Emitenhub.com - Potensi arus modal asing keluar dari pasar saham Indonesia diperkirakan mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun apabila MSCI menghapus saham Indonesia dari indeks acuannya. Goldman Sachs memperingatkan bahwa skenario tersebut dapat meningkatkan tekanan jual di tengah ketidakpastian mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia.
Dalam riset yang dikutip Senin (19/10/2026), Goldman Sachs memperkirakan nilai dana yang berisiko keluar tersebut setara dengan rata-rata volume perdagangan harian selama 18 hari pada saham-saham yang tergabung dalam MSCI Indonesia Investable Market Index.
Perhitungan tersebut menggambarkan besarnya potensi tekanan terhadap likuiditas pasar apabila investor yang mengikuti indeks MSCI harus menyesuaikan portofolio mereka.
Namun, angka US$5,6 miliar merupakan estimasi berdasarkan skenario penghapusan Indonesia dari indeks, bukan arus dana keluar yang telah terealisasi.
Goldman Sachs Soroti Potensi Dana Keluar hingga US$8,3 Miliar
Risiko terhadap pasar saham domestik dinilai dapat bertambah apabila penyedia indeks global lainnya, FTSE, mengambil langkah serupa terhadap saham Indonesia.
Analis Goldman Sachs, termasuk Alvin So dan Timothy Moe, memperkirakan keputusan serupa dari FTSE dapat memicu tambahan arus dana keluar sekitar US$2,7 miliar.
Jika kedua skenario tersebut terjadi, total potensi arus dana keluar yang diperkirakan mencapai US$8,3 miliar.
Meski demikian, realisasi dana keluar akan bergantung pada keputusan masing-masing penyedia indeks serta penyesuaian portofolio investor yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan.
Goldman Sachs juga menyoroti keberadaan dana investasi aktif yang menjadikan indeks MSCI dan FTSE sebagai tolok ukur kinerja.
Menurut perhitungan mereka, dana investasi aktif yang menggunakan indeks-indeks tersebut memiliki aset tambahan lebih dari US$8 miliar.
Namun, berbeda dengan dana investasi pasif yang mengikuti komposisi indeks, manajer investasi aktif memiliki keleluasaan dalam menentukan kepemilikan saham.
Dengan demikian, perubahan status Indonesia dalam indeks global tidak otomatis membuat seluruh dana investasi aktif tersebut keluar dari pasar saham domestik.
Goldman Sachs menjelaskan bahwa keputusan penjualan saham oleh pengelola dana aktif akan bersifat diskresioner, sehingga bergantung pada pertimbangan investasi masing-masing manajer portofolio.
Valuasi MSCI Indonesia Turun ke 7,3 Kali, Terendah sejak Krisis Global
Di tengah risiko perubahan klasifikasi indeks, Goldman Sachs mencatat valuasi saham Indonesia telah mengalami penurunan signifikan.
Rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (P/E) berdasarkan estimasi laba 12 bulan mendatang untuk MSCI Indonesia turun menjadi 7,3 kali.
Level tersebut merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global 2008.
Meski valuasinya sudah mengalami penurunan, Goldman Sachs menilai kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa harga saham Indonesia telah mencapai titik terendah.
Sebagai perbandingan, rasio P/E MSCI Indonesia pernah turun hingga 5,1 kali selama krisis keuangan global dan mencapai 3,9 kali pada 2001.
Artinya, valuasi saat ini masih berada di atas titik terendah yang pernah tercatat pada kedua periode tersebut.
Perbandingan historis tersebut menjadi salah satu dasar penilaian Goldman Sachs bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi potensi penyesuaian valuasi lebih lanjut.
Namun, rasio P/E yang rendah tidak secara otomatis menunjukkan bahwa harga saham akan kembali turun hingga menyentuh level pada krisis sebelumnya.
Pergerakan valuasi tetap bergantung pada perkembangan laba perusahaan, kondisi makroekonomi, aliran dana investor, serta sentimen terhadap pasar modal Indonesia.
Risiko MSCI dan FTSE Jadi Perhatian Investor Asing
Proyeksi Goldman Sachs memperlihatkan bahwa potensi perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks global memiliki implikasi terhadap arus modal dan likuiditas pasar saham.
Investor pasif yang mengikuti indeks berpotensi melakukan penyesuaian portofolio apabila saham Indonesia dikeluarkan dari indeks acuan mereka.
Sementara itu, investor aktif dapat mempertimbangkan keputusan serupa, tetapi tidak memiliki kewajiban otomatis untuk melepas seluruh kepemilikan saham Indonesia.
Perbedaan karakteristik kedua kelompok investor tersebut menjadi penting dalam menilai besarnya tekanan jual yang mungkin terjadi.
Dalam skenario Goldman Sachs, risiko dana keluar US$5,6 miliar dari MSCI dan tambahan US$2,7 miliar dari FTSE merupakan estimasi yang bergantung pada keputusan penyedia indeks global.
Dengan valuasi MSCI Indonesia berada pada 7,3 kali proyeksi laba, perkembangan kebijakan indeks dan respons investor asing menjadi faktor yang perlu dicermati. Perubahan klasifikasi maupun penyesuaian portofolio yang terjadi nantinya akan menentukan seberapa besar risiko tersebut benar-benar berdampak terhadap perdagangan saham Indonesia.
Goldman Sachs mempertahankan rekomendasi underweight terhadap pasar saham Indonesia di tengah ketidakpastian mengenai status Indonesia dalam indeks MSCI. Bank investasi tersebut menilai tekanan terhadap pasar berpotensi berlangsung lebih lama akibat kombinasi risiko reklasifikasi indeks, pertumbuhan laba emiten yang lemah, dan tantangan makroekonomi.
Dalam laporan riset yang dikutip Senin (19/10/2026), Goldman Sachs memperkirakan sejumlah faktor tersebut dapat membatasi pemulihan valuasi saham Indonesia secara berkelanjutan.
Pandangan underweight menunjukkan bahwa Goldman Sachs memilih memberikan bobot investasi pada saham Indonesia lebih rendah dibandingkan bobotnya dalam indeks acuan yang digunakan.
Penilaian tersebut sejalan dengan proyeksi Goldman Sachs mengenai potensi arus dana keluar sebesar US$5,6 miliar apabila Indonesia dihapus dari indeks MSCI. Risiko tambahan sebesar US$2,7 miliar juga diperkirakan muncul jika FTSE mengambil langkah serupa.
Goldman Sachs Soroti Risiko Tekanan Pasar Selama Dua hingga Tiga Bulan
Goldman Sachs mencermati pengalaman sejumlah negara berkembang yang sebelumnya menghadapi penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI.
Dalam beberapa kasus tersebut, kinerja pasar saham negara terkait cenderung tertinggal dibandingkan indeks acuan yang lebih luas selama dua hingga tiga bulan setelah pengumuman konsultasi awal.
Tekanan kemudian berangsur stabil, meskipun pola historis tersebut tidak menjamin pasar saham Indonesia akan mengalami perkembangan serupa.
Goldman Sachs menilai ketidakpastian status indeks dapat terus memengaruhi sentimen investor, terutama ketika pasar juga menghadapi tantangan pertumbuhan laba perusahaan dan kondisi makroekonomi.
Kekhawatiran tersebut muncul saat valuasi MSCI Indonesia berdasarkan proyeksi laba 12 bulan mendatang telah turun menjadi 7,3 kali, level terendah sejak krisis keuangan global.
Namun, Goldman Sachs belum melihat rendahnya valuasi tersebut sebagai kepastian bahwa harga saham Indonesia telah mencapai titik terendah.
Mirae Asset dan Citigroup Juga Perkirakan Risiko Dana Asing Keluar
Selain Goldman Sachs, sejumlah lembaga keuangan global dan domestik telah menghitung potensi arus modal keluar apabila MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebelumnya memperkirakan potensi dana keluar dari investasi pasif mencapai sekitar US$3 miliar dalam skenario tersebut.
Sementara itu, Citigroup memperkirakan potensi arus dana keluar berada pada kisaran beberapa miliar dolar AS, dengan estimasi pada kelompok satu digit menengah.
Perbedaan besaran proyeksi mencerminkan penggunaan asumsi dan cakupan dana investasi yang tidak selalu sama di antara lembaga riset.
Estimasi Goldman Sachs sebesar US$5,6 miliar berfokus pada skenario penghapusan Indonesia dari indeks MSCI, sedangkan tambahan US$2,7 miliar memperhitungkan kemungkinan FTSE melakukan penyesuaian serupa.
Karena itu, proyeksi ketiga lembaga tersebut tidak dapat langsung dijumlahkan sebagai satu angka potensi dana keluar.
Seluruh estimasi juga masih bersifat skenario, bukan realisasi penjualan saham oleh investor asing maupun keputusan final penyedia indeks.
Bagi investor, perkembangan konsultasi MSCI, kebijakan reformasi pasar modal Indonesia, serta respons pengelola dana global akan menjadi faktor penting dalam menilai risiko tekanan lanjutan terhadap saham domestik.


