Saham

Laba Ternormalisasi XLSmart (EXCL) Meroket 4 Kali Lipat, Jaringan 5G Terbesar Bikin Analis Kepincut

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan laba bersih ternormalisasi yang melonjak empat kali lipat menjadi Rp2,7 triliun pada semester I/2026, ditopang pendapatan Rp24 triliun yang tumbuh 26% YoY. Dengan jaringan 5G terbesar di industri mencapai 14.900 site, analis Mirae Asset dan BRI Danareksa kompak merekomendasikan beli meski berbeda sikap soal target harga akibat lonjakan capex ke Rp20 triliun.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi lonjakan laba ternormalisasi XLSmart empat kali lipat dan keunggulan jaringan 5G terbesar di industri pada semester I/2026

Ilustrasi lonjakan laba ternormalisasi XLSmart empat kali lipat dan keunggulan jaringan 5G terbesar di industri pada semester I/2026 (Foto:EXCL)

Emitenhub.com - Seusai rapor paruh pertama 2026 yang melampaui ekspektasi analis, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) turut dijagokan berkat keunggulan perluasan jaringan 5G dibandingkan para pesaingnya.

Baru-baru ini, EXCL melaporkan laba bersih ternormalisasi yang melonjak empat kali lipat, sementara rugi bersih akibat beban integrasi pascamerger menyusut pada semester I/2026.

Perseroan masih membukukan rugi bersih konsolidasian Rp994 miliar pada semester I/2026. Capaian itu membaik dibandingkan rugi bersih semester I/2025 yang menyentuh Rp1,2 triliun.

Namun, bila mengecualikan dampak biaya integrasi, percepatan depresiasi pascamerger, serta penurunan nilai (impairment) aset, laba bersih ternormalisasi EXCL sepanjang paruh pertama tahun ini naik menjadi Rp2,7 triliun dari Rp693 miliar pada periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan operasional EXCL ditopang kenaikan pendapatan pascamerger yang mencapai Rp12,2 triliun atau tumbuh 16% YoY. Secara akumulatif, total pendapatan EXCL sepanjang semester I/2026 menembus Rp24 triliun, naik 26% YoY sekaligus memenuhi 52% dari estimasi konsensus 2026.

Realisasi pendapatan dan penurunan rugi bersih hingga paruh tahun ini sejalan dengan proyeksi analis maupun konsensus.

Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja dalam risetnya menerangkan ada sejumlah faktor yang membuat EXCL lebih unggul ketimbang para pesaingnya, salah satunya pengembangan jaringan 5G.

EXCL memperluas jangkauan 5G ke 52 kota, dengan tambahan sekitar 2.300 site 5G pada kuartal II/2026. Totalnya kini menjadi 14.900 site, terbesar di antara pelaku industri. Jaringan 5G ini menyumbang sekitar 27% pertumbuhan trafik EXCL.

Sebagai perbandingan, PT Indosat Tbk (ISAT) mengantongi 10.100 site, sementara PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki 6.200 site.

Dari catatan kinerja operasional, trafik data naik 6,5% year on year (YoY) ke 4.100 petabyte (PB). Kenaikan itu mengangkat konsumsi menjadi 58,6 GB per pelanggan atau tumbuh 26,8% YoY, juga tertinggi di antara para pesaing. Adapun data yield berada di Rp2,6 per MB, naik 4,5% YoY, sedangkan basis pelanggan stabil di 69,4 juta.

Manajemen menaikkan panduan (guidance) belanja modal (capex) menjadi Rp20 triliun dari sebelumnya Rp15 triliun, menyusul akuisisi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Dana itu diarahkan untuk mendanai rollout 5G yang lebih luas, guna memonetisasi layanan mobile maupun potensi Fixed Wireless Access (FWA).

"Kami menaikkan proyeksi pendapatan 2026 sebesar 2,4% dan EBITDA 2026-2027 sebesar 2,7% dan 1,2%, sembari menyesuaikan asumsi capex sejalan dengan guidance perusahaan," ujar Daniel dalam risetnya, dikutip Senin (18/8/2026).

Kendati begitu, target harga tetap bertahan di level Rp4.300 per lembar, dengan penegasan kembali rekomendasi beli.

"Kami tetap konstruktif seiring sinergi merger yang membesar dan EXCL memiliki jaringan 5G paling siap di antara peers, didukung kompetisi mobile yang membaik dan seharusnya menopang ARPU ke depan," katanya.

Beda Sikap, BRI Danareksa Pangkas Target Harga Imbas Lonjakan Capex

Pada kutub berbeda, BRI Danareksa Sekuritas justru memangkas target harga EXCL seiring kenaikan capex. Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyoroti revisi naik belanja modal (capital expenditure/capex) dari semula Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun, untuk mengakomodasi modernisasi perangkat serta ekspansi jaringan 5G.

Proyeksi capex yang lebih tinggi itu mendorong BRI Danareksa menyesuaikan turun target harga saham EXCL menjadi Rp3.600 per saham, dengan tetap mempertahankan rekomendasi beli.

"Kami mempertahankan pandangan taktis 3 bulan overweight seiring dengan beban terkait merger yang terus melandai, yang menyiapkan pijakan bagi pembalikan kinerja pada tahun 2027," tutur Kafi dan Erindra.

Keduanya menilai EXCL memimpin dalam implementasi 5G sekaligus berada pada posisi terbaik di antara pesaing untuk memonetisasi tarif premium 5G. Adapun risiko utama dari proyeksi tersebut adalah absennya pendapatan tambahan dari monetisasi 5G, mengingat besarnya investasi yang dikucurkan di awal.

Kendati begitu, menyusutnya estimasi total biaya depresiasi yang dipercepat membuat Kafi dan Erindra mengerek proyeksi laba bersih perseroan untuk tahun penuh 2026 sebesar 32% menjadi negatif Rp1,3 triliun.

Iklan