Saham

Haji Isam Resmi Caplok 30% Saham BYAN Rp114,5 Triliun, Laba Bayan Melonjak 17%

Ringkasan Cepat

Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam resmi mengambil alih 30% atau 10 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melalui Jhonlin Baratama, dengan penandatanganan CSPA pada 16 September 2026 yang ditaksir bernilai sekitar Rp114,5 triliun. Volume ini lebih kecil dari kabar awal sebesar 62,25%, dan transaksi berlangsung saat tiga anak usaha BYAN menyatakan force majeure akibat RKAB 2026 yang belum terbit.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Haji Isam mengambil alih 30 persen saham Bayan Resources melalui Jhonlin Baratama di tengah kinerja laba yang menguat

Ilustrasi Haji Isam mengambil alih 30 persen saham Bayan Resources melalui Jhonlin Baratama di tengah kinerja laba yang menguat (Foto:BYAN)

Emitenhub.com - Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam kembali memperkuat posisinya di jajaran taipan Tanah Air lewat pembelian 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Lewat Jhonlin Baratama, entitas Jhonlin Group, bos asal Kalimantan itu mengambil alih 10 miliar saham perusahaan batu bara besutan Low Tuck Kwong tersebut.

Menariknya, volume yang akhirnya diambil jauh lebih kecil dari yang sempat beredar di pasar. Kabar awal menyebut Haji Isam bakal mencaplok 62,25% saham BYAN, atau setara 20,79 miliar lembar senilai Rp300 triliun, dengan harga pelaksanaan di kisaran Rp14.400 per saham. Porsi itu semula menyasar dua pemegang saham utama, yakni Dato Low Tuck Kwong dengan 13,46 miliar saham (40,25%) dan putrinya, Elaine Low, sebanyak 7,33 miliar saham (22%).

Realisasinya berhenti di angka 30%. Perjanjian jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase of shares agreement (CSPA) atas 10.000.000.500 saham BYAN diteken pada 16 September 2026, melibatkan Low Tuck Kwong dan Elaine Low di satu sisi serta Jhonlin Baratama di sisi lain.

Rampungnya transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan (conditions precedent). "Setelah penyelesaian transaksi, dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Jhonlin Baratama akan memiliki 10 miliar saham biasa perseroan," ujar Direktur BYAN Jenny Quantero dalam keterbukaan informasi.

Nilai transaksi tidak diungkap secara rinci dalam dokumen tersebut. Namun, dengan mengacu pada harga penutupan BYAN pada Rabu, 16 September 2026, sebesar Rp11.450 per saham, pembelian 10 miliar lembar itu ditaksir bernilai sekitar Rp114,5 triliun. Jenny memastikan aksi korporasi ini tidak berdampak pada jalannya perseroan. "Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan," tegasnya.

Masuknya pemegang saham baru terjadi ketika BYAN tengah menghadapi tekanan. Belakangan, tiga anak usahanya, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, menyatakan keadaan kahar atau force majeure kepada pelanggan pada 11 September 2026, seiring belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026. Arah penyelesaian kondisi tersebut akan bergantung pada perkembangan evaluasi RKAB di Kementerian ESDM serta langkah korporasi perseroan berikutnya.

Kondisi kahar itu membuat setidaknya tiga anak usaha BYAN tak mampu memenuhi kewajiban penyediaan batu bara kepada pelanggan. Ketiganya adalah Tiwa Abadi (TA), Tanur Jaya (TJ), dan Fajar Sakti Prima (FSP). Pemicunya seragam, yakni persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk ketiga entitas tersebut yang tak kunjung terbit, padahal permohonannya telah diajukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tanpa persetujuan RKAB, ketiga anak usaha tidak dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah. Alhasil, kemampuan grup memenuhi kontrak pasokan pun ikut terganjal.

"Dengan kondisi saat ini, tentu memengaruhi kemampuan perseroan, dan anak usaha untuk memenuhi kewajiban yaitu pasokan batu bara kepada para pelanggan," ujar Direktur Bayan Resources Low Yi Ngo.

BYAN bersama ketiga anak usaha telah mengonfirmasi peristiwa force majeure ini kepada para pelanggan pada 11 September 2026. Perseroan menilai belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026 berdampak cukup material terhadap kelangsungan usaha.

"Pemberitahuan force majeure tersebut dilakukan sebagai langkah untuk meminimalkan risiko dan/atau konsekuensi yang mungkin timbul bagi Bayan Resources maupun ketiga anak usaha," tegasnya.

Kinerja Keuangan Semester I/2026

Di tengah tekanan tersebut, kinerja keuangan BYAN pada paruh pertama 2026 justru menguat. Perseroan membukukan laba bersih USD410,26 juta, melonjak 17,46% dari USD349,25 juta pada periode sama tahun lalu. Laba per saham dasar pun naik menjadi USD0,012, dari sebelumnya USD0,010.

Penguatan laba ditopang pendapatan yang naik ke USD1,74 miliar dari USD1,62 miliar. Meski beban pokok pendapatan turut membengkak menjadi USD1,12 miliar dari USD1,09 miliar, laba kotor tetap terkerek ke USD615,58 juta dari USD526,3 juta.

Dari sisi pos beban, hasilnya beragam. Beban penjualan naik ke USD19,93 juta dari USD16,92 juta, dan beban lain-lain melonjak tajam menjadi USD23,85 juta dari USD955,52 ribu. Sebaliknya, beban umum dan administrasi turun ke USD49,76 juta dari USD53,18 juta, beban keuangan menyusut ke USD2,37 juta dari USD6,35 juta, sementara penghasilan keuangan turun tipis ke USD14,38 juta dari USD14,65 juta.

Secara keseluruhan, laba periode berjalan tercatat USD416,55 juta, naik dari USD356,53 juta pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, jumlah aset BYAN melejit ke USD3,78 miliar per akhir Juni 2026, dari USD3,37 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas membengkak menjadi USD1,19 miliar dari USD680,46 juta, sedangkan jumlah ekuitas menyusut ke USD2,58 miliar dari USD2,69 miliar.

Iklan