Emitenhub.com - PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) memfokuskan alokasi belanja modal untuk memacu monetisasi jaringan sekaligus mempercepat efisiensi sinergi seusai integrasi dengan PT Smartfren Telecom Tbk.
Sebagai catatan, EXCL telah merevisi naik panduan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2026 dari semula Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun.
Langkah itu diambil guna mengakomodasi akuisisi spektrum frekuensi terbaru serta mempercepat realisasi capex yang direncanakan untuk tahun mendatang.
Group Head Corporate Communications & Sustainability XLSMART Reza Zahid Mirza menyatakan penuntasan integrasi bertujuan mengoptimalkan efisiensi biaya sekaligus meningkatkan kualitas layanan pascakonsolidasi.
"Strategi kami saat ini adalah mengoptimalkan dan memonetisasi skala pascaintegrasi, di antaranya dengan menuntaskan integrasi jaringan, mempercepat realisasi sinergi, serta memperluas ekspansi dan monetisasi 5G," ujar Reza saat dihubungi Bisnis pada Rabu (26/8/2026).
Sementara itu, guna memperluas penetrasi pasar, EXCL menerapkan strategi multi-brand dengan mengoptimalkan tiga merek sekaligus, yakni XL, Axis, dan Smartfren, sesuai karakteristik pelanggan.
Reza menambahkan pada saat yang sama, belanja modal perseroan juga dialokasikan untuk memacu bisnis fixed broadband (XL Satu) dan segmen korporasi atau enterprise.
Di sisi lain, menanggapi risiko tekanan pada arus kas akibat besarnya kebutuhan investasi, ia memastikan manajemen EXCL tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan belanja modal.
"Kenaikan capex merupakan bagian dari strategi investasi yang terukur untuk memperkuat kualitas jaringan jangka panjang," tuturnya.
Menurut Reza, meski berdampak pada penurunan free cash flow dalam jangka pendek, perseroan tetap berupaya menjaga kehati-hatian dalam pengelolaan, yang tecermin dari perbaikan rasio leverage serta profil jatuh tempo utang yang sehat.
Ia pun menyampaikan eksekusi belanja modal ke depan akan terus disesuaikan secara proporsional dengan pertumbuhan pendapatan guna menjaga keseimbangan neraca perseroan secara berkelanjutan.
Rapor EXCL Semester I/2026
Pada semester I/2026, EXCL membukukan laba bersih ternormalisasi yang naik empat kali lipat, sementara rugi bersih akibat beban integrasi pascamerger menurun.
EXCL diketahui masih membukukan rugi bersih konsolidasian sebesar Rp994 miliar pada semester I/2026. Capaian tersebut membaik dibandingkan rugi bersih pada semester I/2025 yang mencapai Rp1,2 triliun.
Namun, jika mengecualikan dampak biaya integrasi, percepatan depresiasi pascamerger, serta penurunan nilai atau impairment aset, laba bersih ternormalisasi EXCL sepanjang paruh pertama tahun ini naik menjadi Rp2,7 triliun dari posisi periode sama tahun lalu sebesar Rp693 miliar.
Riset Stockbit Sekuritas menyebutkan perbaikan kinerja EXCL ditopang oleh pertumbuhan pendapatan, stabilnya rata-rata pendapatan per pengguna (average revenue per user/ARPU), serta basis pelanggan yang terkonsolidasi.
Pada saat yang sama, tekanan beban terkait proses integrasi dan percepatan depresiasi aset juga dinilai sudah mulai mereda.
"Ke depan, stabilnya basis pelanggan dan tren kenaikan ARPU, ditambah berkurangnya beban integrasi dan percepatan depresiasi, akan menjadi pendorong utama peningkatan laba," tulis riset Stockbit.
Dengan tren rugi bersih yang kian mengecil secara kuartalan, Stockbit menilai terdapat peluang besar bagi EXCL untuk membukukan total rugi bersih 2026 yang lebih rendah dari proyeksi konsensus.
Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dan Belva Monica memposisikan EXCL sebagai pilihan utama di sektor emiten telekomunikasi.
Menurut keduanya, EXCL menjadi pilihan utama berkat prospek pertumbuhan bisnis seluler paling kuat yang ditopang oleh monetisasi pascamerger.
Dengan capex yang dikerek menjadi Rp20 triliun dan integrasi Smartfren yang terus dituntaskan, EXCL memposisikan diri untuk memonetisasi skala pascamerger sembari menekan beban yang selama ini menggerus laba. Perbaikan laba ternormalisasi serta menyusutnya rugi bersih menjadi sinyal awal yang menopang optimisme analis, meski realisasinya ke depan tetap bergantung pada kemampuan perseroan menjaga keseimbangan antara agresivitas investasi dan disiplin arus kas.


