Market

Analis: Intervensi BI Tak Cukup, Fundamental Jadi Kunci Penguatan Rupiah

Ringkasan Cepat

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah yang berkelanjutan tidak cukup bersandar pada intervensi Bank Indonesia, melainkan harus ditopang perbaikan fundamental seperti menjaga defisit transaksi berjalan, memperkuat ekspor bernilai tambah, dan menarik investasi asing langsung. Rupiah menutup perdagangan Selasa (6/10/2026) menguat tipis 0,03 persen ke Rp17.901 per dolar AS. BI sendiri mengandalkan instrumen spot dan DNDF untuk menjaga stabilitas kurs yang belakang

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Petugas menghitung uang rupiah dan dolar AS sebagai ilustrasi upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Petugas menghitung uang rupiah dan dolar AS sebagai ilustrasi upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Emitenhub.com - Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah yang berkelanjutan tidak bisa hanya bersandar pada intervensi Bank Indonesia (BI). Menurutnya, penopang utama rupiah justru ada di perbaikan fundamental, mulai dari menjaga defisit transaksi berjalan, memperkuat ekspor bernilai tambah, menarik investasi asing langsung (FDI), hingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal dan moneter.

"Intervensi BI tetap penting untuk meredam volatilitas, namun bukan untuk penguatan rupiah jangka panjang," kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (7/10/2026).

Kebijakan paling efektif, lanjutnya, adalah memperkuat arus modal masuk lewat FDI sekaligus memperbaiki neraca eksternal. Caranya lewat insentif investasi, pengembangan hilirisasi yang berorientasi ekspor, dan menjaga kredibilitas kebijakan fiskal serta moneter.

"Saat ini tekanan rupiah juga masih besar dari tingginya yield AS dan harga minyak, sehingga perbaikan fundamental domestik menjadi semakin penting," terangnya.

Rupiah menutup perdagangan Selasa (6/10/2026) dengan penguatan tipis 0,03 persen ke Rp17.901 per dolar AS. Apresiasi itu ditopang harga minyak mentah Brent yang kembali turun 0,68 persen ke US$99,7 per barel. Tekanan di pasar surat utang global juga sedikit mereda seiring turunnya yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 2,3 bps ke [ANGKA PERLU DIKONFIRMASI: input tertulis 5,28 persen, kemungkinan besar keliru, lihat catatan].

Tiga instrumen penjaga rupiah

BI sebelumnya memaparkan instrumen yang dipakai menjaga stabilitas rupiah, yang belakangan kerap bergejolak hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut perangkat operasionalnya mencakup instrumen spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

"Secara operasional kita punya instrumen-instrumen untuk merespon. Di lain yang sifatnya kebijakan secara operasional, kami punya instrumen spot, kita punya instrumen DNDF," kata Erwin dalam Taklimat BI, Rabu (30/9/2026).

Keduanya difokuskan untuk pasar domestik, dengan pembagian peran berdasarkan tingkat urgensi. Kebutuhan stabilisasi yang mendesak dan tak bisa ditunda direspons lewat instrumen spot. Adapun kebutuhan yang masih bisa ditunda dilayani lewat DNDF. Lewat skema ini, pelaku pasar dengan kewajiban impor yang dapat ditunda bisa memakai DNDF, yang sekaligus didorong BI sebagai instrumen lindung nilai.

Untuk pergerakan rupiah di pasar NDF luar negeri, Erwin menjelaskan transaksinya tetap berjalan saat pasar domestik tutup. Ia mencontohkan, bila pasar domestik ditutup di level tertentu lalu muncul sentimen global yang menggerakkan kurs di pasar NDF secara tajam, kondisi itu menjadi acuan pelaku pasar domestik saat perdagangan dibuka keesokan harinya.

Iklan