kebijakan moneter

Ilustrasi pelemahan rupiah ke Rp18.135 per dolar AS di tengah kebijakan BI Rate 5,75%, insentif DNDF, dan pengelolaan instrumen SRBI oleh Bank Indonesia.
Ekonomi

2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan ke Rp18.135, Ekonom Ingatkan BI Rate Bisa Perlu Disesuaikan

Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp18.135 per dolar AS, mendekati level Rp18.178 yang sempat tercatat pada Juni 2026. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai insentif lindung nilai DNDF belum tentu cukup untuk menahan tekanan akibat risiko MSCI, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian pasar. BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75% serta mengoptimalkan DNDF dan SRBI. Josua mengingatkan bahwa penyesuaian BI Rate perlu tetap menjadi pilihan apabila pelemahan rupiah

TR

Tim Redaksi Emitenhub

EmitenHub

Baca
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah ke Rp18.109 per dolar AS pada 26 Oktober 2026 akibat tekanan dolar AS, ketidakpastian suku bunga The Fed, dan geopolitik global.
Ekonomi

5 hari yang lalu

Insentif KLM BI Tembus Rp458,5 Triliun, Kredit Perbankan Tumbuh 13,26%

Bank Indonesia mencatat total insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) mencapai Rp458,5 triliun hingga minggu pertama Oktober 2026. Insentif tersebut terdiri atas Rp336,4 triliun melalui Financing Channel dan Rp122,1 triliun untuk pendalaman pasar uang. Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan pada September 2026, melampaui kisaran proyeksi BI sebesar 8%–12%.

TR

Tim Redaksi Emitenhub

EmitenHub

Baca →
Ilustrasi Bank Indonesia terkait keputusan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dan menaikkan Deposit Facility menjadi 5%, serta dampaknya terhadap IHSG, saham perbankan, dan pasar obligasi.
Market

5 hari yang lalu

BI Rate Ditahan 5,75%, Deposit Facility Naik ke 5%, Bagaimana Dampaknya ke Saham dan Obligasi?

Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% sambil menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5% untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan ini mendapat respons positif dari IHSG, tetapi masih menyisakan risiko bagi saham dan obligasi akibat ketidakpastian arah suku bunga. Analis menilai sektor perbankan dapat memperoleh manfaat dari peningkatan imbal hasil penempatan dana, sementara prospek obligasi berbeda menurut tenor dan ekspektasi pasar.

TR

Tim Redaksi Emitenhub

EmitenHub

Baca →

Artikel kebijakan moneter