Emitenhub.com - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen, tetapi menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui pengelolaan likuiditas tanpa langsung menaikkan suku bunga acuan. Meski demikian, risiko tekanan terhadap pasar saham dan obligasi masih membayangi apabila ekspektasi pengetatan moneter kembali meningkat.
Keputusan tersebut berbeda dari perkiraan sebagian pelaku pasar yang sebelumnya mengantisipasi kenaikan BI Rate menjadi 6 persen. Respons pasar saham terpantau positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,94 persen ke level 5.328,36 setelah sempat menyentuh posisi 5.185,36.
Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai langkah BI menunjukkan meningkatnya kewaspadaan terhadap tekanan nilai tukar rupiah dan risiko keluarnya modal asing.
Menurut Andrey, kenaikan Deposit Facility menjadi bentuk pengetatan likuiditas yang lebih terukur. Kebijakan tersebut memberikan insentif lebih besar bagi perbankan untuk menempatkan dananya di BI tanpa harus menaikkan suku bunga acuan secara langsung.
Namun, efektivitas kebijakan dalam menopang rupiah tetap dipengaruhi pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), aliran dana investor asing, serta perkembangan sentimen global.
Di pasar saham, Andrey melihat dampak kebijakan tersebut cenderung beragam dengan risiko tekanan dalam jangka pendek. Stabilitas nilai tukar dapat membantu memperbaiki kepercayaan investor, tetapi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan masih menjadi perhatian.
Ia memperkirakan BI masih memiliki ruang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen pada Desember 2026 apabila rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan.
Dalam kondisi tersebut, sektor properti dan konstruksi menjadi kelompok yang sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan. Risiko serupa juga dihadapi emiten dengan tingkat utang tinggi.
Sektor perbankan turut menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya dana yang dapat memengaruhi margin bunga. Meski demikian, bank dengan permodalan kuat dan porsi dana murah atau current account saving account (CASA) yang besar dinilai lebih defensif.
Andrey mencontohkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai salah satu bank dengan karakteristik tersebut. Sementara itu, emiten yang memiliki neraca sehat, arus kas kuat, dan kemampuan membagikan dividen dinilai relatif lebih mampu menghadapi volatilitas pasar.
Dampak Deposit Facility terhadap Saham Perbankan
Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, menilai keputusan BI menunjukkan pendekatan pengetatan kebijakan moneter yang lebih selektif.
Dengan mempertahankan BI Rate dan menaikkan Deposit Facility, bank sentral berupaya memperkuat stabilitas rupiah sekaligus membatasi tekanan terhadap aktivitas kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan suku bunga Deposit Facility mempersempit koridor suku bunga dari sisi bawah. Kebijakan tersebut juga meningkatkan imbal hasil yang diterima bank ketika menempatkan dananya di BI.
Menurut Rully, perubahan ini dapat mendorong kenaikan suku bunga pasar uang jangka pendek. Namun, pengaruhnya terhadap stabilitas rupiah dinilai lebih terbatas dibandingkan kenaikan BI Rate secara langsung.
Di pasar saham, sektor perbankan menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian. Rully menyoroti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan BBCA.
Peningkatan imbal hasil penempatan dana di BI dapat memberikan tambahan pendapatan bunga bagi bank. Meski demikian, pengaruhnya terhadap laba bersih tetap bergantung pada struktur pendanaan dan penyaluran kredit masing-masing perseroan.
Sebaliknya, emiten properti, otomotif, dan perusahaan dengan kebutuhan pembiayaan besar masih menghadapi risiko kenaikan biaya pendanaan apabila suku bunga pasar uang meningkat.
Rully menilai tekanan tersebut relatif lebih terbatas dibandingkan skenario kenaikan seluruh koridor suku bunga sebesar 25 bps.
Prospek Obligasi Berbeda Menurut Tenor
Dampak kebijakan moneter BI terhadap pasar obligasi diperkirakan tidak merata. Perbedaan pandangan muncul terkait pengaruh kenaikan Deposit Facility terhadap Surat Berharga Negara (SBN) berdasarkan jangka waktu jatuh temponya.
Mirae Asset Sekuritas menilai keputusan BI relatif netral hingga sedikit positif bagi SBN tenor panjang. Sebaliknya, obligasi berjangka pendek dinilai lebih rentan menghadapi tekanan akibat kenaikan batas bawah suku bunga pasar uang.
Rully menjelaskan bahwa kenaikan Deposit Facility menjadi 5 persen memperkuat batas bawah koridor suku bunga tanpa mengubah BI Rate. Kondisi tersebut dapat memengaruhi instrumen pendapatan tetap dengan tenor yang berbeda.
Sementara itu, RHB Sekuritas memiliki pandangan lebih berhati-hati terhadap pasar obligasi, terutama instrumen berjangka panjang.
Andrey memperkirakan harga obligasi dapat menghadapi tekanan dalam jangka pendek apabila ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil atau yield obligasi yang bergerak berlawanan arah dengan harga.
Dengan demikian, arah pasar saham dan obligasi masih berkaitan erat dengan efektivitas kebijakan BI dalam menjaga rupiah serta perkembangan ekspektasi suku bunga pada periode berikutnya.
Menurut Andrey, Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek hingga menengah relatif lebih defensif di tengah ketidakpastian arah suku bunga. Pasar obligasi juga berpeluang kembali stabil apabila kebijakan BI mampu menjaga nilai tukar rupiah dan meredam tekanan arus modal keluar.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen berada di luar ekspektasi pasar. Sebelumnya, sebagian pelaku pasar memperkirakan BI Rate akan dinaikkan menjadi 6 persen.
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas per 21 Oktober 2026, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada September tercatat sebesar 13,26 persen secara tahunan. Angka tersebut masih melampaui kisaran proyeksi BI sebesar 8 hingga 12 persen untuk sepanjang 2026, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kiwoom menilai bank sentral masih menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Pelonggaran likuiditas diharapkan dapat mendukung penyaluran kredit perbankan. Namun, tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian ekonomi global dinilai masih membatasi ruang BI untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.


