Emitenhub.com - Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dinilai masih memiliki ruang penguatan setelah mencatat lonjakan kinerja sepanjang semester I/2026.
RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dan menaikkan target harga saham BULL menjadi Rp800 dari sebelumnya Rp760 per saham.
Analis RHB Sekuritas Arandi Nugraha Pradana menyebut kenaikan target harga tersebut mencerminkan prospek pertumbuhan laba BULL yang masih kuat, ditopang tarif sewa kapal tanker yang melonjak serta penambahan armada baru.
Dalam riset yang terbit pada 9 September 2026, Arandi menaikkan proyeksi laba BULL untuk 2026 sebesar 33% setelah memperhitungkan kinerja semester I/2026 dan akuisisi empat kapal tanker baru.
"BULL membukukan laba bersih semester I-2026 sebesar USD58 juta, didorong oleh lonjakan tarif spot kapal tanker," tulis Arandi dalam riset tersebut.
Kinerja tersebut tercermin dari laba bersih BULL yang melesat 618,6% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi USD58 juta pada semester I/2026.
Capaian tersebut telah melampaui ekspektasi RHB Sekuritas, setara dengan 75% dari proyeksi setahun penuh, sekaligus berada di atas konsensus yang mencapai 79%.
Pendapatan BULL juga melonjak 84% yoy menjadi USD128,7 juta. Di sisi lain, beban pendapatan hanya meningkat 23,6% yoy, sehingga laba kotor tumbuh 243% yoy menjadi USD66,1 juta.
Kondisi tersebut mengerek margin laba kotor menjadi 51% pada semester I/2026, dibandingkan 28% pada periode sama tahun sebelumnya.
Margin laba bersih juga meningkat tajam menjadi 45%, dari 12% pada semester I/2025.
Penguatan kinerja terutama berasal dari pendapatan kapal yang dimiliki BULL, seiring tingginya tarif angkutan. Lebih dari 90% armada BULL dioperasikan dengan kontrak spot, sehingga perseroan relatif cepat menangkap kenaikan tarif tanker.
Pada kuartal II/2026 saja, laba bersih BULL mencapai USD44,2 juta atau melonjak 211% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq).
Pendapatan meningkat 92,9% qoq menjadi USD84,8 juta, sedangkan laba kotor melesat 157% qoq.
Margin laba bersih BULL pun mencapai 52% pada kuartal II/2026, sementara margin laba kotor mencapai 56%, naik dari 42% pada kuartal I/2026.
Selain pertumbuhan bisnis inti, BULL juga mencatat keuntungan sebesar USD2,59 juta dari akuisisi anak usaha Offshore Maritime Holdings (OMH), perusahaan berbasis Singapura yang diakuisisi pada Maret 2026.
Prospek BULL juga mendapat dukungan dari penambahan armada. Perseroan baru memperoleh empat kapal tanker medium range dengan nilai investasi sekitar USD100 juta, yang sekitar 80% dibiayai utang.
Keempat kapal tersebut diperkirakan mulai menghasilkan pendapatan pada semester II/2026, sehingga dapat membantu menjaga momentum pertumbuhan laba meski terdapat empat kapal BULL yang dijadwalkan menjalani docking pada periode yang sama.
RHB Sekuritas menilai tarif spot yang tinggi masih berpotensi menopang kinerja BULL pada paruh kedua 2026.
Hingga 8 September 2026, tarif spot tanker jenis dirty Aframax rute Rotterdam-Singapura rata-rata mencapai USD79.414 per hari secara year to date, melonjak 224% yoy.
RHB Sekuritas memperkirakan tarif efektif tanker BULL pada 2026 mencapai USD77.500 per hari, naik 62% yoy.
Menurut Arandi, BULL juga terlihat lebih cepat memonetisasi lonjakan tarif tanker dibandingkan sejumlah pemain tanker minyak dan gas (migas) di Indonesia.
Sebagian besar kapal tanker minyak BULL beroperasi di kawasan Mediterania, sehingga perseroan dapat lebih cepat menikmati kenaikan tarif spot terbaru.
Berdasarkan kinerja semester I/2026, BULL mencatat margin laba bersih dan return on equity (ROE) tertinggi di antara emiten tanker migas Indonesia, masing-masing sebesar 52% dan 27%.
Dari sisi valuasi, RHB Sekuritas menilai saham BULL masih menarik. Saham perseroan diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 3,7 kali berdasarkan estimasi 2026, atau sekitar 60% lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis.
Valuasi tersebut juga sekitar 17% di bawah rata-rata PER BULL selama tiga tahun terakhir berdasarkan proyeksi 2026.
RHB Sekuritas menilai valuasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan prospek pertumbuhan laba BULL, termasuk ekspansi ke bisnis kapal tanker liquefied natural gas (LNG).
Dengan mempertahankan rekomendasi beli, RHB Sekuritas menetapkan target harga BULL sebesar Rp800 per saham. Target tersebut memberikan potensi kenaikan sekitar 83% dari level harga saat riset diterbitkan.
Target harga tersebut juga telah memperhitungkan diskon environmental, social, and governance (ESG) sebesar 12%.
Lonjakan laba BULL yang ditopang tarif spot tanker dan strategi armada berkontrak spot menempatkan perseroan sebagai salah satu penerima manfaat tercepat dari kenaikan tarif angkutan. RHB menilai valuasinya masih tertinggal dari prospek pertumbuhan labanya, terutama dengan tambahan empat kapal baru yang mulai berkontribusi pada paruh kedua serta rencana ekspansi ke tanker LNG. Ke depan, keberlanjutan kinerja akan bergantung pada bertahannya tarif tanker di level tinggi, di tengah jadwal docking empat kapal dan volatilitas yang melekat pada bisnis pelayaran spot.


