Emitenhub.com - Fitch Group baru-baru ini merevisi ke atas target harga batu bara Newcastle untuk tahun ini. Selain faktor produksi, El Nino turut menjadi penentu signifikan karena berdampak pada lalu lintas pengapalan laut.
Batu bara Newcastle, acuan global untuk batu bara termal berkalori tinggi di kawasan Asia-Pasifik, kini diperkirakan menyentuh US$125 per ton pada akhir 2026. BMI, bagian dari Fitch Group, dalam proyeksi sebelumnya memasang target US$115 per ton untuk tahun ini.
Revisi ini mencerminkan ketidakpastian baru terkait konflik di Timur Tengah, setelah Presiden Trump menyatakan gencatan senjata AS-Iran berakhir, sekaligus munculnya fenomena cuaca El Nino.
"Risiko eskalasi kembali diperkirakan akan membatasi jumlah kapal yang melintasi Selat tersebut [Hormuz] dalam waktu dekat, meskipun skenario dasar kami tetap memperkirakan tercapainya kesepakatan komprehensif pada kuartal ini [kuartal III/2026], meskipun mungkin disertai dengan lonjakan ketegangan yang terjadi sesekali," tulis BMI dalam laporannya, dikutip Jumat (21/8/2026).
Ketidakpastian yang kembali mengemuka ini akan memaksa perusahaan utilitas di negara seperti Jepang dan Korea Selatan mempertahankan pembelian batu bara di pasar spot pada level di atas normal dalam beberapa pekan mendatang. Langkah itu ditempuh sebagai antisipasi terhadap keterlambatan pemulihan pasokan LNG.
"Jika konflik kembali memanas dan Selat Hormuz tetap tertutup hingga kuartal IV/2026, kami memperkirakan harga rata-rata batu bara termal akan mendekati kisaran US$135-140 per ton untuk tahun tersebut," lanjutnya.
Namun, terlepas dari dinamika di Timur Tengah, BMI memperkirakan harga batu bara tetap kuat pada semester II/2026 akibat dampak fenomena cuaca El Nino.
Menurut Climate Prediction Center dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) AS, kondisi El Nino saat ini telah terjadi dan diperkirakan menguat dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah model bahkan memproyeksikan fenomena yang kuat hingga sangat kuat.
Fenomena ini bakal memicu berkurangnya curah hujan dan suhu yang lebih tinggi, baik bagi negara importir batu bara seperti China dan India maupun negara eksportir seperti Indonesia.
Bagi importir batu bara termal, El Nino justru menekan risiko gangguan cuaca terhadap produksi dan logistik batu bara domestik. Pada bulan-bulan musim panas normal, tambang batu bara di India kerap terganggu hujan monsun, sementara sebagian wilayah China bisa menghadapi gangguan penambangan dan logistik akibat banjir.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan utilitas beralih ke pasar impor lewat jalur laut ketika cadangan batu bara pra-monsun terbukti tak mencukupi.
Musim yang lebih kering dari biasanya semestinya memungkinkan tambang domestik dan jaringan kereta api beroperasi lebih konsisten, sehingga menekan kebutuhan impor darurat.
"Namun, kami memperkirakan peningkatan ketersediaan pasokan domestik ini hanya akan mengimbangi sebagian dampak El Niño terhadap permintaan batu bara domestik, yang akan terjadi melalui dua saluran," ujar mereka.
Pertama, cuaca yang lebih kering bakal memperbesar peran batu bara dalam bauran energi pembangkit listrik. Kondisi itu mengurangi aliran air ke waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sehingga melemahkan salah satu sumber utama pembangkitan listrik yang fleksibel selama musim monsun.
Kedua, suhu yang lebih tinggi bakal mengerek penggunaan unit pendingin udara. Hal ini menaikkan permintaan listrik pada siang maupun malam hari sekaligus mendongkrak pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara.
Bagaimana El Nino Menerpa Indonesia
Sementara itu, bagi eksportir batu bara termal, El Nino terutama akan menerpa Indonesia ketimbang Australia.
Meski produksi di tingkat tambang Indonesia diperkirakan relatif tak terpengaruh, dan bahkan mungkin diuntungkan oleh berkurangnya gangguan hujan serta keputusan pemerintah mencabut kuota produksi batu bara nasional, cuaca yang lebih kering justru akan menurunkan ketinggian air di jalur utama pengangkutan batu bara dengan tongkang di Kalimantan, khususnya di Sungai Mahakam dan Barito.
Kedua sungai itu merupakan jalur vital untuk mengangkut batu bara dari tambang pedalaman menuju pelabuhan pesisir. Turunnya ketinggian air kemungkinan bakal memperlambat pergerakan kapal sekaligus memaksa tongkang mengangkut lebih sedikit batu bara demi menghindari kandas.

