Saham

Konglomerat Berburu Aset Tambang, dari Haji Isam Incar BYAN hingga BUMI Caplok Australia

Ringkasan Cepat

Sejumlah konglomerasi gencar memburu aset tambang sepanjang 2026 sebagai jalan diversifikasi, mulai dari rumor Haji Isam yang membidik 62% saham BYAN senilai US$3 miliar, BUMI yang merambah emas dan tembaga lewat akuisisi di Australia, ITMG yang masuk ke nikel, hingga INDY yang mengurangi ketergantungan batu bara melalui proyek emas Awak Mas dan ekosistem kendaraan listrik. Analis menilai tren diversifikasi ini akan berlanjut seiring transisi energi, tetapi keberhasilannya bergantung pada kekuat

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi gelombang perburuan aset tambang oleh konglomerasi sebagai strategi diversifikasi di tengah transisi energi

Ilustrasi gelombang perburuan aset tambang oleh konglomerasi sebagai strategi diversifikasi di tengah transisi energi (Foto:BUMI)

Emitenhub.com - Sejumlah grup usaha atau konglomerasi gencar melakukan perburuan aset tambang sepanjang 2026. Perburuan aset tambang ini menjadi salah satu jalan bagi grup-grup usaha tersebut untuk melakukan diversifikasi.

Perburuan aset tambang terbaru yang menyita perhatian publik datang dari rumor pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam yang membidik sekitar 62% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong dan keluarganya.

Kendati kabar tersebut belum terkonfirmasi, berdasarkan berita yang beredar, Haji Isam tengah menjajaki akuisisi BYAN dengan nilai sekitar US$3 miliar. Entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut telah mengajukan tawaran atas 62% saham BYAN. Hanya saja, nilai tawaran ini disebut jauh dari nilai pasar.

Di sisi lain, sejumlah grup tambang juga agresif mengamankan aset tambang baru. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, saat ini tidak lagi hanya mengandalkan batu bara dan telah memperluas portofolionya ke emas dan tembaga melalui akuisisi aset di Australia, termasuk Wolfram.

Bisnis mencatat dalam dua tahun terakhir, BUMI menjalankan empat transaksi akuisisi saham, dengan tiga di antaranya menyasar perusahaan pertambangan asal Australia.

Tiga transaksi akuisisi yang telah rampung mencakup Loyal Metals Ltd., Jubilee Metals Limited (JML), dan Wolfram Limited. Sementara itu, satu transaksi lainnya, yakni akuisisi 45% saham PT Laman Mining Indonesia, masih dalam proses.

Teranyar, BUMI melalui anak usahanya, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA), telah merampungkan akuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd. pada 4 September 2026.

Manajemen BUMI dalam laporan tahunannya menuturkan akuisisi ini akan memberikan kontribusi yang berarti bagi kinerja jangka panjang BUMI ke depan.

Diversifikasi juga dilakukan oleh pemain batu bara lainnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Direktur Utama ITMG Mulianto menjelaskan ITMG telah masuk ke bisnis nikel karena pihaknya melihat arah transisi energi ke depan akan kian mendukung proses elektrifikasi, dan nikel merupakan salah satu mineral yang berperan penting dalam proses tersebut.

"Fokus kami pada tahun-tahun mendatang tidak hanya pada nikel, tetapi kami juga terbuka terhadap peluang di strategic mineral lainnya yang memiliki peran penting dalam mendukung proses elektrifikasi dan memenuhi kebutuhan energi di masa mendatang," kata Mulianto dalam paparan publik pekan lalu.

Mulianto juga menyampaikan anak usaha Banpu ini terbuka dengan opsi peningkatan kepemilikan di PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE). Sebagai informasi, ITMG memiliki sebanyak 585 juta saham NICE atau setara 9,62% kepemilikan saat ini.

"Kami selalu terbuka dengan opsi tersebut sepanjang dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham dan sejalan dengan strategi jangka panjang Perseroan," ujarnya.

Strategi pemain tambang juga bergerak ke arah yang berbeda. PT Indika Energy Tbk (INDY) justru melakukan divestasi aset dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, sembari mempertahankan eksposur di pertambangan emas melalui proyek Awak Mas dan membangun ekosistem bisnis kendaraan listrik.

INDY terus mempercepat pembangunan proyek tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan yang ditargetkan memproduksi emas pertama atau first gold pada kuartal II/2027. Hingga akhir Juni 2026, progres konstruksi proyek tersebut telah mencapai 60,63%.

Senior Vice President and Head of CEO Office, Corporate Communications, and Sustainability Indika Energy Ricky Fernando menyampaikan proyek Awak Mas tersebut masih berada dalam tahap konstruksi. Namun, setelah konstruksi selesai, proyek akan memasuki tahapan menuju kesiapan operasional sebelum masuk fase produksi komersial.

"Per 30 Juni 2026, kemajuan konstruksi proyek telah mencapai 60,63% menuju target penyelesaian konstruksi," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Senin (14/9/2026).

Pengembangan Awak Mas sendiri menjadi bagian dari strategi INDY untuk memperbesar kontribusi bisnis non-batu bara. Perseroan melihat proyek emas tersebut berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru setelah beroperasi penuh.

Tak hanya di tambang emas, Indika Energy juga memperbesar bisnis kendaraan listrik dengan membangun ekosistem terintegrasi, mulai dari penjualan kendaraan, distribusi, layanan purnajual, infrastruktur pengisian daya, hingga pembiayaan.

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik ini sekaligus menjadi bagian dari langkah perseroan memperluas portofolio bisnis di luar batu bara sekaligus menangkap peluang pertumbuhan dari tren elektrifikasi transportasi di Indonesia.

Wajah Masa Depan Diversifikasi Bisnis

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan diversifikasi yang nyata mempunyai tiga ciri, yaitu aset baru yang sudah menghasilkan cashflow atau memiliki timeline produksi jelas, kontribusi ke pendapatan yang mulai terlihat jelas di laporan keuangan dan bukan hanya narasi publik, serta manajemen yang memiliki kapabilitas di domain baru, bukan belajar dari nol.

Wafi juga menjelaskan diversifikasi emiten batu bara ke arah emas, mineral, hilirisasi, dan EV akan berlanjut. Menurutnya, harga batu bara termal menghadapi headwind dalam jangka panjang dari transisi energi, meski dalam jangka pendek masih menguntungkan.

"Kebijakan hilirisasi mendorong ke value-added processing. Emas dan mineral kritis punya demand driver beda siklus dari batu bara, ini natural hedge portofolio," ujar Wafi, Senin (14/9/2026).

Akan tetapi, lanjutnya, tidak semua pemain memiliki balance sheet dan kapabilitas untuk melakukan eksekusi yang baik. Menurutnya, perusahaan yang berhasil melakukan diversifikasi adalah yang memiliki kas kuat dan disiplin alokasi modal, bukan yang agresif berakuisisi memakai utang mahal.

Di sisi lain, Wafi melihat momentum harga komoditas tidak cukup kuat untuk menopang investasi tambang baru ketika harga batu bara berbalik. Ia menuturkan momentum harga saat ini tidak cukup sebagai satu-satunya dasar investasi tambang baru.

"Harga sekarang banyak ditopang war premium Selat Hormuz yang sifatnya geopolitical dan bisa berbalik cepat," ujar Wafi.

Wafi juga menjelaskan investasi di sektor pertambangan memiliki periode pengembalian modal (payback period) yang panjang, yakni sekitar 5-10 tahun. Karena itu, menjadikan harga komoditas pada level puncak siklus sebagai dasar keputusan belanja modal (capex) merupakan kesalahan klasik yang berulang di industri pertambangan.

Menurutnya, dasar investasi yang lebih berkelanjutan adalah posisi biaya produksi yang kompetitif dalam berbagai level harga komoditas, bukan asumsi bahwa harga tinggi akan terus berlanjut.

Gelombang perburuan aset tambang sepanjang 2026 memperlihatkan konglomerasi bergerak ke arah yang beragam, dari BUMI yang merambah emas dan tembaga di Australia, ITMG yang masuk ke nikel, hingga INDY yang justru mengurangi ketergantungan batu bara lewat proyek emas Awak Mas dan ekosistem kendaraan listrik. Analis menilai tren diversifikasi ini akan berlanjut seiring transisi energi yang membayangi prospek jangka panjang batu bara termal. Namun, pembedanya terletak pada eksekusi: hanya pemain dengan kas kuat, disiplin alokasi modal, dan kapabilitas di bidang baru yang akan benar-benar memetik nilai, bukan sekadar mengejar akuisisi saat harga komoditas sedang di puncak siklus.

Iklan