International

Harga Minyak Berpotensi Tembus US$110, Konflik Teluk Persia Jadi Pemicu

Ringkasan Cepat

Harga minyak mentah dunia diperkirakan melanjutkan tren kenaikan hingga awal 2027, dengan Brent berisiko menembus US$110 per barel jika eskalasi konflik di Teluk Persia terus berlanjut, menurut analis Traderindo Wahyu Laksono. Batas bawah harga dinilai telah bergeser kokoh ke atas US$80 per barel seiring premi risiko perang US$10-US$15 per barel, sementara ketegangan terbaru berupa serangan AS di dekat Pulau Kharg dan peringatan IRGC turut mengerek Brent ke US$104,56 per barel pada Jumat (11/9/2

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi proyeksi kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik geopolitik di kawasan Teluk Persia

Ilustrasi proyeksi kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik geopolitik di kawasan Teluk Persia

Emitenhub.com - Harga minyak mentah dunia diperkirakan melanjutkan tren kenaikan hingga awal 2027.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo Wahyu Laksono memproyeksikan harga minyak mentah jenis Brent berisiko menembus level US$110/barel apabila eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia, Timur Tengah, terus berlanjut hingga akhir 2026.

Berdasarkan analisisnya, Wahyu menjelaskan minyak mentah Brent diestimasikan bergerak dalam rentang keseimbangan baru di kisaran US$80-US$100/barel.

"Batas atas harga berisiko melonjak ke level US$110/barel jika gangguan keamanan di Timur Tengah tidak kunjung mereda," ungkap dia saat dihubungi, Sabtu (12/9/2026).

Sebaliknya, level tumpuan kuat (support) berada di posisi US$75/barel apabila proses eskalasi geopolitik terkait Iran mulai menunjukkan kepastian.

Sementara itu, untuk jenis West Texas Intermediate (WTI), Wahyu memperkirakan harganya bergerak di rentang US$75-US$95/barel.

Ia menambahkan titik batas bawah WTI berpotensi merosot ke level US$70/barel, dengan syarat pasokan fisik minyak global kembali mengalir lancar ke pasar internasional.

Wahyu memaparkan pergerakan ini didukung struktur grafik satu tahun terakhir yang menunjukkan pemulihan secara solid.

"Kalau dilihat, harga minyak berhasil bangkit dari titik terendahnya pada pertengahan tahun di kisaran US$70/US$75/barel dan kini sedang menguji level tertinggi kedua atau secondary peak," tambahnya.

Kondisi ini mencerminkan adanya pergeseran batas bawah harga (structural floor) yang kini terpasang kokoh di atas US$80/barel, jauh melampaui asumsi makro konservatif pada awal 2026.

Keseimbangan Pasar yang Rapuh

Lebih lanjut, ia menyoroti peta fundamental pasar minyak dunia menuju 2027 berada dalam kondisi keseimbangan yang rapuh (fragile balance) dengan kecenderungan defisit marginal.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi global diproyeksikan melandai ke kisaran 0,9 hingga 1,1 juta barel per hari (bph) akibat peningkatan efisiensi energi, tingginya adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di China serta Eropa, dan tekanan suku bunga global.

Kendati demikian, permintaan dasar dari sektor petrokimia dan industri penerbangan dinilai tetap bertahan kuat.

Dari sisi penawaran, Wahyu menilai laju produksi dari negara-negara non-OPEC+, khususnya Amerika Serikat (AS), Guyana, dan Brasil, mulai mendekati batas efisiensi modal.

Di sisi lain, aliansi OPEC+ diperkirakan terus mempertahankan kapasitas cadangan (spare capacity) sekitar 3 hingga 4 juta bph sebagai instrumen pengendali pasar.

Apabila sanksi ekonomi dan blokade rute distribusi Iran terus berlangsung, kapasitas cadangan tersebut akan terserap dengan cepat untuk menutup defisit fisik, sehingga menjaga stok minyak dunia tetap tipis.

Dalam kesimpulannya, Wahyu menegaskan faktor geopolitik masih menjadi penyumbang premi risiko terbesar yang memicu lonjakan harga hingga awal 2027.

"Premi risiko perang atau war premium yang melekat pada harga minyak saat ini diperkirakan mencapai US$10-US$15/barel," terangnya.

Konflik fisik di sekitar Selat Hormuz, ketidakpastian implementasi nota kesepahaman gencatan senjata, serta sanksi sekunder AS melalui Operation Economic Outcast terhadap armada kapal tanker dan sistem perbankan pembeli minyak telah menyebabkan fragmentasi pada pasar minyak fisik.

"Selama rute navigasi kapal tanker di Teluk Persia belum mendapatkan jaminan keamanan internasional permanen, premi risiko ini tidak akan hilang dari pembentukan harga kontrak berjangka," ungkap Wahyu.

Pekan ini, harga minyak terus naik setelah Fox News melaporkan AS menyerang target di dekat Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak mentah Iran.

Serangan tersebut meningkatkan eskalasi permusuhan dan memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih parah melalui Selat Hormuz.

Target serangan tersebut termasuk kapal tanker minyak Iran, kata seorang reporter Fox News dalam unggahan di X dengan mengutip pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya.

Reporter tersebut menyebut serangan itu sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memaksa Teheran menyerah. Iran merespons dengan memberikan peringatan kepada kapal-kapal di Teluk Persia.

Stasiun televisi Pemerintah Iran, dengan mengutip pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melaporkan seluruh awak kapal tanker di sekitar dermaga Kuwait dan Bahrain harus "segera meninggalkan kapal mereka, baik yang sedang berlabuh maupun bersandar di dermaga, karena akan menjadi target."

Serangan AS tersebut terjadi setelah serangkaian serangan baru yang dilancarkan milisi Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi di wilayah selatan kerajaan tersebut, yang memaksa penghentian operasi di sejumlah fasilitas energi.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dalam sepekan terakhir, mengakhiri periode relatif tenang sekaligus mendorong harga minyak lebih tinggi.

Sebelum perang Iran, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dunia melewati Selat Hormuz menuju konsumen global. Sejumlah minyak mentah masih diekspor melalui jalur perairan sempit tersebut, sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya, tetapi kapal-kapal tersebut menghadapi ancaman serangan yang terus-menerus.

Harga minyak Brent untuk penyelesaian November turun 2,9% menjadi US$104,56/barel pada Jumat (11/9/2026). Harga kontrak berjangka Brent telah naik lebih dari 8% sepanjang pekan ini. Sementara itu, harga minyak WTI untuk pengiriman Oktober turun 2,8% menjadi US$99,65/barel.

Iklan