Emitenhub.com - Booming kebutuhan data center seiring perkembangan AI membuka peluang pertumbuhan baru bagi sejumlah emiten operator. Namun, besarnya potensi pasar perlu dibaca secara proporsional karena kapasitas yang diumumkan perusahaan tidak selalu berarti kapasitas yang telah beroperasi atau menghasilkan pendapatan.
Saat ini, terdapat 16 emiten yang berada di dalam ekosistem besar data center. Dari jumlah tersebut, dua emiten merupakan operator langsung, yaitu PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Selain itu, ada satu emiten yang sedang bertransformasi menjadi operator langsung, yakni PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV).
Pergerakan ketiga saham emiten tersebut menunjukkan bagaimana pasar memberikan valuasi atas ekspektasi data center. Saham DCII per penutupan Kamis (10/9) diperdagangkan di level Rp201.100, mencerminkan valuasi premium dengan price earnings ratio (PER) 327,20 kali dan price book value ratio (PBVR) di 103,55 kali. Saham emiten milik Otto Toto Sugiri ini terbang jauh dibandingkan harga penawaran perdana senilai Rp420 pada Januari 2021 silam.
Sementara itu, saham MGLV melonjak lebih dari 500% year to date (YtD) ke level Rp15.000 per penutupan Kamis (11/9/2026). Padahal, secara fundamental, MGLV per Juni 2026 mencatat koreksi tajam pada pendapatan kotor dan di bottom line membukukan rugi bersih senilai Rp14,10 miliar.
Cerita berbeda ditunjukkan saham DSSA. Emiten Grup Sinar Mas ini dalam tiga tahun terakhir menikmati lonjakan hingga 400% lebih, tetapi tahun ini dilanda aksi jual yang membuatnya terpangkas sekitar 72% YtD ke kisaran harga Rp1.100. Dari sisi valuasi, harga tersebut mencerminkan PER di level 54,71 kali, berada di bawah PER historis sebesar 79,77 kali. Di sisi fundamental, DSSA per akhir Maret 2026 membukukan laba bersih sebesar US$82,26 juta.
Pergerakan ketiga saham emiten tersebut membuktikan pasar saat ini sudah memberikan valuasi berdasarkan ekspektasi pertumbuhan data center. Namun, pertanyaannya, seberapa jauh ekspektasi tersebut sudah dikonversi menjadi kapasitas operasional, kontrak, pendapatan, dan laba.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan di antara operator data center, DCII merupakan emiten dengan eksposur paling langsung terhadap penyewaan kapasitas data center dalam negeri, terutama dari pelanggan cloud besar dan komputasi AI. Rekam jejak operasional perseroan menjadi keunggulan.
"Bukti yang sudah ada adalah situs perusahaan terbaru mencatat 132 MW shell capacity pada 9 data center di Cibitung, Karawang, Jakarta dan Surabaya. Sedangkan di H5 Sky Bintan masih direncanakan," kata Liza dalam risetnya, dikutip Jumat (11/9/2026).
Untuk menguji seberapa kuat korelasi valuasi dan ekspektasi pertumbuhan ke depan, Liza menyarankan investor memantau perkembangan keterisian kapasitas baru, kontrak pelanggan, pengembalian belanja modal, valuasi, likuiditas, dan porsi saham publik DCII.
Sementara bagi DSSA, Liza menjelaskan emiten ini memiliki eksposur langsung ke data center melalui SM+ yang mengoperasikan data center berukuran kecil di berbagai lokasi dan sedang membangun fasilitas lebih besar untuk kebutuhan AI di Jakarta.
Saat ini SM+ Data Center memiliki dan mengelola 25 data center dengan kapasitas hampir 40 MW. DSSA juga memiliki proyek SMX01 di Jakarta yang dirancang mencapai kapasitas 27 MW, dengan kapasitas tahap pertama sebesar 6 MW ditargetkan beroperasi pada kuartal IV/2026.
Menurutnya, katalis yang bisa menaikkan valuasi DSSA ke depan adalah dimulainya operasi SMX01, penambahan kontrak pelanggan, tingkat keterisian data center, serta pendapatan dan laba data center yang dilaporkan terpisah.
"DSSA merupakan grup dengan banyak lini bisnis, sehingga kontribusi data center dapat tertutup segmen pertambangan dan energi," jelasnya.
Di sisi lain, sebagai pendatang baru, MGLV berencana memperoleh eksposur langsung sebagai operator data center melalui akuisisi PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC). Rencana tersebut telah disetujui RUPS, tetapi dampak ekonominya menurut Liza baru masuk ke MGLV setelah transaksi selesai dan kinerja kedua perusahaan dikonsolidasikan.
Sebagai perusahaan target akuisisi, NAC telah mengoperasikan data center 6 MW dan secara mandiri membukukan pendapatan Rp36,3 miliar serta laba bersih Rp9,49 miliar hingga Juni 2026.
Dalam daftar ekspansi perusahaan, pengembangan kapasitas lanjutan direncanakan dimulai 2027, yakni proyek MettaDC berkapasitas 36 MW di Jababeka dan fasilitas NGC berkapasitas 60 MW di Batang.
Liza menegaskan persetujuan RUPS yang merestui peralihan bisnis MGLV belum berarti transaksi telah selesai. Akuisisi, pengalihan piutang, rights issue hingga 285,7 juta saham, dan pinjaman pemegang saham masih harus dilaksanakan.
"Katalis utamanya adalah penyelesaian transaksi, masuknya pendapatan NAC dan NGC, kontrak pelanggan, kontrak listrik serta kapasitas yang siap beroperasi," tandasnya.
Peluang Pasar yang Terbentang
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menjelaskan saat ini kapasitas data center terpasang di Indonesia mencapai 580 MW per semester I/2026, dan diproyeksikan mencapai 3,5 GW pada 2030. Di antara ketiga emiten di atas, DSSA dan DCII telah memiliki eksposur langsung, sementara MGLV sebagai pendatang baru akan dipantau pasar.
Lonjakan kapasitas data center di Tanah Air didorong meningkatnya kebutuhan cloud dan infrastruktur AI yang padat graphics processing unit (GPU), ditambah Singapura yang membatasi kapasitas baru melalui kebijakan Data Center - Call for Application (DC-CFA).
Pembatasan di Singapura itu membuat pemain data center mulai melirik lokasi terdekat lainnya untuk membangun proyek baru. Dalam kondisi itu, Malaysia sebagai lokasi terdekat sedang menghadapi keterbatasan daya. Di sinilah Indonesia memiliki peluang menangkap pasar tersebut.
Menurut analis, pasar data center Jakarta dan Batam masih berada dalam fase pertumbuhan awal dengan kapasitas pipeline yang masih sangat besar ke depan.
Analis mencatat area Jakarta memiliki rasio pipeline terhadap kapasitas operasional sebesar 5,3 kali, yang berarti terdapat total pipeline sebesar 1,7 GW dibandingkan 322 MW yang telah beroperasi saat ini. Sementara itu, Batam memiliki pipeline sebesar 1,4 GW dengan basis operasional 126 MW.
"Sejumlah emiten lokal juga menawarkan proxy pertumbuhan yang cukup besar, dengan pipeline kapasitas yang signifikan yang masih belum dikembangkan," kata analis.
Dalam mengisi gap antara potensi dan realisasi kapasitas terpasang itu, analis memetakan proyek SMX01 milik DSSA ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV/2026 dengan kapasitas 18 MW dan dapat ditingkatkan menjadi 60 MW.
Sementara itu, DCII sebagai pure-play terbesar dengan kapasitas 128 MW yang telah beroperasi, memiliki pipeline terbesar mencapai lebih dari 1.000 MW di Bintan.
Ketiga emiten menggambarkan bagaimana pasar sudah menghargai mahal ekspektasi data center, dari DCII dengan PER di atas 300 kali hingga MGLV yang melonjak 500% meski masih rugi. Namun para analis menekankan satu hal yang sama: kapasitas yang diumumkan bukan kapasitas yang menghasilkan pendapatan. Dengan pipeline Jakarta dan Batam yang jauh melampaui kapasitas operasional, peluang Indonesia menangkap limpahan permintaan dari Singapura dan Malaysia memang besar. Pada akhirnya, valuasi setinggi ini hanya akan terbukti wajar jika ekspektasi itu benar-benar terkonversi menjadi kapasitas yang beroperasi, kontrak pelanggan, dan laba, bukan sekadar angka di atas pipeline.


