Saham

Haji Isam Masuk Bayan Resources (BYAN), Low Tuck Kwong Lepas Saham Rp26 Triliun

Ringkasan Cepat

Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam masuk sebagai pemegang saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan menguasai 10,08 miliar saham atau 30,25 persen, lewat transaksi negosiasi senilai sekitar Rp26,10 triliun. Kepemilikan taipan Low Tuck Kwong menyusut dari 40,15 persen menjadi 9,95 persen. Harga pelaksanaan dipatok Rp2.588 per saham atau diskon sekitar 79,9 persen dari harga pasar, dengan analis menyoroti arah strategis pemegang saham baru dan potensi kewajiban tender of

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Area tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di tengah perubahan struktur kepemilikan saham

Area tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di tengah perubahan struktur kepemilikan saham (Foto:BYAN)

Emitenhub.com - Masuknya Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sebagai pemegang saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadikan emiten batu bara milik taipan Low Tuck Kwong itu sorotan pasar modal. Lewat perjanjian jual beli, kepemilikan Low Tuck Kwong di BYAN kini menyusut drastis, sementara entitas Haji Isam menguasai lebih dari 30 persen saham.

Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), saham BYAN ditutup melemah 2,19 persen atau 275 poin ke Rp12.275 per lembar, setelah dibuka di Rp12.600. Dengan harga itu, saham berkapitalisasi pasar Rp373,22 triliun tersebut sudah turun 24,92 persen secara year-to-date 2026 dan melemah 10,89 persen dalam sebulan, meski masih menguat 10,34 persen dalam enam bulan terakhir. Pergerakannya memang fluktuatif sejak merebaknya rumor rencana akuisisi oleh konsorsium pimpinan Haji Isam.

Jhonlin Baratama, entitas yang masuk ke BYAN, merupakan kontraktor pertambangan sekaligus produsen batu bara besar yang berpusat di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dan bagian dari Jhonlin Group.

Kepemilikan Low Tuck Kwong susut tajam

Semula, saham yang akan dialihkan Low Tuck Kwong dan Elaine Low ke Jhonlin Group mencapai 10.000.000.500 lembar. Namun dalam keterbukaan informasi soal perubahan perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA), angkanya berubah menjadi 10.084.088.370 saham.

Seusai transaksi, Low Tuck Kwong kini menggenggam 3,31 miliar saham atau 9,95 persen, anjlok dari sebelumnya 13,38 miliar saham atau 40,15 persen. Kepemilikan Elaine Low juga berkurang tipis, dari 7,36 miliar saham (22,10 persen) menjadi 7,35 miliar saham (22,05 persen). Di sisi lain, Jhonlin Baratama kini mencatatkan 10,08 miliar saham atau 30,25 persen kepemilikan.

Jejak perpindahan saham ini terlihat di pasar negosiasi. Pada Rabu (7/10/2026), saham BYAN mencatatkan nilai transaksi jumbo Rp26,10 triliun, bertepatan dengan rencana pembelian oleh Haji Isam.

Transaksinya terbagi tiga kali crossing. Pertama, 166.666 lot senilai Rp43,1 miliar. Kedua, 50 juta lot senilai Rp12,9 triliun. Ketiga, 50,67 juta lot senilai Rp13 triliun. Secara total, transaksi ini melibatkan 10.084.088.370 saham BYAN.

Harga pelaksanaannya dipatok Rp2.588 per saham, mencerminkan diskon sekitar 79,9 persen dibanding harga pasar reguler yang saat itu di Rp12.875 per saham. Valuasi transaksi negosiasi ini setara price to book value (PBV) sekitar 1,73 kali.

Pandangan analis soal perubahan kepemilikan

Dari kacamata analis, Mirae Asset Sekuritas menilai transaksi negosiasi saham BYAN senilai sekitar Rp26 triliun ini perlu dibaca sebagai aksi korporasi strategis yang berpotensi mengubah struktur kepemilikan sekaligus membuka ekspektasi baru terhadap prospek perseroan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut pasar tidak hanya akan mencermati besarnya transaksi, tetapi juga arah strategis pemegang saham baru, mulai dari potensi pengembangan aset, efisiensi operasional, ekspansi produksi, hingga penguatan integrasi bisnis. Aksi ini, menurutnya, bisa menjadi katalis positif bila pasar melihat sinergi yang mampu mengangkat nilai fundamental BYAN dalam jangka menengah hingga panjang.

"Ke depan, potensi pertumbuhan kinerja BYAN masih cukup terbuka, terutama apabila peningkatan skala produksi dapat diikuti dengan optimalisasi biaya dan pengembangan sumber daya serta cadangan yang dimiliki," ucap Nafan, Rabu (7/10/2026).

Nafan menambahkan diversifikasi bisnis dan hilirisasi komoditas bisa menjadi faktor penting menjaga kinerja di tengah volatilitas harga batu bara. Kendati begitu, investor tetap perlu mencermati pergerakan harga batu bara global, biaya produksi, belanja modal, serta implementasi strategi pascaperubahan kepemilikan.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyoroti sisi valuasi. Menurutnya, saham BYAN selama ini selalu berada di valuasi premium.

"Harga deal ini adalah angka yang benar-benar menunjukkan economic value yang disepakati oleh buyer dan seller BYAN," ucap Liza dalam program Kiwoom Sekuritas.

Liza menilai investor perlu mencermati sejumlah hal lanjutan, mulai dari komposisi direksi, isi perjanjian pemegang saham (shareholder agreement), hingga ada tidaknya kewajiban tender offer setelah kesepakatan rampung. Ia juga mengingatkan tambahan RKAB sebesar 15 juta sampai 20 juta ton perlu dipantau apakah benar bisa menjadi output riil yang menopang keuntungan BYAN.

Dua pandangan analis ini bertemu di satu titik: transaksi jumbo dan perpindahan saham baru separуह cerita, sisanya ditentukan eksekusi. Arah BYAN ke depan bergantung pada isi perjanjian pemegang saham, kewajiban tender offer yang mungkin menyusul, dan apakah tambahan kuota produksi benar-benar terealisasi di tengah harga batu bara yang masih fluktuatif.

Iklan