Emitenhub.com - Emiten Grup Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memperkuat pijakan di bisnis infrastruktur telekomunikasi dan digital lewat pengambilalihan 35 persen saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Masuknya DSSA sekaligus mengubah peta pengendalian emiten jaringan serat optik tersebut.
Eksekusinya berlangsung melalui PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS), entitas terafiliasi Grup Sinar Mas, yang menyerap saham KETR via Penawaran Tender Sukarela. Mengacu keterbukaan informasi KETR pada 28 September 2026, IMBS mengantongi 994,442 juta saham atau 35 persen dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh.
IMBS bukan entitas asing bagi DSSA. Perusahaan ini merupakan anak usaha DSSA, dengan 99 persen sahamnya dipegang PT DSST Mas Gemilang dan 1 persen sisanya PT Sinarmas Sukses Sejahtera.
Direktur DSSA Daniel Cahya menyebut aksi ini sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem telekomunikasi dan infrastruktur digital perseroan.
"Kami memandang transaksi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem telekomunikasi dan infrastruktur digital DSSA," ujar Daniel kepada Bisnis, Kamis (1/10/2026).
Dari sisi KETR, tender sukarela IMBS menggeser kendali perseroan. Sebelumnya, pengendali KETR adalah PT Bahtera Bintang Nusantara (BBN) secara tidak langsung lewat PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara (FSMN). Sekretaris Perusahaan KETR Henry Rizard menegaskan tidak ada hubungan afiliasi antara pengendali lama dan IMBS selaku pengendali baru, serta memastikan peralihan ini tak berdampak negatif pada operasional, hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha.
"Perubahan pengendalian pada Perseroan tidak berdampak negatif terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan serta kelangsungan usaha Perseroan," tulisnya dalam keterbukaan informasi.
Secara bisnis, lini KETR dan IMBS saling beririsan. KETR menggarap infrastruktur jaringan telekomunikasi, mulai dari pemeliharaan dan pengelolaan kabel komunikasi hingga penyediaan sistem komunikasi serat optik, baik laut maupun darat. IMBS bergerak di bidang serupa, dan keduanya melengkapi portofolio DSSA yang sudah lebih dulu menggarap infrastruktur serat optik serta bisnis pusat data.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai langkah ini berpotensi menjadi katalis positif bagi DSSA dalam jangka menengah hingga panjang, karena memperlebar eksposurnya ke infrastruktur telekomunikasi.
Sinergi KETR dengan bisnis digital DSSA
Elandry menilai potensi sinergi antara KETR dan lini digital DSSA cukup menarik. Bisnis kabel serat optik dan infrastruktur konektivitas KETR dinilai melengkapi ekosistem digital DSSA yang sudah mencakup serat optik dan pusat data, sehingga memperkuat lapisan konektivitas (connectivity layer) perseroan. Kendati begitu, ia mengingatkan realisasinya bergantung pada kontrak dan ekspansi bisnis konkret setelah transaksi.
"Jadi, KETR berpotensi memperkuat sisi connectivity layer DSSA, meski realisasi sinerginya tetap perlu dilihat dari kontrak dan ekspansi bisnis konkretnya," sebut Elandry.
Jejak proyek KETR memperkuat posisi itu. Perseroan sebelumnya terlibat membangun infrastruktur kabel serat optik bawah laut bersama Triasmitra dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo), dengan panjang sekitar 1.128,5 kilometer. Sebagai pengendali baru, DSSA berpeluang mengembangkan bisnis konektivitas lebih jauh, terutama bila kebutuhan kapasitas jaringan naik seiring ekspansi pusat data dan layanan digital.
Satu hal tetap jadi perhatian investor: kontribusi nyata KETR ke kinerja DSSA. Dengan kepemilikan 35 persen, manfaat ekonominya perlu diukur bersama kemampuan perseroan menumbuhkan bisnis telekomunikasi dan mencetak arus kas.
Menurut Elandry, ragam katalis DSSA kini melebar. Perseroan tak lagi semata bertumpu pada batu bara lewat PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), tetapi mulai memperbesar eksposur ke digital dan telekomunikasi.
"Pertumbuhan bisnis digital dan telekomunikasi mulai semakin material, sementara bisnis energi tetap memberikan cash flow," katanya.
Ke depan, perubahan persepsi atas valuasi DSSA bakal sangat ditentukan kecepatan pertumbuhan lini digital dan kontribusinya terhadap laba, di samping keberlanjutan kinerja bisnis energi. Dengan kendali 35 persen di tangan, pertaruhan sesungguhnya bergeser dari status akuisisi ke pembuktian seberapa besar KETR benar-benar mengalirkan pendapatan dan sinergi ke dalam ekosistem digital Sinarmas.


