Emitenhub.com - Ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 ke China dilaporkan turun 30,78% secara tahunan menjadi 14,47 juta ton, tetapi naik tipis 1,26% dibandingkan Juli 2026.
Penurunan ekspor batu bara disebut dipengaruhi surutnya sejumlah sungai di Kalimantan.
Hal itu diketahui berdasarkan data pelacakan kapal Kpler yang dikompilasi Sxcoal. Menurut data tersebut, ekspor batu bara melalui laut sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 302 juta ton atau turun 4,51% secara tahunan (year on year/yoy).
Dari jumlah tersebut, pengiriman ke China mencapai 116 juta ton atau turun 2,73%.
Sxcoal melaporkan penurunan ekspor batu bara Indonesia dipengaruhi ketidakpastian kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, serta terhambatnya ekspor akibat sungai yang dilalui tongkang surut di Kalimantan.
"Ketinggian air di Sungai Barito turun menjadi 3—4 meter dari biasanya 8—18 meter, memaksa tongkang untuk mengurangi muatan hingga setengahnya. Beberapa bagian sungai menjadi tidak dapat dilayari, sehingga mendorong beberapa produsen untuk menyatakan force majeure [keadaan kahar]," tegasnya.
Adapun ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 dilaporkan turun 23,34% secara tahunan menjadi 36,1 juta ton, dari capaian tahun sebelumnya sejumlah 47,09 juta ton.
Secara bulanan, ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 turun 6,54% dari besaran Juli 2026 sebanyak 38,62 juta ton.
Rincian Negara Tujuan Ekspor
Berdasarkan negara tujuannya, Sxcoal mencatat ekspor batu bara Indonesia ke Asia pada Agustus 2026 mencapai 35,83 juta ton atau turun 23,66% secara tahunan dan turun 6,59% secara bulanan (month to month/mtm).
Ekspor ke Asia mengambil porsi sekitar 99,3% dari total ekspor yang dilakukan Indonesia. Sxcoal mencatat China tetap menjadi pengimpor batu bara Indonesia terbesar pada Agustus 2026, dengan volume sebesar 14,47 juta ton.
Sxcoal mencatat ekspor batu bara Indonesia ke India pada Agustus 2026 mencapai 7,1 juta ton atau turun 15,83% secara tahunan, tetapi naik 12,01% secara yoy.
Kemudian, ekspor batu bara Indonesia ke Filipina pada Agustus 2026 mencapai 2,69 juta ton atau turun 18,1% secara yoy dan turun 26,38% secara mtm.
"Filipina sangat bergantung pada impor batu bara dari Indonesia. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di negara tersebut tetap stabil secara tahunan sepanjang 2026 ini, sehingga permintaan impor tetap stabil meskipun dalam skala yang moderat," ungkap Sxcoal.
Sementara itu, ekspor batu bara ke Malaysia pada Agustus 2026 mencapai 2,2 juta ton atau naik 28,52% secara yoy dan naik 4,91% secara mtm.
Selanjutnya, ekspor batu bara pada Agustus 2026 menuju Vietnam mencapai 2,07 juta ton atau naik 28,6% secara yoy, walaupun turun 21,58% secara mtm.
"Kpler memperkirakan pasar batu bara Indonesia akan tetap kuat hingga akhir tahun ini meskipun permintaan dari tujuan ekspor terbesarnya melemah, dengan kendala pasokan yang terus menopang harga," tulis Sxcoal.
Sebagai catatan, sejumlah sungai di Kalimantan yang digunakan tongkang batu bara untuk mengangkut hasil produksi tambang dari jetty ke kapal induk mengalami penurunan debit air. Kondisi tersebut terjadi di tiga sungai utama Kalimantan, yaitu Mahakam, Kapuas, dan Barito.
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi surutnya Sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara, bahkan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan hingga kini asosiasinya masih belum dapat mengestimasi volume ekspor batu bara yang pengirimannya terhambat akibat surutnya Sungai Mahakam.
Meski begitu, ia menyatakan penurunan debit air di Sungai Mahakam membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan.
"Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan," kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Di Sungai Mahakam, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500-6.000 ton.
Mursidi menjelaskan dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton.
Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran karena debit air mengalami penyusutan.
"Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah," kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
Sementara itu, di Sungai Barito, Argus Media melaporkan terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara.
"Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering," tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Adapun Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan surutnya Sungai Barito akibat El Nino diperkirakan menyebabkan pengiriman sekitar 3,9 juta ton batu bara terhambat dalam satu bulan.
Ketua Komite Pertambangan Minerba Apindo Hendra Sinadia menegaskan belum menerima laporan perusahaan yang mengumumkan keadaan kahar atau wanprestasi.
"Info yang saya dapat dari perusahaan anggota, dampak dari mulai suratnya hulu sungai Barito mengganggu shipment yang diperkirakan sekitar 3,9 juta ton dalam sebulan," kata Hendra ketika dihubungi, Senin (7/9/2026).
Sekadar catatan, Kementerian ESDM melaporkan realisasi produksi batu bara Januari-Juli 2026 mencapai 423,71 juta ton. Dari besaran itu, 279,4 juta ton atau sekitar 63,82% diekspor.
Kemudian, sekitar 113,4 juta ton atau 23,86% dipasok untuk kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO). Sementara itu, sisanya sekitar 39,51 juta ton atau 9,32% dijadikan stok nasional. Kementerian ESDM juga telah memutuskan memangkas target produksi batu bara nasional dalam RKAB 2026 menjadi kisaran 600 juta ton, turun dari realisasi produksi sepanjang 2025 sebesar 817,48 juta ton.
Berikut penutupnya, dengan gaya stop-slop: padat, aktif, tanpa pull-quote atau kontras biner, dan tanpa menambah fakta. Satu paragraf.
Penurunan ekspor batu bara Indonesia pada Agustus, terutama ke China, memperlihatkan bagaimana faktor cuaca bisa langsung mengganggu rantai pasok komoditas andalan ini. Surutnya Sungai Barito dan Mahakam akibat El Nino memaksa tongkang memangkas muatan, mendorong sejumlah produsen menyatakan force majeure, dan menahan jutaan ton pengiriman. Di tengah kendala pasokan yang justru menopang harga, arah ekspor pada sisa tahun akan bergantung pada seberapa lama musim kering bertahan serta kepastian kebijakan RKAB yang masih membayangi produksi nasional.


