkatan tekanan inflasi.
Harga minyak dunia yang masih tinggi menjadi salah satu risiko utama. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah berpotensi mempertahankan harga energi pada level tinggi dan meningkatkan biaya produksi serta distribusi.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6% dinilai dapat memberikan sinyal lebih kuat mengenai komitmen bank sentral menjaga stabilitas moneter.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, memperkirakan BI akan mengambil langkah tersebut pada pertemuan Oktober.
Henderson menyoroti pelemahan rupiah sebesar 1,2% terhadap dolar AS dalam satu bulan terakhir. Menurutnya, kinerja mata uang Indonesia lebih lemah dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya, meskipun BI telah melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Intervensi tersebut juga dinilai dapat memberikan tekanan terhadap cadangan devisa apabila kebutuhan stabilisasi nilai tukar terus meningkat.
Selain risiko pelemahan rupiah, Henderson memperkirakan inflasi Indonesia berpotensi melampaui batas atas sasaran BI.
Tekanan terhadap pasar obligasi pemerintah turut menjadi perhatian. Berdasarkan data yang dikutip dalam risetnya, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar US$15 juta pada September 2026, setelah sebelumnya terdapat pembelian bersih sekitar US$2,5 juta sepanjang Juni hingga Agustus.
Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan arus modal tidak hanya terjadi pada pasar saham, tetapi juga pada instrumen surat utang pemerintah.
BI Perkuat Stabilisasi Rupiah Melalui Insentif Hedging
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebelumnya menyampaikan bahwa bank sentral terus menjalankan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Salah satu instrumen yang digunakan adalah pemberian insentif biaya lindung nilai atau hedging, yang telah diterapkan sejak akhir Juni 2026.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik penempatan dana dalam instrumen keuangan domestik dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Henderson mengakui BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level 5,75% dengan memanfaatkan berbagai instrumen stabilisasi moneter.
Namun, ia menilai kenaikan suku bunga lebih awal dapat membantu memperkuat kredibilitas kebijakan BI di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan nilai tukar.
Menurutnya, langkah pengetatan secara bertahap berpotensi mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga yang lebih besar apabila tekanan ekonomi semakin meningkat.
Keputusan tersebut tetap mengandung pertimbangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah, tetapi juga berpotensi memperbesar biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat.
Dengan median konsensus masih berada di 5,75%, pasar menunggu apakah BI akan mempertahankan kebijakan moneter atau mulai menaikkan suku bunga untuk merespons tekanan eksternal.
Keputusan Rapat Dewan Gubernur BI pada 20–21 Oktober 2026 akan menjadi penentu arah kebijakan jangka pendek, terutama terkait stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan respons terhadap arus modal asing.


