Emitenhub.com - Surutnya sungai di Kalimantan yang digunakan sebagai jalur angkutan tongkang batu bara tidak hanya terjadi di Sungai Barito, tetapi juga di Sungai Mahakam.
Sungai terpanjang di Kalimantan Timur itu turut terimbas fenomena El Nino, sehingga muatan batu bara yang diangkut tongkang di wilayah tersebut terpaksa dibatasi.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi menyatakan telah mengeluarkan instruksi agar seluruh perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara di tongkang menjadi sekitar 5.500-6.000 ton.
Mursidi menjelaskan dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat mengangkut hingga 7.000 ton. Namun, saat ini kondisi tersebut dapat membahayakan pelayaran karena debit air mengalami penyusutan.
"Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah," kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
"Artinya, kalau normalnya itu misalnya satu tongkang itu 7.000 [ton], maka harus dikurangi menjadi misalnya 5.500 atau 6.000, karena drafnya nanti akan mempengaruhi pada alur. Artinya ditakutkan nanti ada kejadian kecelakaan kandas kapal dan sebagainya," tegas dia.
Ia menyatakan lalu lintas tongkang batu bara di Sungai Mahakam terpantau menurun seiring surutnya sungai tersebut.
"Secara umum lancar, hanya trafiknya yang mungkin berbeda, berkurang karena memang muatan juga terpengaruh ya," ungkap Mursidi.
Sebagai catatan, Sungai Mahakam merupakan salah satu jalur nadi perdagangan batu bara paling penting di Borneo. Dengan lebih dari 200 tongkang yang melintas per hari, aktivitas pengangkutan batu bara di sungai tersebut disebut-sebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun per hari atau Rp864 triliun per tahun.
Sementara itu, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya membenarkan sejumlah tongkang yang melalui Sungai Mahakam mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi.
SMM menegaskan penurunan kapasitas angkut membuat biaya logistik pengangkutan batu bara meningkat.
"Beberapa tongkang masih mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi. Kelompok industri tersebut mencatat bahwa penurunan kapasitas angkut per perjalanan akan membutuhkan lebih banyak perjalanan dan meningkatkan biaya logistik," tulis SMM dalam risetnya.
Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) Kaltim mencatat ekspor batu bara dari Kaltim pada kuartal IV/2025 mencapai 57.525 ton. Berdasarkan negara tujuannya, China dan India menjadi tujuan ekspor terbesar batu bara Kaltim.

Adapun dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai yang dapat membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atas pengiriman batu bara. "Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering," tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton per bulan. Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara diproduksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.


