Emitenhub.com - Sejumlah pakar industri mineral dan batu bara (minerba) memprediksi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru dengan kapasitas total 8 gigawatt (GW) untuk industri aluminium bakal menyerap sekitar 35-40 juta ton batu bara setiap tahunnya.
Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo memprediksi PLTU batu bara yang digunakan proyek-proyek smelter aluminium bakal menyerap batu bara kualitas menengah-rendah dengan nilai kalori 4.200 kcal/kg.
Dengan prediksi terdapat 8 GW PLTU captive baru, batu bara yang dibutuhkan seluruh PLTU tersebut bakal mencapai sekitar 3,5 juta ton per bulan atau setara 40 juta ton per tahun.
"Dengan asumsi menggunakan kalori 4.200 kcal/kg, maka 8 GW membutuhkan sekitar 40-an juta per tahun atau sekitar 3.5 juta per bulan jika telah beroperasi penuh," kata Singgih ketika dihubungi, Sabtu (12/9/2026).
Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menilai industri aluminium merupakan sektor yang membutuhkan energi cukup besar dan stabil.
Batu Bara sebagai Opsi Murah
Rizal memandang batu bara menjadi opsi energi yang relatif stabil dan cukup murah, tetapi sumber energi lain seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat menjadi pilihan alternatif untuk smelter aluminium.
Bagaimanapun, Rizal memprediksi industri aluminium bakal mengerek permintaan batu bara domestik sekitar 30-35 juta ton jika nantinya PLTU batu bara captive baru dengan kapasitas total 8 GW beroperasi penuh.
"Apabila PLTU yang akan dikembangkan sebesar 8 GW, diperkirakan meningkatkan kebutuhan batu bara untuk DMO sekitar 30—35 juta ton per tahun dengan kalori bervariasi antara 4000—4500 kcal/kg," kata Rizal ketika dihubungi, Rabu (9/9/2026).
Ia menegaskan besaran tersebut masih dapat dipenuhi oleh produksi penambang domestik, sehingga tidak dibutuhkan impor. "Ini sangat mungkin bisa dipenuhi dari produksi batu bara dalam negeri dan tidak perlu impor," ungkap Rizal.
Adapun Indonesia diprediksi harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok kebutuhan listrik smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang tengah getol berekspansi ke Tanah Air.
Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi investor asal China, dengan sekitar 75% dari seluruh proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.
CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.
Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.
"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan pada masa depan," kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom. Ia menyatakan jika seluruh smelter yang direncanakan terbangun sesuai rencana, industri aluminium di Tanah Air dapat memicu ledakan penggunaan batu bara industri secara mandiri.
Ia menilai hal tersebut bakal melemahkan target dekarbonisasi nasional, mengunci pertumbuhan industri pada jalur berintensitas karbon tinggi, serta membebankan biaya lingkungan dan kesehatan kepada masyarakat.
"Pemerintah seharusnya mewajibkan proyeksi kebutuhan energi komprehensif pada tahap pengembangan awal, serta memprioritaskan integrasi dengan jaringan dan energi terbarukan captive, seperti air dan surya, bukan batu bara," tegas Katherine.
Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.
Di sisi lain, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara Indonesia sepanjang 2025 mencapai 817,48 juta ton.
Dari total produksi 817,48 juta ton tersebut, sekitar 63,89% atau 523,35 juta ton dialokasikan untuk ekspor.
Sementara itu, 264,88 juta ton atau 30,2% diserap pasar domestik melalui skema DMO, sedangkan sisanya sekitar 5,9% atau 48,25 juta ton tercatat sebagai stok.
Penyerapan batu bara domestik terbesar berasal dari sektor kelistrikan dengan volume mencapai 141,4 juta ton.
Selanjutnya, industri smelter menyerap sekitar 76,3 juta ton batu bara, industri semen 8,78 juta ton, industri kertas 5,42 juta ton, pupuk 1,02 juta ton, tekstil 0,86 juta ton, serta sektor lainnya sekitar 13,1 juta ton.
Sebagai catatan, investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser investasi hilirisasi nikel yang selama ini mendominasi sektor pengolahan mineral.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II/2026 dengan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.
Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan kuartal I/2026 yang senilai Rp13,7 triliun.
Adapun posisi sektor bauksit disusul nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan total investasi di bidang hilirisasi untuk kuartal II/2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7%, dengan total realisasi investasinya hampir mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi kuartal II/2026.
Berbeda dengan periode-periode sebelumnya yang didominasi nikel, komoditas bauksit kini memimpin capaian realisasi investasi hilirisasi.
Rosan juga menyebutkan pergeseran ini dipicu percepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit, baik yang didanai investor domestik maupun asing.
"Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Nah, ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri," jelas Rosan dalam laporan capaian investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, medio Juli.


