Emitenhub.com - CNGR Advanced Material Co., Ltd., produsen material baterai asal China yang memiliki keterkaitan dengan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), dikabarkan tengah menjajaki akuisisi 80% saham PT Gunbuster Nickel Industry (GNI). Rencana tersebut berpotensi memperluas bisnis pengolahan nikel CNGR di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, transaksi berpeluang terlaksana setelah proses restrukturisasi utang GNI melalui pengadilan selesai pada awal 2027.
Namun, negosiasi masih berlangsung dan belum ada kepastian kesepakatan akan tercapai. Nilai transaksi maupun skema pendanaan akuisisi juga belum diungkapkan.
GNI merupakan perusahaan pengolahan nikel yang tengah menjalani restrukturisasi utang. Penyelesaian proses tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan kelanjutan pembicaraan akuisisi.
Jika terealisasi, transaksi ini akan menambah portofolio bisnis CNGR yang sebelumnya telah memiliki sejumlah investasi di industri pengolahan nikel dan material baterai Indonesia.
Jejak Ekspansi CNGR di Industri Nikel Indonesia
CNGR Advanced Material merupakan perusahaan asal China yang bergerak dalam produksi material baterai kendaraan listrik, termasuk prekursor, material katoda baterai litium, serta pengolahan bahan baku energi baru.
Perusahaan tersebut juga mengembangkan bisnis daur ulang baterai dan terlibat dalam rantai pasok nikel untuk kebutuhan industri baterai.
Didirikan pada September 2014, CNGR berkantor pusat di Yichang, Provinsi Hubei, China. Perusahaan ini mencatatkan sahamnya di papan ChiNext Bursa Efek Shenzhen pada 23 Desember 2020.
Dalam kegiatan bisnisnya, CNGR menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan industri baterai global, termasuk LG Chem, POSCO, SK On, L&F, CATL, dan Samsung.
Material berbasis fosfor yang dikembangkan perusahaan juga telah memperoleh sertifikasi dari sejumlah produsen baterai, antara lain BYD, CALB, Gotion, dan EVE.
Di Indonesia, CNGR telah mengembangkan investasi hilirisasi nikel melalui sejumlah perusahaan yang beroperasi di berbagai kawasan industri.
Di Morowali, Sulawesi Tengah, keterlibatan CNGR antara lain dilakukan melalui PT Zhongtsing New Energy dan PT CNGR Ding Xing New Energy.
Sementara itu, ekspansi di Morowali Utara dilakukan melalui PT Nadesico Nickel Industry. CNGR juga memiliki keterlibatan melalui PT Hengsheng New Energy Material Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Di kawasan Weda Bay, Maluku Utara, pengembangan bisnis perusahaan mencakup PT Debonair Nickel Indonesia dan PT Jade Bay Metal Industry.
Selain fasilitas pengolahan tersebut, CNGR merencanakan pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Kawasan tersebut dirancang untuk mendukung industri material energi baru dan pengembangan kegiatan hilirisasi yang terintegrasi.
CNGR juga pernah menjajaki kerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam untuk mengembangkan kawasan industri pengolahan bijih nikel.
Keberadaan CNGR di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa ekspansi perusahaan di Indonesia tidak hanya berfokus pada produksi bahan baku, tetapi juga mencakup pengembangan material untuk industri baterai.
Rencana akuisisi GNI berpotensi menjadi bagian dari perluasan jaringan tersebut. Meski demikian, pembelian 80% saham GNI masih sebatas pembicaraan dan belum menjadi transaksi yang mengikat.
Keterkaitan CNGR dengan PACK dan Haji Isam
Ekspansi CNGR di Indonesia turut berkaitan dengan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), emiten yang sebelumnya bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk.
Hubungan tersebut terjalin melalui PT Eco Energi Perkasa (EEP), perusahaan yang disebut sebagai anak usaha CNGR dan telah mengakuisisi PACK.
Melalui struktur kepemilikan tersebut, CNGR disebut memiliki pengendalian tidak langsung terhadap PACK.
Sebelum perubahan pengendalian, PACK menjalankan usaha di bidang kemasan. Setelah diakuisisi EEP, perusahaan mengalihkan fokus pengembangan bisnisnya ke industri logam dan nikel.
Meski memiliki hubungan kepemilikan dengan CNGR, belum terdapat informasi bahwa PACK akan terlibat secara langsung dalam rencana akuisisi GNI.
Belum diketahui pula apakah transaksi tersebut nantinya akan melibatkan pendanaan atau aset dari perusahaan tercatat tersebut.
Selain PACK, jaringan bisnis CNGR di Indonesia juga memiliki keterkaitan dengan pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Hubungan kerja sama keduanya mulai terlihat pada 2022 ketika kelompok usaha Jhonlin mengembangkan proyek pengolahan nikel di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Dalam pengembangan proyek tersebut, kelompok usaha Haji Isam bekerja sama dengan CNGR yang diwakili Deng Weiming.
Kolaborasi kemudian berlanjut melalui pembentukan PT Anugerah Barokah Energy Baru (ABEB), perusahaan patungan yang mengembangkan fasilitas produksi ternary precursor berbasis nikel untuk industri baterai litium.
Fasilitas tersebut berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Setangga, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Pabrik prekursor hasil kerja sama tersebut mulai beroperasi secara resmi pada Januari 2026.
Pengembangan ABEB memperlihatkan keterlibatan CNGR bersama kelompok usaha Haji Isam dalam industri bahan baku baterai, sekaligus memperluas jaringan investasi perusahaan asal China tersebut di Indonesia.
Di tengah ekspansi tersebut, pembicaraan mengenai pengambilalihan 80% saham GNI menjadi perkembangan yang perlu dicermati, khususnya terkait penyelesaian restrukturisasi utang dan kepastian pihak yang akan melakukan transaksi.
Hingga kini, belum terdapat kesepakatan resmi maupun informasi yang menunjukkan bahwa PACK akan menjadi pihak dalam akuisisi tersebut. Karena itu, potensi dampaknya terhadap bisnis dan keuangan PACK belum dapat dipastikan.


