Emitenhub.com - BRI Danareksa Sekuritas menyoroti 15 saham pilihan yang dinilai memiliki karakteristik lebih defensif di tengah risiko arus keluar dana asing akibat ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pemilihan saham difokuskan pada emiten dengan eksposur relatif rendah terhadap tekanan jual asing serta perusahaan yang memiliki katalis bisnis dan fundamental kuat.
Dalam risetnya, BRI Danareksa membagi saham pilihan ke dalam dua kelompok, yakni sembilan saham non-konstituen MSCI dengan katalis spesifik dan enam saham konstituen MSCI yang memiliki kepemilikan asing relatif rendah.
Strategi tersebut disusun untuk menghadapi risiko penyesuaian portofolio investor global apabila Indonesia mengalami perubahan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market atau Standalone Market.
Selain menyoroti saham pilihan, BRI Danareksa memperkirakan potensi arus keluar modal asing secara kumulatif mencapai USD14 miliar hingga USD16 miliar sampai kuartal IV/2027 dalam skenario tekanan terberat.
Daftar 15 Saham Pilihan BRI Danareksa di Tengah Risiko MSCI
Untuk kelompok non-konstituen MSCI, BRI Danareksa memilih sembilan saham yang dinilai memiliki katalis spesifik di luar perubahan komposisi indeks global.
Daftar tersebut mencakup PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan target harga Rp6.000, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) Rp1.400, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp530.
Selanjutnya, PT Elnusa Tbk (ELSA) memiliki target harga Rp1.110, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp70, serta PT Indosat Tbk (ISAT) Rp3.430.
Tiga saham lainnya adalah PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dengan target Rp480, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) Rp3.150, dan PT Timah Tbk (TINS) Rp4.800.
Sementara itu, kelompok kedua terdiri atas enam saham konstituen MSCI dengan eksposur kepemilikan asing yang dinilai relatif rendah.
BRI Danareksa memasukkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp12.400, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp3.300, serta PT Astra International Tbk (ASII) Rp6.850.
Daftar tersebut juga mencakup PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan target harga Rp4.800, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp700, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp9.200.
Meski demikian, tingginya kepemilikan investor asing tidak otomatis membuat suatu saham harus dihindari.
BRI Danareksa menilai ASII dan PT United Tractors Tbk (UNTR) tetap menarik untuk dicermati. Kedua saham tersebut mencatat tekanan jual bersih asing yang relatif terbatas ketika pasar saham Indonesia mengalami koreksi tajam pada 16 Oktober 2026.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat ketahanan saham terhadap aksi jual asing tidak selalu ditentukan oleh besarnya kepemilikan investor luar negeri.
Perilaku investor dan kemampuan emiten mempertahankan fundamental bisnis juga menjadi pertimbangan dalam memilih saham.
Di tengah koreksi pasar, saham dengan imbal hasil dividen tinggi turut menjadi perhatian. Namun, BRI Danareksa mengingatkan bahwa dividend yield yang menarik tidak menjamin perlindungan terhadap penurunan harga saham.
Karena itu, keberlanjutan pembayaran dividen dan stabilitas laba perusahaan dinilai lebih penting dibandingkan besarnya imbal hasil dividen pada satu periode.
Skenario Terburuk MSCI, Dana Asing Bisa Keluar USD16 Miliar
BRI Danareksa juga melakukan simulasi tekanan pasar atau stress test terhadap tiga kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.
Ketiga skenario tersebut mencakup penurunan status menjadi Frontier Market, Advanced Frontier, dan Standalone Market.
Dalam analisis tersebut, perubahan status menjadi Standalone Market dinilai membawa risiko terbesar. Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria untuk memperoleh alokasi investasi berdasarkan indeks acuan pasar berkembang maupun pasar frontier.
BRI Danareksa memperkirakan akumulasi arus keluar modal asing dalam skenario tersebut dapat mencapai USD14 miliar hingga USD16 miliar sampai kuartal IV/2027.
Sebagai perbandingan, potensi arus keluar pada skenario Frontier Market dan Advanced Frontier diperkirakan berada dalam kisaran USD7 miliar hingga USD9 miliar.
Dari sisi waktu, tekanan penjualan investor aktif diperkirakan dapat terkonsentrasi pada kuartal IV/2026 dengan nilai sekitar USD4 miliar.
Sementara itu, penjualan oleh investor pasif diperkirakan lebih banyak terjadi pada kuartal III/2027 setelah keputusan akhir MSCI mengenai klasifikasi Indonesia.
Namun, besarnya penjualan investor aktif masih bergantung pada perkembangan penegakan aturan pasar modal, kepercayaan investor, dan valuasi saham.
Menurut BRI Danareksa, peningkatan kredibilitas pengawasan dan penegakan hukum dapat membantu membatasi tekanan jual sebelum keputusan MSCI ditetapkan.
Dalam perhitungan terpisah, sekuritas tersebut memperkirakan potensi arus keluar dana pasif sebesar USD2,5 miliar hingga USD6 miliar apabila Indonesia sepenuhnya turun menjadi Standalone Market.
Estimasi dasarnya berada di level USD4 miliar dengan asumsi saham Indonesia dikeluarkan dari indeks komposit MSCI.
Adapun potensi penjualan investor aktif memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi.
BRI Danareksa menggunakan asumsi nilai kepemilikan asing non-pasif sebesar USD35,4 miliar untuk menghitung beberapa kemungkinan penyesuaian portofolio.
Jika investor aktif menjual 5 persen kepemilikannya, potensi dana keluar diperkirakan mencapai USD1,8 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi USD3,5 miliar dalam skenario penjualan 10 persen dan USD7,1 miliar apabila penjualan mencapai 20 persen.
Berdasarkan kombinasi skenario dasar penjualan aktif dan pasif, total potensi arus keluar dana asing diperkirakan sebesar USD7,5 miliar.
Dampak terhadap perdagangan akan dipengaruhi oleh waktu dan konsentrasi penjualan. Saham perbankan besar menjadi perhatian karena menyumbang sekitar 72 persen bobot MSCI Indonesia Standard Index.
Investor Domestik Dinilai Belum Bisa Langsung Menutup Outflow
BRI Danareksa menilai investor institusi domestik memiliki kapasitas untuk menyerap sebagian tekanan penjualan saham oleh investor asing.
Dana pensiun dan perusahaan asuransi tercatat mengelola aset sekitar Rp2.706 triliun. Namun, untuk sepenuhnya mengimbangi arus keluar dalam skenario dasar, diperlukan peningkatan alokasi investasi saham sekitar tujuh poin persentase.
Penyesuaian portofolio sebesar itu dinilai lebih realistis apabila dilakukan secara bertahap.
Artinya, besarnya aset institusi domestik belum otomatis menjamin seluruh tekanan penjualan asing dapat diserap dalam waktu singkat.
BRI Danareksa juga membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara yang sebelumnya mengalami perubahan klasifikasi MSCI, termasuk Argentina, Nigeria, Pakistan, Rusia, dan Turki.
Meski demikian, pengalaman negara-negara tersebut dinilai tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan karena perbedaan penyebab perubahan status dan karakteristik pasar.
Argentina mengalami penurunan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 2021 dalam situasi yang dipengaruhi kontrol modal.
Nigeria juga turun dari Frontier Market menjadi Standalone Market pada periode 2023 hingga 2024 akibat kendala repatriasi valuta asing.
Sementara itu, Pakistan mengalami perubahan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market pada 2021 karena keterbatasan ukuran dan likuiditas pasar.
Kasus Rusia pada 2022 memiliki karakteristik berbeda karena penurunan status dipicu oleh penerapan sanksi luar biasa.
Adapun Turki pada 2026 dinilai memiliki kemiripan dari sisi perhatian terhadap integritas pasar. Namun, MSCI mengambil pendekatan pembekuan perubahan indeks atau index freeze, bukan langsung menurunkan klasifikasi pasar.
BRI Danareksa juga mencatat bobot Indonesia dalam indeks MSCI masih berada di kisaran 0,43 persen. Porsi tersebut lebih besar dibandingkan bobot Argentina sekitar 0,12 persen ketika negara itu dikeluarkan dari indeks.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu dasar penilaian bahwa arus keluar modal secara nominal dari pasar Indonesia dapat lebih besar, meskipun basis investor domestiknya relatif lebih dalam.
Dengan berbagai skenario tersebut, BRI Danareksa menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham. Eksposur terhadap investor asing, ketahanan laba, keberlanjutan dividen, serta katalis spesifik emiten menjadi faktor yang perlu diperhatikan selama ketidakpastian klasifikasi MSCI berlangsung.


