Saham

Duet Emiten Hapsoro RAJA dan RATU Gaspol Bangun Ekosistem Gas dari Hulu ke Hilir

Ringkasan Cepat

Dua emiten migas Grup Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan anak usahanya PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), berekspansi agresif membangun ekosistem gas terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari akuisisi kepentingan di proyek FLNG Genting, blok migas, hingga kapal LNG dan LNG plant. RATU berfokus memperbesar portofolio blok migas dengan target menambah minimal satu aset pada 2027, sementara RAJA memperkuat lini midstream-downstream dan berencana kembali membawa anak usahanya IPO pada 2027,

6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi ekspansi Rukun Raharja dan Raharja Energi Cepu membangun ekosistem gas terintegrasi dari hulu hingga hilir

Ilustrasi ekspansi Rukun Raharja dan Raharja Energi Cepu membangun ekosistem gas terintegrasi dari hulu hingga hilir (Foto:RAJA)

Emitenhub.com - Dua emiten minyak dan gas (migas) Grup Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan anak usahanya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), tengah berekspansi membangun jaringan bisnis gas dari hulu ke hilir.

Terbaru, kedua emiten telah menandatangani perjanjian akuisisi kepentingan strategis pada proyek pengembangan gas alam dan Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) terintegrasi pertama di Indonesia milik Genting Berhad.

Sebelumnya, RATU juga memperbesar eksposur di sisi hulu melalui akuisisi 20% participating interest pada SMS Development Limited (SMSD) di Blok Selat Madura, yang memiliki cadangan 584 miliar kaki kubik (BCF) dan menguasai 30% produksi gas di Jawa Timur. Sementara itu, induknya, RAJA, tengah memperluas bisnis midstream-downstream melalui infrastruktur LNG, transportasi gas, dan fasilitas pengolahan.

Tak berhenti pada akuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas (PTLNG), RAJA juga tengah melakukan finalisasi akuisisi perusahaan pelayaran yang memiliki aset berupa satu unit LNG Carrier dan satu unit very large gas carrier, finalisasi kajian proyek LNG plant di Kalimantan, serta kajian kelayakan investasi bersama mitra Jepang untuk pembangunan pabrik biogas berbasis limbah peternakan.

Adapun cash flow dan profitabilitas yang solid memberi ruang bagi RAJA dan RATU untuk mengeksekusi aset-aset baru. RAJA memiliki recurring income dan kontrak jangka menengah hingga panjang sampai 15 tahun. Sedangkan RATU menunjukkan profitabilitas yang sangat kuat dan memiliki ruang leverage dengan debt to equity ratio (DER) di level 2,42 kali, di bawah financial covenant perseroan sebesar 4 kali.

Di sisi lain, kedua emiten tengah memasuki fase yang membutuhkan modal jauh lebih besar. Pertama, RATU sudah mengeluarkan US$121,5 juta untuk akuisisi SMSD dan membiayainya antara lain dengan obligasi Rp800 miliar serta fasilitas kredit US$109,2 juta dari Bank Mandiri.

Kedua, RAJA memiliki daftar proyek yang cukup agresif seperti floating LNG, akuisisi perusahaan pelayaran dengan LNGC dan VLGC, pipa BBM Kalimantan Timur, LNG plant, serta biogas. Untuk proyek LNG plant itu sendiri, nilai awal investasinya ditaksir mencapai US$300 juta.

Selain itu, mesin laba kedua emiten masih ditopang aset dan bisnis eksisting. Artinya, keberhasilan ekspansi RAJA dan RATU akan bergantung pada seberapa efektif integrasi bisnis mereka, serta strategi pendanaan yang optimal tanpa mempersempit ruang kedua emiten untuk melakukan pengembangan lanjutan.

Direktur RATU Adrian Hartad menyampaikan perseroan memiliki financial covenant untuk bank loan di level 4 kali dan untuk obligasi di level 5 kali. Namun, manajemen menetapkan batas agar rasio utang tersebut tidak berada di atas 3 kali.

"Sehingga kita punya buffer sampai 4 kali dan juga 5 kali sebagai mitigasi, apabila nanti terjadi hiccups atau misalnya oil price yang turun, atau juga produksi yang turun, atau ada kebutuhan capex atau maintenance yang lama. Dengan ini kita bisa menjaga kestabilan cashflow dan juga kestabilan keberhasilan perusahaan ke depannya," kata Adrian dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Sembari menjaga batas aman rasio utang, RATU juga berupaya meningkatkan kinerja pendapatan dan laba bersih sehingga bisa memberikan ruang lega bagi kas operasional perseroan.

Sementara itu, Direktur RAJA Praba Diwangkara Caraka Putra Soma menjelaskan dana yang dikeluarkan perusahaan untuk akuisisi 5% PTLNG mencapai US$46 juta, sementara untuk rencana akuisisi 2 kapal LNG dibutuhkan dana sekitar US$150 juta.

"Bagaimana cara kita akan mendapatkan pendanaan untuk melakukan closing ini, perusahaan akan menggunakan dana internal dan eksternal, kombinasi antara beberapa pendanaan," jelas Praba.

Selain itu, perseroan juga akan menggalang dana dari pasar. Manajemen RAJA memastikan akan kembali membawa anak usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2027, meski saat ini belum bisa mengungkap perusahaan mana yang akan dibawa IPO.

Peluang Integrasi Bisnis

Praba melanjutkan, pihaknya melihat peluang integrasi bisnis yang prospektif dengan masuknya RAJA di segmen perkapalan LNG. Menurutnya, saat ini kebutuhan pasar gas domestik didominasi di Pulau Jawa, sehingga RAJA masuk ke bisnis perkapalan untuk mendistribusikan sumber gas yang ada di Indonesia Timur.

Menurutnya, transaksi dengan Grup Genting merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperluas portofolio usaha di energi sekaligus memperkuat rantai pasokan perseroan.

"Investasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dengan kompetisi dan portofolio usaha RAJA juga yang kami miliki di upstream melalui RATU dan di midstreamnya kami akan miliki melalui RAJA," tegasnya.

Direktur Utama RAJA Djauhar Maulidi menambahkan akuisisi FLNG merupakan bagian dari rencana jangka panjang RAJA untuk memperluas ekosistem bisnis energi perseroan, terutama LNG.

Bagi perseroan, fasilitas FLNG akan menjadi embrio awal dari ekosistem bisnis LNG yang saat ini sedang dibangun RAJA.

"Sehingga semua akan jadi terintegrasi, dan memang RATU sendiri memang ada rencana akan masuk juga ke dalam Blok Genting itu sendiri," kata Djauhar.

Amunisi Baru RATU

Sebagai anak usaha, RATU terus menambah amunisi baru dengan rencana akuisisi pada aset-aset blok migas. Adapun kontribusi RATU dalam laba bersih konsolidasi RAJA hampir mencapai 50%.

Direktur RAJA Ogi Rulino menilai akuisisi blok baru yang dilakukan RATU akan memberikan dampak konsolidasi yang signifikan.

"Jadi blok-blok minyak di Indonesia ini sangat terbatas sehingga RATU akan melakukan [akuisisi] sangat selektif, mana yang akan dilakukan akuisisi. Insyaallah mudah-mudahan akan ada aksi lanjutan dari RATU," ujar Ogi.

Gayung bersambut, Direktur Utama RATU Sumantri menyampaikan pada 2027 pihaknya menargetkan setidaknya ada satu aset blok migas yang akan diakuisisi perseroan. Menurutnya, departemen pengembangan RATU selalu aktif mencari aset-aset berkualitas baru untuk diakuisisi.

"Mereka pasti melihat aset-aset baru. Karena kita ingin selalu punya list, sehingga kapan saja kondisi keuangan maupun secara aturan kita membolehkan untuk melakukan transaksi, kita bisa melakukan transaksi," ujar Sumantri.

Untuk strategi akuisisi pada 2027, Sumantri menjelaskan RATU memiliki sejumlah indikator, antara lain aset target akuisisi telah berproduksi dan dikelola oleh operator yang telah berpengalaman.

"Secara umum di 2027, kita berharap ada satu [akuisisi], minimal satu aset yang kita tambahkan ke dalam aset perseroan," tegas Sumantri.

Sementara itu, Direktur RATU Alexandra Sinta Wahjudewanti menjelaskan rencana ekspansi dalam satu hingga tiga tahun ke depan akan berfokus pada investasi non-operating dengan mengakuisisi production sharing contract (PSC) berskala besar tanpa mengoperasikan aset secara langsung.

Saat ini, RATU mengelola beberapa blok migas, yakni 2,24% hak partisipasi di Blok Cepu dengan durasi kontrak 30 tahun, 8% hak partisipasi di Blok Jabung berdurasi kontrak 20 tahun, serta 20% hak partisipasi di Blok Selat Madura berdurasi kontrak 20 tahun. Blok Selat Madura merupakan aset terbaru yang diakuisisi perseroan pada kuartal II/2026.

Berikutnya, pada ekspansi tahap kedua atau tahun ke-3 hingga ke-5, RATU akan berfokus pada transisi menuju investasi operasional. Pada tahap ini, RATU akan mengakuisisi hak partisipasi pada PSC produksi berskala lebih kecil, tetapi mulai mengelola dan mengoperasikan aset secara langsung.

Adapun dari hak partisipasi di tiga blok migas saat ini, seluruhnya dioperasikan secara tidak langsung. Blok Cepu dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited, Blok Jabung oleh PetroChina International Jabung Ltd., serta Blok Selat Madura oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).

Selanjutnya, pada ekspansi tahap ketiga atau tahun ke-6 hingga ke-10, RATU mulai melakukan investasi operasional. Perseroan menargetkan perluasan investasi operasional ke PSC dengan skala produksi yang lebih besar.

Lewat pembagian peran RATU di hulu dan RAJA di midstream-downstream, Grup Hapsoro merancang ekosistem gas terintegrasi dari sumur hingga distribusi, dengan proyek FLNG Genting sebagai simpul awalnya. Ambisi ini menuntut modal besar, mulai dari akuisisi blok migas, kapal LNG, hingga LNG plant, sehingga disiplin menjaga rasio utang dan kombinasi pendanaan internal, eksternal, serta rencana IPO anak usaha pada 2027 menjadi penentu. Pada akhirnya, keberhasilan RAJA dan RATU akan diukur dari seberapa mulus aset-aset baru itu terintegrasi dan mulai menyumbang arus kas, bukan sekadar memperpanjang daftar akuisisi.

Iklan