Emitenhub.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dipadukan dengan battery energy storage system (BESS) mulai memasuki fase baru di sektor industri.
Teknologi yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai instrumen pemenuhan target environmental, social, and governance (ESG) kini mulai ditawarkan sebagai solusi untuk menekan biaya operasional.
Di sektor pertambangan, keekonomian kombinasi PLTS dan baterai bahkan diklaim telah mampu menandingi pembangkit berbahan bakar diesel.
Chief Executive Officer (CEO) SUN Energy Emmanuel Jefferson menyampaikan penggunaan PLTS dengan battery storage sebagai beban dasar atau base load untuk mendukung operasional listrik pertambangan telah terbukti lebih murah dibandingkan genset diesel.
"Kalau kita bicara industri pertambangan, PLTS dengan battery storage sebagai base load untuk support operasional listrik itu kita sudah proven bisa lebih murah daripada biaya diesel genset," kata Emmanuel dalam acara Bisnis Indonesia Group Strategic Forum 2026, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi PLTS dan penyimpanan energi. Penurunan biaya teknologi membuat listrik yang dihasilkan PLTS kian kompetitif, sedangkan baterai memberikan kemampuan menyimpan energi dan memasok listrik ketika matahari tidak tersedia.
SUN Energy sendiri sebelumnya menyebut implementasi containerized battery energy storage system (CBESS) di sektor pertambangan telah digunakan untuk meningkatkan keandalan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Selain itu, kondisi geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah, turut meningkatkan perhatian industri terhadap aspek ketahanan energi (energy security). Emmanuel menyebut, bagi perusahaan tambang yang selama ini banyak mengandalkan diesel, penggunaan PLTS dan baterai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keberlangsungan operasional.
"Jadi mereka [pelaku usaha pertambangan] sudah melihat PLTS ini sesuatu yang kritikal ya untuk sustainable business. Jadi itu hal yang positif," ujarnya.
Dengan kata lain, PLTS+BESS dapat menjadi alternatif bagi industri. Namun, jika secara keekonomian sudah menarik, mengapa adopsinya belum berlangsung secara masif?
Jawabannya terletak pada karakteristik industri pertambangan yang memiliki kebutuhan listrik berbeda dibandingkan sektor industri pada umumnya.
Bagi perusahaan tambang, keputusan mengganti sumber energi tidak hanya ditentukan oleh harga listrik per kilowatt-hour. Keandalan pasokan menjadi faktor yang sama pentingnya karena gangguan energi dapat berujung pada terganggunya seluruh rantai operasi.
Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno menyampaikan persoalan energi yang dihadapi industri saat ini bukan sekadar harga bahan bakar yang mahal. Menurutnya, persoalan yang lebih serius muncul ketika harga energi tinggi sekaligus pasokan bahan bakarnya sulit diperoleh.
"Kalau misalnya dengan harga minyak yang sekarang termasuk dengan keberlanjutan dari harga mahal itu kadang-kadang nggak masalah selama barangnya ada. Yang masalah adalah sudah mahal, [barangnya] enggak ada. Itu kan masalah," kata Tri ditemui di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Tri menilai situasi tersebut membuat energi terbarukan mulai memiliki nilai strategis yang lebih besar bagi industri pertambangan. PLTS dan BESS juga dilihat dari kemampuannya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan diesel. Terlebih, energi hijau itu dinilai dapat menghemat biaya energi.
Namun, meningkatnya kebutuhan terhadap energi yang lebih murah dan aman belum otomatis membuat perusahaan berpindah dari teknologi lama.
Terganjal Capex yang Tinggi
Tri menyampaikan salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah kebutuhan investasi awal. Ia menjelaskan penggunaan PLTS dan sistem penyimpanan energi memang memiliki prospek, tetapi membutuhkan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang relatif tinggi pada tahap awal.
"Nah, poinnya kalau misalnya dengan menggunakan [BESS] itu sebetulnya capex-nya memang tinggi. Capex, capital expenditure artinya modal awallah," katanya.
Dengan kata lain, perusahaan harus mengeluarkan investasi yang besar terlebih dahulu sebelum memperoleh manfaat berupa penghematan biaya energi dalam jangka panjang. Di sinilah perhitungan investasi industri menjadi lebih kompleks.
Menurut Tri, apabila dihitung berdasarkan kegiatan pertambangan, investasi tersebut sebenarnya dapat menghasilkan penghematan. Ia mencontohkan penggunaan energi pada jalan khusus pertambangan atau hauling untuk mengangkut mineral atau batu bara.
"Tetapi sebetulnya apabila itu sudah berlangsung paling tidak per kilometer jalan hauling bisa bayangin kan kira-kira? Jalan hauling yang untuk mengangkut mineral atau batu bara itu per kilometer itu paling tidak save Rp300 per ton," ujarnya.
Artinya, keekonomian teknologi tidak selalu terlihat dari biaya investasi awal. Penghematan baru terasa ketika investasi tersebut dihitung terhadap skala operasi pertambangan yang besar dan digunakan dalam jangka panjang.
Persoalan adopsi PLTS+BESS itu pun tidak berhenti pada capex. Ketua Komite Pertambangan Minerba Dewan Pengurus Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia memberikan perspektif berbeda.
Menurutnya, bagi perusahaan tambang, batu bara saat ini masih menjadi sumber energi yang dianggap paling kompetitif sekaligus paling dapat diandalkan.
"Kalau nanyanya ke orang tambang, kita pasti masih berpegangan bahwa yang paling efisien, paling reliable, paling kompetitif masih batu bara," kata Hendra.
Pernyataan tersebut menunjukkan kompetisi PLTS+BESS dengan pembangkit fosil tidak hanya berlangsung pada aspek biaya. Ada variabel lain yang menjadi pertimbangan utama, yakni keandalan atau reliability.
Hendra menyampaikan persoalan tersebut kian penting, sebab industri pertambangan merupakan sektor yang sangat intensif energi.
"Karena kan kalau berbicara tambang apalagi hilirisasi yang komponen terbesarnya, 60% energinya," ujarnya.
Dengan porsi energi yang sangat besar dalam struktur biaya, gangguan pasokan listrik bukan persoalan kecil. Hendra menyampaikan perusahaan membutuhkan sumber energi yang mampu bekerja secara konsisten untuk menopang operasi.
"Bukan hanya murahnya tapi keandalannya, reliability-nya. Itu yang masih susah teruji kalau batu bara," kata Hendra.
Transisi Energi yang Berlangsung Bertahap
Keraguan terhadap keandalan tersebut bukan berarti pelaku industri menutup pintu terhadap energi terbarukan. Hendra justru melihat transisi energi sebagai proses yang akan berlangsung secara bertahap.
Menurutnya, sejumlah perusahaan tambang mulai melakukan diversifikasi bisnis karena menyadari bahwa cadangan batu bara dan masa berlaku izin pertambangan memiliki batas.
"Yang namanya transisi ini sih kalau melihat transisi itu mungkin ngelihatnya beberapa perusahaan sudah mulai mengurangi ketergantungan bisnisnya ke batu bara. Tapi bukan berarti mereka kurangi porsi batu baranya. Karena kan cadangan batu bara akan berkurang," katanya.
Selain itu, perusahaan pun mulai menginvestasikan modal pada sektor non-batu bara. Kendati demikian, langkah tersebut tidak berarti batu bara langsung ditinggalkan sebagai sumber energi.
Menurut Hendra, dalam jangka panjang biaya energi surya akan kian murah. Namun, persoalannya kembali pada kemampuan sistem tersebut menyediakan listrik yang stabil.
"Tapi selain masalah tadi mungkin akan lebih murah ke depan. Tapi kalau kehandalannya ya masih tetap [batu bara]. Untuk ini ya sumber energi dia [batu bara] stabil," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bachtiar berpendapat secara umum PLTS+BESS memang lebih murah dari diesel. Hal ini terutama karena tidak membutuhkan konsumsi BBM secara terus-menerus.
Namun, penggunaan PLTS tetap bergantung pada variabel lain, misalnya profil beban, potensi surya di lokasi tersebut, dan kapasitas baterai.
Bisman pun menilai penggunaan PLTS+BESS di industri pertambangan belum masif karena kendala biaya. Terlebih, penggunaan PLTS membutuhkan investasi yang besar di awal.
"Belum masif karena soal kendala biaya dan risiko investasi awal yang masih cukup besar serta terkait teknis kebutuhan kepastian pasokan 24 jam non-stop," kata Bisman.
Ia menambahkan industri tambang sampai saat ini cenderung memilih diesel karena sudah terbukti dan lebih fleksibel, termasuk lebih mudah digunakan di lokasi terpencil. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong terciptanya ekosistem investasi PLTS+BESS yang lebih menarik dan rendah risiko.