Emitenhub.com - Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengingatkan krisis pasokan batu bara berpotensi meluas ke berbagai sektor manufaktur penerima domestic market obligation (DMO), tidak terbatas pada industri semen. Ia menilai akar persoalannya bukan sekadar gangguan cuaca, melainkan harga DMO yang dibiarkan membeku sejak 2018.
Menurut Bisman, skema kewajiban pasar domestik bukan urusan administratif belaka. Instrumen ini krusial untuk menjamin kepastian volume, ketepatan spesifikasi, dan ketepatan waktu pengiriman batu bara ke industri dalam negeri.
Gangguan pasokan akibat El Niño yang mengeringkan sungai dan menghambat pengiriman, menurutnya, hanya sementara. Persoalan menjadi rumit justru ketika kendala operasional itu bertabrakan dengan harga DMO yang dinilai tak lagi relevan dengan lonjakan biaya produksi dan logistik.
Karena itu, Bisman mendesak pemerintah segera mengkaji ulang harga DMO industri semen sebesar US$90 per metrik ton yang berlaku sejak 2018. Ia menyarankan penyesuaian harga baru yang menjaga daya beli industri dalam negeri sekaligus kelayakan ekonomi pemasok, demi keberlanjutan pasokan jangka panjang.
Ketentuan DMO dan patokan harga ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 255.K/30/MEM/2020, perpanjangan dari aturan awal 2018 (Kepmen ESDM Nomor 1395 K/30/MEM/2018), dan belum sekali pun direvisi sejak diterapkan. Untuk kelistrikan umum, batas atas harga (price cap) dipatok US$70 per metrik ton. Adapun sektor nonkelistrikan seperti semen, pupuk, tekstil, dan pengolahan kertas dikenai harga US$90 per metrik ton. Industri pengolahan dan pemurnian mineral logam (smelter) dikecualikan dari kewajiban ini.
Krisis yang disorot Bisman sudah lebih dulu dikeluhkan pelaku industri. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo sebelumnya mengungkapkan industri semen tengah mengalami kelangkaan batu bara akibat tersendatnya pasokan DMO. Kondisi ini bersamaan dengan El Niño yang mengeringkan sungai dan mengganggu logistik pengiriman ke pabrik. Hingga awal September 2026, persediaan batu bara di sebagian besar pabrik semen terus menipis.
Pasokan klinker tergerus 1,2 juta ton
Lilik merinci kelangkaan batu bara memaksa sejumlah pabrik menghentikan sementara produksinya. Imbasnya, potensi pasokan klinker atau bahan setengah jadi semen hilang hingga 1,2 juta ton.
Ia menegaskan kendala logistik yang sudah ada kini diperparah El Niño dan kekeringan sungai yang menghambat jalur distribusi batu bara ke pabrik.
"El Niño dan kekeringan sungai memperparah kondisi yang ada, pada logistik batu bara. Sebelumnya memang ada masalah," tambahnya.
Usulan blending batu bara
Dari sisi pemasok, Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menawarkan jalan keluar berupa blending atau pencampuran batu bara dari beberapa tingkat kalori. Ketua DPP Aspebindo Hasstriansyah menilai langkah ini solusi praktis di tengah gangguan logistik sekaligus persoalan ketidaksesuaian harga.
"Untuk mengatasi masalah tersebut diusulkan blending [batu bara] agar harga masuk. Dengan catatan spesifikasi masih masuk untuk pemrosesan pembakaran yang cocok di kiln Pabrik Semen," ungkapnya saat dihubungi Bloomberg Technoz.
Meski menjanjikan, keberhasilan blending bergantung pada kesiapan teknis pabrik, terutama penyesuaian operasional mesin kiln. Penambang dan teknisi pabrik perlu berkoordinasi ketat agar komposisi campuran tetap menghasilkan suhu pembakaran yang stabil dan aman bagi fasilitas produksi.
Pada akhirnya, blending hanya menambal gejala di sisi teknis, sementara akar yang disorot pelaku industri dan pengamat tetap satu: harga DMO yang membeku di US$90 per metrik ton sejak 2018. Selama patokan itu tak disesuaikan dengan biaya produksi dan logistik terkini, gangguan serupa berpeluang berulang begitu cuaca kembali menekan jalur pasokan.
