Ekonomi

Insentif KLM BI Tembus Rp458,5 Triliun, Kredit Perbankan Tumbuh 13,26%

Ringkasan Cepat

Bank Indonesia mencatat total insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) mencapai Rp458,5 triliun hingga minggu pertama Oktober 2026. Insentif tersebut terdiri atas Rp336,4 triliun melalui Financing Channel dan Rp122,1 triliun untuk pendalaman pasar uang. Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan pada September 2026, melampaui kisaran proyeksi BI sebesar 8%–12%.

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Bank Indonesia terkait penyaluran insentif KLM sebesar Rp458,5 triliun hingga awal Oktober 2026 dan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 13,26%.

Ilustrasi Bank Indonesia terkait penyaluran insentif KLM sebesar Rp458,5 triliun hingga awal Oktober 2026 dan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 13,26%.

Emitenhub.com - Bank Indonesia (BI) memperkuat dukungan likuiditas perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas. Hingga minggu pertama Oktober 2026, total insentif yang diperoleh perbankan mencapai Rp458,5 triliun.

Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa insentif tersebut terbagi dalam dua skema. Alokasi melalui KLM Financing Channel mencapai Rp336,4 triliun, sedangkan KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) sebesar Rp122,1 triliun.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2026 yang dikutip Kamis (22/10/2026), Destry menyampaikan bahwa skema KLM PPU mulai diterapkan pada 1 Oktober 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk mendukung pendalaman pasar uang dan pengelolaan likuiditas perbankan.

BI juga menetapkan penyesuaian besaran insentif KLM dari 6 persen menjadi 5 persen yang berlaku mulai 1 Desember 2026. Ketentuan tersebut mencakup insentif melalui Financing Channel maksimal 3 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) serta insentif pendalaman pasar uang paling tinggi 2 persen.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat sebesar 13,26 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 23,20 persen. Kredit modal kerja meningkat 11,89 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 4,86 persen secara tahunan.

Di sisi pendanaan, DPK perbankan tumbuh 8,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah daripada pertumbuhan penyaluran kredit.

Meski pertumbuhan kredit September mencapai 13,26 persen, BI masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 pada kisaran 8 hingga 12 persen.

Bank sentral akan terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas untuk mendukung pembiayaan sektor riil dan aktivitas pasar uang dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian perbankan.

Iklan