Market

Raksasa Rusia Rusal Merapat ke Hilirisasi Bauksit RI, Pakar Ingatkan Bahaya Dominasi Asing

Ringkasan Cepat

Ketua Pushep Bisman Bachtiar menilai potensi masuknya raksasa aluminium Rusia, United Company Rusal, ke industri pengolahan alumina Indonesia positif bagi hilirisasi bauksit, tetapi mengingatkan pemerintah memastikan investasi berlanjut hingga produk akhir aluminium sekaligus mewaspadai dominasi investor asing dari China dan Rusia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi Rusal akan menggarap proyek tambang bauksit terintegrasi pabrik alumina di Kalimantan bersama perusahaan dalam negeri

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi masuknya raksasa aluminium Rusia Rusal ke industri hilirisasi bauksit Indonesia dan kekhawatiran atas dominasi asing

Ilustrasi masuknya raksasa aluminium Rusia Rusal ke industri hilirisasi bauksit Indonesia dan kekhawatiran atas dominasi asing

Emitenhub.com - Ketua Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bachtiar menilai potensi masuknya produsen aluminium raksasa asal Rusia, United Company Rusal, ke dalam industri pengolahan alumina Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif bagi agenda hilirisasi bauksit nasional.

Namun, ia menekankan pemerintah perlu memastikan Rusal tidak hanya berinvestasi pada pengolahan alumina, tetapi juga turut menanamkan modal pada produk akhir bauksit, yaitu aluminium.

"Masuknya Rusal ini merupakan prospek bagus. Namun, pemerintah harus bisa memastikan tidak hanya sampai di alumina, tetapi berkembang sampai aluminium hingga produk-produk turunannya," ungkap Bisman saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).

Bisman menekankan proyek hilirisasi mineral, khususnya pengolahan bauksit di Indonesia, saat ini memang telah berjalan.

Kendati demikian, kepastian pelaksanaan hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir berupa produk jadi tetap harus dipastikan oleh pemerintah.

Langkah ini dinilai penting mengingat kebutuhan aluminium di pasar dalam negeri yang terus meningkat.

Hingga saat ini, kebutuhan aluminium nasional tercatat mencapai sekitar 1,2 hingga 1,3 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi aluminium primer eksisting di dalam negeri berada di kisaran 870.000 hingga 875.000 ton per tahun.

Defisit pasokan ini memaksa Indonesia terus bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur, otomotif, dan konstruksi domestik.

Untuk itu, Bisman menambahkan masuknya Rusal ke industri hilir sektor pertambangan Tanah Air juga harus mampu mendukung secara nyata pemenuhan kebutuhan pasokan aluminium di dalam negeri.

"Supaya dapat terpenuhi juga kebutuhan aluminium di dalam negeri dari kerjasama ini," katanya.

Bayang-Bayang Dominasi Asing

Di sisi lain, masuknya Rusal secara langsung melengkapi dominasi investor asal China yang telah lebih dahulu menanamkan modal secara besar-besaran pada sektor pengolahan dan pemurnian (smelter) di Tanah Air.

Meski demikian, Bisman memberikan catatan kritis terkait kian kuatnya cengkeraman dominasi investor asing, khususnya dari China dan Rusia, agar keberadaan wilayah Indonesia tidak hanya dimanfaatkan pihak luar sebagai lokasi fasilitas produksi semata.

"Soal dominasi investor perlu diantisipasi agar kita tidak hanya menjadi lokasi produksi. Harus diupayakan adanya alih teknologi, serta pasar dan rantai nilai tetap berada dalam kendali Indonesia," ujar Bisman.

Selain transfer teknologi, pembatasan porsi kepemilikan saham asing secara proporsional juga perlu dievaluasi secara berkala guna menjamin kendali strategis atas pemanfaatan sumber daya alam nasional tetap berada di tangan pemerintah.

"Tanpa adanya pembatasan dan pengawasan yang tegas, Indonesia berisiko hanya menanggung beban kerugian lingkungan akibat aktivitas ekstraksi dan pengolahan industri berat," tambahnya.

Sebelumnya, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi investor asal China, dengan sekitar 75% dari seluruh proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.

CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium. Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.

"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan di masa depan," kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom, dikutip Senin (7/9/2026).

Tidak hanya itu, CREA menyatakan total kapasitas pabrik pengolahan alumina Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat, dari 7 juta ton pada 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030, dan hampir seluruhnya didorong oleh smelter-grade alumina (SGA).

Sementara itu, kapasitas smelter berbasis chemical grade alumina (CGA) diproyeksikan tetap stagnan di angka 300.000 ton.

CREA mengungkapkan jika seluruh proyek terealisasi, permintaan bahan baku domestik bakal meroket dari 14 juta menjadi sekitar 65 juta ton bijih bauksit setiap tahun.

Dengan skenario tersebut, CREA meramal cadangan bauksit terbukti Indonesia yang saat ini mencapai 1 miliar ton berisiko habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.

"Risiko ini diperparah oleh ketergantungan yang sangat besar pada investasi asing terutama dari China, serta dominasi tenaga kerja kontrak," ungkap Analis Industri CREA Syahdiva Moezbar dalam riset yang sama.

Adapun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi Rusal bakal mengembangkan proyek pertambangan bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina. Dengan begitu, Rusal dipastikan tidak akan membangun pabrik pengolahan atau smelter aluminium di Indonesia.

Bahlil menjelaskan proyek tersebut bakal digarap Rusal bersama perusahaan dalam negeri dan berlokasi di wilayah Kalimantan.

"Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan," kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).

Bahlil menyatakan perizinan pembangunan proyek tambang bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina tersebut sudah hampir final. Selain itu, studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut juga sedang disusun.

"Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri," tegas Bahlil.

Sebelumnya, Rusal memang dikabarkan berencana "hanya" membangun fasilitas bauksit-alumina terintegrasi di Indonesia sebagai bagian dari strategi ekspansi regionalnya.

"Rusal sedang mengembangkan proyek pembangunan kompleks bauksit-alumina di Indonesia. Bagi perusahaan, proyek di Indonesia ini merupakan kelanjutan dari strategi diversifikasi di kawasan Pasifik," kata Rusal dalam pernyataan yang dilansir TASS, Kamis (10/9/2026).

Sebagai catatan, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Rusal berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri. Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.

"Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik, terus maju pesat, dan kami juga terus maju pesat di bidang pengolahan, misalnya pertambangan, seperti kerja sama kami dengan entitas aluminium besar (saya kira yang terbesar di dunia), yaitu Rusal," kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, yang ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).

Iklan