Saham

Bocor Setoran Royalti Jumbo Emiten Batu Bara: BUMI Juara Rp2 Triliun, Ini Deretan Penyetor Terbesar

Sembilan emiten batu bara nasional menyetor royalti total US$608,65 juta sepanjang semester I/2026, dengan BUMI memimpin sebesar US$140,83 juta disusul BYAN dan INDY. Di tengah tekanan harga global dan keterlambatan persetujuan RKAB, analis menilai prospek sektor batu bara berpotensi membaik pada paruh kedua 2026, dengan PTBA, AADI, ADRO, dan ITMG sebagai saham pilihan.

6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi deretan setoran royalti jumbo emiten batu bara pada semester I/2026 dengan BUMI sebagai penyetor terbesar

Ilustrasi deretan setoran royalti jumbo emiten batu bara pada semester I/2026 dengan BUMI sebagai penyetor terbesar (Foto:IATA)

Emitenhub.com - Nilai pembayaran royalti perusahaan mineral dan batu bara (minerba) menembus angka triliunan rupiah setiap tahunnya. Sejumlah emiten batu bara nasional bahkan mencatatkan setoran royalti berukuran jumbo sepanjang semester I/2026.

Deretan emiten tersebut antara lain emiten kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI); emiten milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN); hingga emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pemerintah akan memprioritaskan perusahaan dengan setoran royalti lebih tinggi dalam penyesuaian maupun relaksasi kuota produksi minerba.

Bahlil beralasan pemerintah kini tak lagi semata mengejar peningkatan volume produksi. Fokusnya bergeser ke optimalisasi penerimaan negara sekaligus menjaga harga komoditas tetap bernilai.

Total pembayaran royalti dari sembilan emiten yang dihimpun DataIndonesia sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai US$608,65 juta. Angka itu meningkat sekitar 1,69% dibandingkan semester I/2025 yang tercatat US$598,51 juta.

Setoran terbesar ke negara datang dari BUMI, yang membayarkan royalti US$140,83 juta pada semester I/2026. Nilai tersebut naik 7,06% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari US$131,55 juta pada periode sama 2025.

Di posisi kedua bertengger PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan setoran royalti US$136,52 juta, meningkat 9,90% YoY dibandingkan US$124,22 juta pada periode sama tahun lalu.

Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) menempati posisi ketiga dengan pembayaran royalti US$136,51 juta. Namun, angkanya justru turun 13,76% YoY dari US$158,29 juta. Posisi berikutnya diisi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan setoran US$110,94 juta, tumbuh 7,04% YoY dari US$103,65 juta.

Dengan demikian, empat emiten teratas itu masing-masing mencatatkan setoran royalti di atas US$100 juta. Secara kumulatif, BUMI, BYAN, INDY, dan ITMG menyumbang sekitar US$524,78 juta, atau setara 86,2% dari total pembayaran royalti sembilan emiten pada semester I/2026.

Di bawah kelompok papan atas, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membayarkan royalti US$26,68 juta, melonjak 19,70% YoY dari US$22,29 juta. Menyusul kemudian PT Harum Energy Tbk (HRUM) dengan setoran US$22,12 juta, meski angkanya turun 28,98% YoY dari US$31,14 juta.

Selanjutnya, PT Atlas Resources Tbk (ARII) menjadi emiten dengan pertumbuhan pembayaran royalti tertinggi dalam daftar. ARII menyetor US$20,93 juta, naik 49,02% YoY dibandingkan US$14,05 juta pada semester I/2025.

Di bawahnya, PT Resources Alam Indonesia Tbk (KKGI) membayarkan royalti US$9,12 juta atau turun 2,46% YoY dari US$9,35 juta. Adapun PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) menjadi penyetor terkecil dengan US$5 juta, kendati meningkat 26,02% YoY dari US$3,97 juta.

Sisi Kinerja Keuangan: BUMI Tumbuh di Dua Lini

Dari segi kinerja keuangan, Bumi Resources membukukan pertumbuhan baik dari sisi top line maupun bottom line secara tahunan pada semester I/2026.

BUMI tercatat meraih laba bersih entitas induk US$58,9 juta atau sekitar Rp1,05 triliun pada semester I/2026, dengan asumsi kurs JISDOR per 30 Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS.

Group Head of Corporate Communications & CSR Bumi Resources Renno Wicaksono sebelumnya menyebut capaian tersebut sebagian mencerminkan kontribusi laba tambahan dari aset perseroan di Australia.

"Hal ini sebagian mencerminkan kontribusi laba tambahan dari aset perseroan di Australia, yang belum menjadi bagian dari bisnis pembanding pada periode yang sama tahun sebelumnya," ujarnya, belum lama ini.

Lonjakan bottom line perseroan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang naik 27,9% YoY menjadi US$866,8 juta, dibandingkan US$677,9 juta pada semester I/2025. Manajemen BUMI menjelaskan kinerja solid itu ditopang kombinasi pertumbuhan volume produksi, peningkatan efisiensi penambangan, serta perbaikan average selling price (ASP) batu bara sepanjang paruh pertama 2026.

Dari sisi operasional, BUMI mencatatkan volume produksi batu bara 38,5 juta ton pada semester I/2026. Jumlah ini tumbuh 7,1% secara tahunan dibandingkan 35,9 juta ton pada periode sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, volume penjualan batu bara naik 11,7% YoY menjadi 38,8 juta ton. Tingginya angka penjualan ketimbang produksi turut memangkas posisi persediaan batu bara menjadi 1,7 juta ton per akhir Juni 2026.

Secara keseluruhan, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi sebelumnya memperkirakan kinerja emiten batu bara pada semester I/2026 tidak akan seragam. Ia melihat sejumlah perusahaan batu bara bakal mencatatkan kinerja tertekan pada paruh pertama tahun ini.

Menurutnya, biang utama dari negatifnya kinerja itu adalah keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun, yang menggerus volume produksi dan penjualan sejumlah emiten. Kendati begitu, pelemahan volume tersebut sebagian tertolong harga batu bara Newcastle yang masih tinggi, yakni di atas US$150 per ton.

"Harga tetap kuat karena adanya premi risiko geopolitik [war premium] dan meningkatnya permintaan listrik untuk menopang perkembangan teknologi kecerdasan buatan [AI]," kata Wafi, Senin (3/8/2026).

Wafi menjelaskan secara umum emiten yang memperoleh persetujuan RKAB lebih cepat mencatatkan kinerja lebih baik ketimbang pesaingnya. Ia menyebut emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sebagai yang paling terlindungi dari sentimen revisi RKAB berkat dukungan sebagai perusahaan pelat merah.

"Revisi RKAB pada Juli 2026 menjadi faktor penting yang dapat mengubah peta persaingan pada semester II/2026," tutur Wafi. Ia menambahkan emiten yang produksinya tertahan pada paruh pertama berpeluang mengejar ketertinggalan volume, sehingga labanya pada semester kedua bisa jauh lebih baik dibandingkan semester pertama.

Di sisi lain, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menyampaikan sejumlah emiten mencatatkan penurunan kinerja akibat tekanan harga batu bara global, ketidakpastian permintaan dari China, serta faktor regulasi domestik.

"Misalnya, AADI dan BYAN membukukan penurunan pendapatan maupun laba pada kuartal I/2026. Namun di sisi lain, beberapa emiten justru mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kinerjanya," ujar Elandry, Senin (3/8/2026).

Ia mencontohkan PTBA yang mencatatkan lonjakan laba bersih berkat efisiensi biaya, sementara BUMI mampu mengerek produksi dan penjualan kendati harga jual rata-rata menurun. Selain itu, BSSR, CUAN, dan MCOL juga termasuk emiten yang masih membukukan pertumbuhan laba pada kuartal I/2026. Terkait revisi RKAB, Elandry justru melihat sentimen pasar cenderung lebih positif ketimbang negatif, sebab revisi yang bergulir merupakan usulan kenaikan kuota produksi, bukan pemangkasan.

Dengan begitu, jika persetujuannya rampung dalam waktu dekat, potensi pemulihan volume produksi pada semester II/2026 kian terbuka. "Karena itu, saya memperkirakan prospek sektor batu bara berpotensi membaik pada paruh kedua tahun ini, didukung normalisasi produksi, harga batu bara yang tetap relatif stabil, serta permintaan dari China dan India yang diharapkan membaik," ucap Elandry.

Untuk pilihan saham, Elandry menilai ITMG, PTBA, dan AADI menarik dicermati sebagai pilihan utama berkat fundamental yang kuat. Ia juga memandang BUMI, ADRO, BSSR, CUAN, dan MCOL layak diperhatikan seiring prospek pemulihan kinerja operasional pada semester II/2026.

Sementara itu, Wafi menyorot PTBA, AADI, dan ADRO sebagai saham yang menarik di sektor ini. Menurutnya, PTBA bisa menjadi pilihan karena menjadi penerima manfaat utama kebijakan domestic market obligation (DMO) dan revisi RKAB, memiliki dividend yield tinggi, serta ditopang status BUMN. AADI dilirik berkat efisiensi biaya yang baik, porsi saham publik yang bersih, dan eksposur ke batu bara premium. Adapun ADRO dinilai menarik karena diversifikasi bisnis ke sektor energi berpotensi menjadi katalis kenaikan valuasi jangka panjang, ditambah neraca keuangan paling kuat di antara para pesaingnya.

Iklan