Investasi

Rasio Keuangan Saham: PER, PBV, ROE, DER dan Rentang Sehatnya

10 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Rasio keuangan saham PER PBV ROE DER untuk analisis fundamental

Rasio keuangan saham PER PBV ROE DER untuk analisis fundamental (Foto:IHSG)

Angka mentah di laporan keuangan sulit dibandingkan langsung. Emiten yang mencetak laba 1 triliun rupiah belum tentu lebih baik daripada yang mencetak 100 miliar rupiah, karena ukuran dan modalnya berbeda. Rasio keuangan mengubah angka rupiah itu menjadi ukuran yang bisa disandingkan secara adil.

Pilar ini merangkum seluruh rasio inti yang perlu Anda kuasai untuk menilai saham, yaitu PER, PBV, ROE, ROA, DER, dan current ratio. Di setiap bagian, Anda juga akan tahu kapan rasio tersebut bisa menipu, karena satu angka rasio tanpa konteks kerap menyesatkan. Jika Anda belum terbiasa membaca laporan keuangan, mulailah dari artikel pilar Cara Membaca Laporan Keuangan Emiten untuk Pemula lebih dulu.

Data Contoh: PT Sumber Makmur Tbk

Seluruh perhitungan di artikel ini memakai satu set angka ilustrasi berikut:

•    Harga saham: Rp2.000 per lembar

•    Jumlah saham beredar: 6,4 miliar lembar

•    Laba bersih: Rp1.280 miliar (EPS Rp200 per saham)

•    Total ekuitas: Rp6.000 miliar

•    Total aset: Rp12.000 miliar, total liabilitas: Rp6.000 miliar

•    Aset lancar: Rp4.500 miliar, liabilitas jangka pendek: Rp3.000 miliar

 

Kenapa Rasio Keuangan Penting untuk Menilai Saham

Rasio menjalankan dua tugas. Tugas pertama adalah menilai valuasi, yaitu menjawab apakah harga sebuah saham masih masuk akal terhadap kinerja perusahaannya. Tugas kedua adalah menilai kualitas bisnis, yaitu seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dan seberapa besar risiko utangnya.

Satu hal yang sering dilupakan pemula: rasio hanya bermakna dalam perbandingan. Angka PER 10 kali tidak berarti apa-apa bila berdiri sendiri. Anda perlu membandingkannya dengan PER perusahaan itu sendiri di masa lalu, dan dengan PER emiten lain di sektor yang sama. Tanpa pembanding, rasio hanyalah angka kosong.

Rasio inti terbagi menjadi tiga kelompok. Rasio valuasi seperti PER dan PBV menilai apakah harga saham wajar. Rasio profitabilitas seperti ROE dan ROA menilai seberapa baik perusahaan menghasilkan laba. Rasio risiko seperti DER dan current ratio menilai ketahanan keuangan. Analisis yang matang membaca ketiga kelompok ini bersama, bukan memilih satu dan mengabaikan sisanya.

Contoh sederhana menegaskan gunanya. Bayangkan dua emiten. Emiten pertama mencetak laba Rp5 triliun dengan modal Rp50 triliun. Emiten kedua mencetak laba Rp500 miliar dengan modal Rp2 triliun. Secara nominal, emiten pertama tampak jauh lebih hebat. Namun ROE-nya hanya 10 persen, kalah dari emiten kedua yang mencapai 25 persen. Tanpa rasio, Anda akan tertipu oleh ukuran dan melewatkan bisnis yang sebenarnya lebih efisien.

Rasio Valuasi: PER dan PBV

Price to Earnings Ratio (PER) mengukur berapa kali harga saham dibanding laba per sahamnya. Rumusnya adalah harga saham dibagi laba per saham (EPS). Pada PT Sumber Makmur, PER = Rp2.000 dibagi Rp200 = 10 kali. Angka ini bisa dibaca sebagai berapa rupiah yang Anda bayar untuk setiap satu rupiah laba tahunan perusahaan. PER 10 kali juga berarti, bila laba stabil, harga saham setara dengan sepuluh tahun laba.

PER rendah tampak menggoda karena terkesan murah. Namun harga yang murah kadang mencerminkan masalah, misalnya laba yang sedang menurun atau bisnis yang ditinggalkan pasar. Sebaliknya, PER tinggi belum tentu mahal bila perusahaan tumbuh cepat. Anda perlu memasangkan PER dengan prospek pertumbuhan, bukan menilainya sendirian. Emiten yang labanya tumbuh 30 persen per tahun pantas dihargai PER lebih tinggi daripada emiten yang labanya stagnan.

Ada cara pandang lain yang membantu. Kebalikan dari PER disebut earnings yield, yaitu laba per saham dibagi harga. PER 10 kali setara earnings yield 10 persen, sedangkan PER 20 kali setara 5 persen. Membacanya sebagai imbal hasil memudahkan Anda membandingkan saham dengan instrumen lain, misalnya bunga deposito atau imbal hasil obligasi negara, untuk menilai apakah risikonya sepadan.

Price to Book Value (PBV) membandingkan harga saham dengan nilai bukunya, yaitu ekuitas per saham. Rumusnya harga saham dibagi nilai buku per saham. Nilai buku PT Sumber Makmur = Rp6.000 miliar dibagi 6,4 miliar lembar = sekitar Rp938 per saham, sehingga PBV = Rp2.000 dibagi Rp938 = 2,1 kali. PBV di bawah 1 menandakan pasar menghargai saham di bawah nilai bukunya, yang bisa berarti murah atau bisa berarti pasar meragukan kualitas asetnya. PBV berguna terutama untuk sektor yang padat aset seperti perbankan dan properti. Untuk perusahaan yang asetnya sedikit tetapi labanya besar, seperti banyak emiten teknologi, PBV cenderung tinggi secara alami dan kurang relevan dipakai sebagai patokan mahal atau murah.

Rasio Profitabilitas: ROE dan ROA

Return on Equity (ROE) mengukur seberapa besar laba yang dihasilkan dari modal pemegang saham. Rumusnya laba bersih dibagi ekuitas. Pada contoh, ROE = Rp1.280 miliar dibagi Rp6.000 miliar = 21,3 persen. Artinya, setiap Rp100 modal pemilik menghasilkan Rp21,3 laba per tahun. ROE di atas 15 persen umumnya dipandang kuat untuk kebanyakan sektor.

Return on Assets (ROA) mengukur efisiensi perusahaan memakai seluruh asetnya, bukan hanya modal pemilik. Rumusnya laba bersih dibagi total aset. ROA PT Sumber Makmur = Rp1.280 miliar dibagi Rp12.000 miliar = 10,7 persen. Karena ROA memperhitungkan aset yang dibiayai utang, angka ini menunjukkan seberapa produktif perusahaan mengelola apa yang dimilikinya.

Bandingkan ROE dan ROA berdampingan. Jarak yang lebar antara keduanya, seperti ROE 21 persen berhadapan dengan ROA 11 persen, menandakan perusahaan memakai cukup banyak utang untuk mengungkit laba pemegang saham. Ungkitan ini menaikkan ROE saat bisnis lancar, tetapi memperbesar kerugian saat penjualan melemah. ROE tinggi yang lahir dari utang berbeda kualitasnya dari ROE tinggi yang lahir dari efisiensi operasi.

ROE sebenarnya digerakkan oleh tiga faktor: margin laba bersih, perputaran aset, dan tingkat ungkitan utang. Perusahaan bisa mencapai ROE 20 persen lewat margin tebal, lewat perputaran aset yang cepat, atau lewat utang yang besar. Menelusuri dari mana ROE berasal membantu Anda menilai apakah return itu berkelanjutan atau rapuh.

Rasio Solvabilitas: DER

Debt to Equity Ratio (DER) mengukur seberapa besar perusahaan bersandar pada utang dibanding modal sendiri. Rumusnya total liabilitas dibagi ekuitas. DER PT Sumber Makmur = Rp6.000 miliar dibagi Rp6.000 miliar = 1 kali, yang berarti utang dan modalnya seimbang.

DER yang lebih tinggi membawa risiko lebih besar, karena beban bunga menggerus laba dan kewajiban jatuh tempo menekan kas. Meski begitu, batas wajarnya berbeda jauh antarsektor. Bank beroperasi dengan DER yang secara alami tinggi karena bisnisnya memang menghimpun dan menyalurkan dana. Perusahaan barang konsumsi seperti ICBP biasanya menjaga DER rendah. Karena itu, DER 3 kali bisa normal bagi bank tetapi mengkhawatirkan bagi produsen makanan.

Untuk melengkapi gambaran, periksa kemampuan perusahaan membayar bunga lewat rasio interest coverage, yaitu laba usaha dibagi beban bunga. Bila PT Sumber Makmur mencatat laba usaha Rp2.000 miliar dan beban bunga Rp400 miliar, coverage-nya = 5 kali, artinya laba operasinya lima kali lebih besar dari beban bunga. Angka di atas 3 kali umumnya menandakan utang masih terkendali. Utang besar tetap aman selama perusahaan sanggup membayar bunganya dari laba operasi.

Rasio Likuiditas: Current Ratio

Current ratio mengukur kemampuan perusahaan menutup kewajiban jangka pendek dengan aset lancarnya. Rumusnya aset lancar dibagi liabilitas jangka pendek. Pada contoh, current ratio = Rp4.500 miliar dibagi Rp3.000 miliar = 1,5 kali.

Nilai di atas 1 menunjukkan aset lancar cukup untuk membayar utang yang jatuh tempo dalam setahun. Rentang 1,5 sampai 3 kali umumnya dianggap sehat. Namun current ratio yang terlalu tinggi, misalnya di atas 4 kali, kadang menandakan perusahaan menahan terlalu banyak kas menganggur atau persediaan yang tidak berputar. Angka yang sehat berarti seimbang, bukan sekadar besar.

Untuk ukuran yang lebih ketat, sebagian analis memakai quick ratio, yaitu aset lancar dikurangi persediaan lalu dibagi liabilitas jangka pendek. Rasio ini membuang persediaan karena barang belum tentu cepat terjual, sehingga menggambarkan likuiditas yang lebih konservatif. Perbedaan besar antara current ratio dan quick ratio menandakan sebagian besar aset lancar perusahaan tertahan di persediaan.

Cara Membandingkan Rasio Antar-emiten dalam Satu Sektor

Aturan pertama dan terpenting: bandingkan hanya emiten di sektor yang sama. Setiap sektor punya karakter neraca dan margin yang berbeda, sehingga membandingkan bank dengan perusahaan teknologi lewat DER atau PBV akan menyesatkan. DER 5 kali wajar bagi bank, tetapi menjadi lampu merah bagi produsen consumer goods.

Setelah menyaring berdasarkan sektor, lakukan tiga pembandingan. Pertama, bandingkan rasio emiten dengan median sektornya untuk melihat posisinya relatif terhadap pesaing. Kedua, bandingkan dengan rasio emiten itu sendiri selama beberapa tahun untuk melihat arah pergerakannya. Ketiga, pastikan periode datanya sama, misalnya sama-sama data setahun penuh, agar tidak membandingkan kuartal dengan tahun.

Sebagai gambaran, bandingkan dua produsen barang konsumsi ilustratif di sektor yang sama:

Rasio

PT Sumber Makmur

PT Boga Sejahtera

PER

10 kali

14 kali

PBV

2,1 kali

3,0 kali

ROE

21 persen

24 persen

DER

1,0 kali

0,6 kali

 

Boga Sejahtera dihargai lebih mahal, terlihat dari PER dan PBV yang lebih tinggi. Namun ia juga menghasilkan ROE lebih besar dengan utang yang lebih rendah. Premium harganya sebagian dibenarkan oleh kualitas yang lebih baik. Sumber Makmur lebih murah, tetapi bersandar pada utang yang lebih besar untuk mencapai ROE yang sedikit di bawah pesaingnya. Perbandingan seperti inilah yang mengubah rasio dari angka menjadi keputusan, bukan sekadar melihat siapa yang PER-nya paling rendah.

Jebakan Umum saat Membaca Rasio

Beberapa kekeliruan berikut sering membuat pemula salah menyimpulkan:

•    PER murah yang menipu. PER rendah bisa muncul karena laba melonjak akibat pos sekali jadi, seperti penjualan aset. Begitu efek itu hilang, PER melompat naik. Value trap semacam ini terlihat murah padahal bisnisnya sedang menurun.

•    ROE tinggi karena utang. Utang besar bisa mengangkat ROE tanpa perbaikan efisiensi. Selalu cek ROA dan DER bersama ROE untuk memastikan sumber returnnya sehat.

•    Menilai dari satu periode. Rasio satu kuartal atau satu tahun mudah terdistorsi peristiwa musiman atau kejadian luar biasa. Lihat tren tiga sampai lima tahun.

•    Membandingkan lintas sektor. Rasio yang normal di satu industri bisa ekstrem di industri lain. Perbandingan hanya sah dalam sektor yang sejenis.

•    Laba negatif membuat rasio tak bermakna. Saat laba minus, PER dan ROE kehilangan arti. Untuk perusahaan rugi, gunakan ukuran lain seperti PBV atau rasio harga terhadap penjualan.

•    Nilai buku yang usang. Aset di neraca dicatat pada nilai historis, sehingga nilai buku bisa jauh dari nilai pasar sebenarnya. PBV rendah tidak otomatis berarti murah.

Tabel Rangkuman Rasio dan Rentang Sehatnya

Berikut rangkuman keenam rasio inti beserta rentang sehat yang umum dipakai. Perlakukan rentang ini sebagai patokan awal, karena angka wajar sangat bergantung pada sektor:

Rasio

Rumus singkat

Yang diukur

Rentang sehat (umum)

PER

Harga / EPS

Valuasi terhadap laba

10 sampai 20 kali

PBV

Harga / nilai buku

Valuasi terhadap ekuitas

1 sampai 3 kali

ROE

Laba bersih / ekuitas

Return atas modal pemilik

Di atas 15 persen

ROA

Laba bersih / total aset

Efisiensi seluruh aset

Di atas 5 sampai 10 persen

DER

Total liabilitas / ekuitas

Ketergantungan pada utang

Di bawah 1 sampai 2 kali

Current Ratio

Aset lancar / liabilitas pendek

Likuiditas jangka pendek

1,5 sampai 3 kali

 

Simpan tabel ini di dekat Anda saat menganalisis emiten. Rasio bekerja paling baik sebagai satu paket. PER dan PBV menunjukkan harga, ROE dan ROA menunjukkan kualitas, sedangkan DER dan current ratio menunjukkan risiko. Membaca keenamnya bersama-sama memberi gambaran yang jauh lebih jujur daripada bergantung pada satu angka.

Perlu diingat, rasio bukan segalanya. Angka-angka ini hanya merekam masa lalu dan tidak menjelaskan kualitas manajemen, kekuatan merek, atau prospek industri ke depan. Perlakukan rasio sebagai penyaring awal, lalu perdalam dengan membaca laporan tahunan, strategi bisnis, dan kondisi sektornya sebelum mengambil keputusan. Dua emiten dengan rasio serupa bisa berujung sangat berbeda karena faktor kualitatif yang tidak tertangkap oleh angka.

Untuk melatih semua ini, terapkan rutinitas sederhana. Ambil satu emiten, hitung keenam rasionya dari laporan keuangan terbaru, lalu bandingkan dengan dua atau tiga pesaing di sektor yang sama. Setelah itu, telusuri tren tiap rasio selama tiga tahun terakhir untuk melihat arah pergerakannya. Latihan rutin inilah yang perlahan mengasah insting Anda dalam menilai saham.

Langkah berikutnya adalah mengambil laporan keuangan emiten yang Anda minati dan menghitung sendiri keenam rasio ini, lalu membandingkannya dengan pesaing di sektor yang sama. Untuk dasar membaca laporannya, kembali ke artikel pilar Cara Membaca Laporan Keuangan Emiten untuk Pemula

. Untuk memahami hubungan antar-laporan yang menjadi bahan baku rasio ini, baca Mengenal 3 Laporan Keuangan Utama: Neraca, Laba Rugi, Arus Kas.

Iklan