Emitenhub.com - Emiten jasa investasi milik keluarga Soeryadjaya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), membukukan rugi bersih Rp3,87 triliun sepanjang semester I/2026. Hasil ini berbalik tajam dari laba Rp102,01 miliar pada periode sama tahun lalu, dipicu kerugian investasi yang membengkak kendati sebagian portofolionya justru tumbuh.
Sumber tekanannya ada di pos investasi. SRTG mencatat kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya Rp4,83 triliun sepanjang paruh pertama, memburuk 165,6 persen secara tahunan dari Rp1,82 triliun pada semester I/2025.
Ironisnya, pendapatan rutin perseroan justru menguat. Penghasilan dividen dan bunga hingga Juni 2026 mencapai Rp1,69 triliun, naik 31,51 persen secara tahunan. Namun penghasilan lain-lain menyusut tipis ke Rp2,12 miliar dari Rp2,50 miliar. Kombinasi itu tak cukup menahan beban kerugian investasi, sehingga rugi yang diatribusikan ke pemilik entitas induk tetap bertengger di Rp3,87 triliun.
Di tengah tekanan ini, pengelolaan portofolio menjadi semakin krusial. Head of Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi menyatakan perseroan tetap berpegang pada strategi investasi jangka panjang.
"Fokus utama kami berpusat pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (6/10/2026).
Strategi itu, menurut Mellisa, ditempuh lewat optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio.
Perseroan juga terus memburu peluang investasi di sektor berfundamental kuat dengan prospek panjang, di antaranya layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan konsumer. Sebagai holding investasi dengan portofolio terdiversifikasi, SRTG menyandarkan kinerjanya pada fundamental dan pertumbuhan jangka panjang seluruh lini investasinya.
Strategi di tengah tekanan
Setiap aktivitas investasi dan divestasi, menurut perseroan, berpijak pada strategi jangka panjang yang terukur. Mellisa menegaskan SRTG masih mengantongi sumber pendanaan untuk mengeksekusinya.
"Saratoga memiliki sumber pendanaan kas dan fasilitas pinjaman bank yang memadai untuk mengeksekusi strategi investasi perusahaan. Kami senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan fokus pada valuasi yang atraktif," ujar Mellisa.
Kontras dengan rugi di laporan induknya, sejumlah emiten dalam portofolio SRTG justru mencetak kinerja operasional yang menguat. Salah satunya PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yang membukukan pendapatan usaha US$999 juta hingga semester I/2026, naik 16 persen secara tahunan.
Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti menyebut pertumbuhan itu salah satunya ditopang kenaikan harga batu bara metalurgi. Perseroan menyiapkan belanja modal US$400 juta sampai US$420 juta sepanjang 2026 untuk menopang ekspansi.
"Hingga akhir tahun ini, fokus perseroan tetap memantau dinamika pasar dan harga komoditas sembari mempertahankan disiplin biaya," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (6/10/2026).
Analis Phintraco Sekuritas Vinna N Rachmawati merinci pertumbuhan pendapatan ADRO terutama berasal dari penjualan produk pertambangan yang naik 31,4 persen menjadi US$580 juta, menyumbang 58,1 persen dari total pendapatan. Profitabilitasnya ikut menguat: laba kotor naik 48,7 persen ke US$422,7 juta dengan margin 42,3 persen, dan laba operasional melonjak 87,8 persen ke US$381,8 juta.
Di level laba bersih, ADRO mencatat US$309,4 juta, melonjak 76,8 persen secara tahunan atau sekitar 54 persen dari estimasi laba setahun penuh. Capaian ini ditopang harga jual rata-rata yang naik 24 persen secara tahunan ke US$185,9 per ton.
Momentum pertumbuhan juga mengalir ke lini Adaro lainnya. Anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), diproyeksikan menyumbang laba bersih hingga US$804,23 juta pada 2026. Sementara PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) memasuki fase pertumbuhan baru dengan target mengoperasikan smelter aluminium fase pertama berkapasitas 500.000 ton pada akhir 2026.
Penguatan serupa terlihat di sektor logam. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), portofolio Saratoga lainnya, membukukan pendapatan US$1,4 miliar pada semester I/2026, tumbuh 64,1 persen secara tahunan. EBITDA-nya meroket 190,7 persen ke US$512 juta, dan laba bersih berbalik positif ke US$102 juta dari rugi US$16 juta setahun sebelumnya.
Di sinilah paradoks SRTG mengemuka: induknya mencatat rugi triliunan akibat penurunan nilai wajar portofolio, sementara emiten-emiten di dalamnya justru mencetak laba yang menguat. Jurang antara rugi di atas kertas dan kinerja operasional riil portofolio inilah yang akan jadi perhatian investor dalam menilai arah SRTG ke depan.
Perbaikan kinerja MDKA turut ditopang Pani Gold Project, yang mulai memproduksi emas sejak Februari 2026. Sepanjang semester I/2026, proyek itu mencatat penjualan 6.955 ons emas pada harga jual rata-rata US$4.437 per ons.
KB Valbury Sekuritas memperkirakan kontribusi Pani kian besar seiring naiknya produksi, volume penjualan, dan tingkat recovery, dengan proyeksi produksi emas 2026 dinaikkan menjadi 52.000 ons. Analis KB Valbury Ashalia Fitri Yuliana pun mempertahankan rekomendasi beli untuk MDKA dan menaikkan target harga ke Rp3.300 per saham dari sebelumnya Rp3.100.
KB Valbury juga mengerek asumsi harga tembaga ke US$13.300 per ton. Dengan asumsi itu, pendapatan MDKA 2026 diproyeksikan US$3,15 miliar, EBITDA US$1,12 miliar, dan laba bersih US$221 juta.
Di luar komoditas, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) ikut menyumbang kinerja positif dengan pendapatan Rp3.460 miliar pada semester I/2026. Capaian itu ditopang pertumbuhan organik lewat penambahan penyewaan di jaringan menara telekomunikasinya.
Kinerja moncer emiten portofolio
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai katalis utama SRTG justru lebih banyak datang dari rerating nilai portofolio dan realisasi investasi, bukan dari pertumbuhan laba SRTG secara standalone. Menurutnya, aset inti seperti MDKA, AADI, ADRO, dan TBIG masih menjadi penopang utama portofolio. Adapun lini pertumbuhannya mencakup PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).
Pandangan Nafan ini menutup lingkaran argumen artikel: rugi standalone SRTG di semester I bukan ukuran yang paling relevan untuk menilai perusahaan induk investasi. Yang akan menentukan arahnya adalah seberapa jauh nilai portofolio terevaluasi naik kembali dan kapan hasil investasinya direalisasikan, dua hal yang justru ditopang kinerja operasional emiten-emiten di dalamnya.


