Emitenhub.com - Indonesia diproyeksikan menjadi motor utama ekspansi smelter aluminium global di luar China. Negara ini diperkirakan menyumbang sekitar 66 persen dari tambahan kapasitas baru pada 2026 sampai 2027.
Sepanjang periode itu, tambahan kapasitas smelter aluminium dari Indonesia ditaksir mencapai 3,5 juta metrik ton (mt). Total tambahan di luar China diperkirakan 5,34 juta mt.
Riset Shanghai Metals Market (SMM) mencatat sekitar 1,48 juta mt tambahan kapasitas sudah beroperasi pada 2026. Sekitar 420.000 mt lainnya diperkirakan menyusul pada kuartal IV-2026. Untuk 2027, tambahan kapasitas produksi di Indonesia diproyeksikan naik menjadi sekitar 2,25 juta mt.
"Indonesia tetap menjadi pusat utama commissioning kapasitas baru, dengan sekitar 3,5 juta ton kapasitas yang diusulkan untuk mulai beroperasi pada 2026 sampai 2027. Angka tersebut setara dengan 66 persen dari total tambahan kapasitas di luar China yang diperkirakan mencapai 5,34 juta ton," tulis SMM dalam risetnya yang dipublikasikan Selasa (29/9/2026).
Ekspansi kapasitas aluminium primer global terus bergulir di banyak negara, dengan Indonesia sebagai porosnya.
Enam proyek baru dorong usulan kapasitas
Sejak awal Juli, enam proyek anyar menambah usulan kapasitas 2,66 juta ton. Akumulasinya membuat total kapasitas proyek yang diusulkan menyentuh 23,5 juta ton. SMM mengingatkan mayoritas proyek baru ini masih di tahap awal, sehingga peluang realisasinya belum pasti.
Sebagian proyek yang semula dijadwalkan beroperasi pada 2026 sampai 2027 justru tersendat. Penyebabnya pembangunan yang lebih lambat dari perkiraan dan sejumlah faktor lain. Kondisi ini memaksa SMM merevisi turun proyeksi tambahan kapasitas yang beroperasi pada 2026, dari 2,4 juta mt menjadi sekitar 1,9 juta mt.
Sebagian kapasitas yang tertunda bergeser dari 2026 ke 2027, sementara sebagian proyek 2027 berpotensi mundur ke 2028. "Secara keseluruhan, proyeksi commissioning pada 2027 relatif stabil, hanya turun 0,12 juta mt dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya, dan saat ini berada di sekitar 3,435 juta mt," tulis SMM.
Rantai pasok dari bauksit hingga smelter
Di sisi hulu, data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida menunjukkan kapasitas pabrik pengolahan alumina saat ini 9 juta mt per tahun. Pabrik sebesar itu melahap sekitar 33 sampai 36 juta mt bauksit setiap tahun.
Ada 16 pabrik pengolahan yang beroperasi maupun masih direncanakan, dengan sasaran kapasitas 27,3 juta mt. Jika seluruhnya aktif, kebutuhan bijih bauksit bisa melonjak ke 95 sampai 105 juta mt per tahun.
Untuk aluminium, empat smelter yang sudah beroperasi memproduksi 1,1 juta mt dari total kapasitas 1,98 juta mt. Smelter ini menyerap sekitar 2,2 juta mt alumina per tahun.
Pabrik pengolahan alumina yang telah beroperasi antara lain Well Harvest Winning (Hongqiao) 2 juta mt, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) 300.000 mt, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) 1 juta mt dengan potensi 2 juta mt. Menyusul PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) 4 juta mt, serta PT Borneo Alumindo Prima (BAP, Jinjing Group) 1,75 juta mt yang berpeluang diperluas hingga 6 juta mt.
Di sisi smelter aluminium, Inalum memproduksi 250.000 mt dengan potensi 600.000 mt. Huachin Aluminium Indonesia berkapasitas 500.000 mt (potensi 1 juta mt), Alamtri (Adaro) Kaltara 100.000 mt dengan rencana naik ke 500.000 mt dan potensi 1,5 juta mt, serta Tsingshan JV Xinfa Juwan 250.000 mt.
Sejumlah proyek dijadwalkan menyusul pada 2026. Di antaranya Tsingshan JV Xinfa Taijing 180.000 mt (potensi 600.000 mt), Tsingshan JV Xinfa Xianfeng 50.000 mt (potensi 250.000 mt), dan PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) 250.000 mt.
Daftar rencana tambahan kapasitas smelter aluminium (kompilasi SMM)
2026:
PT Kemajuan Aluminium Industry: 130.000 mt
PT Kalimantan Aluminium Industry: 480.000 mt
IMIP-Taijing Aluminium dan Taiyun Aluminium: 600.000 mt
Weda Bay Aluminium dan Xinghui Aluminium: 50.000 mt
2027:
PT Indonesia Pioneer Aluminium Industries: 350.000 mt
Weda Bay Aluminium dan Xinghui Aluminium: 750.000 mt
PT Bintan Electrolytic Indonesia: 250.000 mt
Project 3: 600.000 mt
PT Daharma Inti Bersama: 300.000 mt
Rangkaian proyek ini menempatkan Indonesia di pusat peta pasokan aluminium global untuk beberapa tahun ke depan. Selisih antara kapasitas yang diusulkan dan yang benar-benar beroperasi akan menentukan seberapa besar peran itu terwujud.


