Emitenhub.com - Ruang ekspansi jalan tol baru PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) kian terbatas. Kondisi ini membuat JSMR perlu mengoptimalkan aset eksisting serta peluang bisnis lain sebagai sumber pertumbuhan ke depan.
Keterbatasan itu setidaknya tercermin dari dukungan fiskal pemerintah untuk pembangunan jalan tol pada 2027. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) diketahui hanya mengalokasikan Rp3,1 triliun untuk pembangunan 13,5 kilometer jalan tol. Adapun seluruh ruas yang didukung merupakan proyek yang telah berjalan.
Kondisi tersebut mengindikasikan ekspansi infrastruktur jalan tol ke depan tidak bisa mengandalkan dukungan APBN maupun tambahan proyek greenfield.
Di sisi Jasa Marga, lima proyek yang tengah dikerjakan juga merupakan bagian dari pipeline yang berjalan. Kelima proyek itu meliputi Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan seksi Setu-Sadang, Jalan Tol Akses Patimban, Jalan Tol Jogja-Bawen, Jalan Tol Jogja-Solo, dan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyampaikan emiten jalan tol pelat merah ini tetap terbuka terhadap peluang pembangunan jalan tol baru. Namun, perseroan akan lebih selektif dalam memilih proyek.
"Tender jalan tol baru memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, namun kami pastikan Jasa Marga tidak semata-mata berorientasi pada penambahan ruas baru," kata Rivan baru-baru ini.
Ia menjelaskan pemilihan proyek baru akan mempertimbangkan potensi lalu lintas, konektivitas dengan jaringan Jasa Marga yang telah ada, kelayakan investasi, hingga kapasitas keuangan perseroan.
Meski demikian, JSMR membuka peluang untuk mengembangkan bisnis melalui aset jalan tol yang telah beroperasi atau brownfield. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi alternatif di tengah kian terbatasnya tender jalan tol baru.
Kebutuhan mencari sumber pertumbuhan baru juga tidak lepas dari karakteristik bisnis jalan tol yang membutuhkan investasi besar dengan return yang panjang. Jasa Marga memperkirakan kebutuhan investasi pembangunan jalan tol berada pada kisaran Rp200 miliar hingga Rp400 miliar per kilometer, sementara arus kas pada lima hingga 10 tahun pertama umumnya masih negatif.
Arah Strategi Baru Jasa Marga
Dengan ruang pembangunan greenfield yang kian terbatas, Jasa Marga selanjutnya mengarahkan strategi pertumbuhan pada optimalisasi portofolio, pengempangan aset brownfield, serta pengembangan bisnis non-tol.
JSMR saat ini tengah mengembangkan sumber pendapatan dari ekosistem jalan tol, mulai dari rest area, building management, hingga pengembangan kawasan seperti transit-oriented development (TOD) dan toll corridor development (TCD).
"Kami melihat setiap bagian dari koridor jalan tol memiliki potensi untuk menciptakan nilai. Rest area, misalnya, tidak hanya kami lihat sebagai fasilitas pendukung perjalanan, tetapi juga sebagai ruang yang dapat mempertemukan kebutuhan pengguna dengan aktivitas ekonomi masyarakat," ucap Rivan.
Pengembangan ekosistem itu diperkuat melalui inovasi teknologi, antara lain melalui sistem Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) yang menjadi pusat integrasi pengelolaan informasi lalu lintas dan kondisi jalan secara real time.
Pada saat yang sama, aplikasi Travoy milik perseroan merangkum seluruh kebutuhan perjalanan pengguna ke dalam satu platform digital praktis.
"Teknologi kami tempatkan sebagai enabler untuk membuat operasional semakin efektif, pengelolaan aset semakin akurat, dan layanan kepada pengguna semakin terintegrasi," ucap Rivan.
Dari sisi kinerja, pendapatan Jasa Marga pada semester I/2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif. Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun atau tumbuh 7,6% secara tahunan (year on year/YoY).
Pendapatan tol masih menjadi kontributor utama dengan nilai Rp9,5 triliun atau naik 6,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,2 miliar atau melonjak 17,6% YoY.
Pertumbuhan pendapatan usaha lainnya yang mencapai dua digit ini menunjukkan ruang pertumbuhan dari lini di luar bisnis tol mulai berkembang. Akan tetapi, pada saat yang sama, pertumbuhan pendapatan tol juga tetap ditopang kinerja lalu lintas dan penyesuaian tarif pada sejumlah ruas.
Selain itu, Rivan menuturkan perseroan juga tengah berkoordinasi dengan Danantara, BUMN Karya, dan perusahaan yang masuk dalam proses streamlining untuk melihat peluang optimalisasi portofolio jalan tol.
Menakar Prospek JSMR ke Depan
Strategi pergeseran fokus bisnis Jasa Marga menuju optimalisasi aset serta ekosistem non-tol dinilai sejalan dengan perbaikan kinerja keuangan perseroan pada paruh kedua tahun ini. Sejumlah analis pun memproyeksikan momentum pemulihan kinerja JSMR akan tetap solid hingga akhir 2026.
Analis CGS International Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana mencatat laba bersih JSMR pada kuartal II/2026 melonjak 46,4% secara kuartalan dan tumbuh 20,3% secara tahunan menjadi Rp1,1 triliun.
Capaian tersebut juga sejalan dengan perkiraan tahunan CGS International yang mencapai 52% serta sedikit di atas konsensus Bloomberg sebesar 55%.
"Pemulihan kinerja QoQ ini didukung oleh peningkatan pendapatan tol, kenaikan pendapatan dari perusahaan asosiasi, serta penurunan tarif pajak efektif," ujarnya dalam publikasi riset pada awal September 2026.
CGS International lantas mempertahankan rekomendasi add untuk JSMR dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) di level Rp4.600 per saham. Rekomendasi ini didasari volume lalu lintas jalan tol yang tangguh, kenaikan pendapatan dari penyesuaian tarif, serta disiplin biaya operasional.
Di sisi lain, para analis memandang rencana konsolidasi jalan tol BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia turut menjadi katalis positif yang bakal menopang pertumbuhan anorganik JSMR dalam jangka menengah.
Langkah tersebut dinilai dapat menambah portofolio aset matang tanpa harus menanggung risiko pembangunan proyek baru dari nol.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga menilai potensi akuisisi jalan tol milik BUMN Karya di bawah Danantara dapat menjadi motor penggerak baru bagi pendapatan dan EBITDA perseroan. Namun, ada catatan agar perseroan tetap menjaga fleksibilitas keuangan dan tingkat utang.
"Tetapi potensi kenaikan utang dan beban bunga tetap menjadi risiko utama. Kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk JSMR dengan target harga Rp3.800 per saham," tulis Sukarno dalam riset terbarunya.
Sukarno menambahkan meski rasio utang berbunga meningkat menjadi 1,23 kali pada semester I/2026, kapasitas pembayaran utang JSMR tergolong masih relatif aman. Hal ini tecermin dari interest coverage ratio yang terjaga di posisi 3,66 kali, atau masih berada di atas target internal perseroan sebesar 2,5 kali.
Dengan ruang pembangunan tol baru yang menyempit dan dukungan APBN yang terbatas, Jasa Marga bergeser menuju optimalisasi aset eksisting, pengembangan ekosistem non-tol, serta peluang akuisisi jalan tol BUMN di bawah Danantara. Para analis menilai strategi ini menopang pemulihan kinerja yang sudah terlihat pada kuartal II/2026, dengan target harga di kisaran Rp3.800 hingga Rp4.600. Ke depan, keberhasilan JSMR akan bergantung pada kemampuannya menumbuhkan pendapatan di luar bisnis inti sekaligus menjaga struktur utang tetap sehat saat menyerap portofolio aset baru.


