Ekonomi

Robin Zeng, Bos CATL yang Jadi Orang Terkaya Dunia dari Bisnis Baterai EV

Ringkasan Cepat

Robin Zeng, pendiri sekaligus CEO Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), menjadi sosok terkaya dari sektor energi dunia dengan kekayaan US$55,4 miliar atau sekitar Rp977,65 triliun menurut Forbes. Berawal dari anak desa miskin di Fujian, Zeng membangun ATL pada 1999 lalu mendirikan CATL pada 2011, yang kini menjadi produsen baterai terbesar dunia dan memasok raksasa otomotif seperti BMW, Tesla, dan Geely di tengah pesatnya adopsi kendaraan listrik.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Robin Zeng pendiri CATL yang menjadi orang terkaya di sektor energi dunia dari bisnis baterai kendaraan listrik

Ilustrasi Robin Zeng pendiri CATL yang menjadi orang terkaya di sektor energi dunia dari bisnis baterai kendaraan listrik

Emitenhub.com - Perkembangan teknologi ramah lingkungan seperti Electric Vehicle (EV) yang kian masif memunculkan pertanyaan menarik: siapa sosok yang paling kaya dari sektor tersebut?

Jawabannya adalah Robin Zeng. Sebagai pemasok baterai terbesar nomor satu di dunia, Zeng mengantongi kekayaan sebesar US$55,4 miliar atau sekitar Rp977,65 triliun berdasarkan data Real-Time Billionaires Forbes per pukul 12:16 WIB pada Senin (14/9/2026).

Zeng menempati peringkat 35 dalam daftar miliarder dunia sekaligus bertengger di puncak daftar miliarder sektor energi. Adapun pesaing terdekatnya di sektor baterai, Huang Shilin yang juga pengusaha asal Cina, menempati peringkat 101 dunia dengan kekayaan US$25,5 miliar.

Pria kelahiran 1968 ini merupakan pendiri sekaligus CEO Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), produsen baterai terbesar di dunia. Ia lahir dan tumbuh dalam garis kemiskinan di sebuah desa pegunungan di Provinsi Fujian bagian tenggara, dekat dengan Ningde yang kini menjadi markas CATL.

Zeng dikenal sebagai sosok jenius dengan ambisi besar. Kejeniusannya terbukti ketika ia berhasil masuk salah satu kampus bergengsi di Cina pada usia 17 tahun, yakni Shanghai Jiao Tong University. Pada usia yang masih muda itu, Zeng menempuh studi ilmu teknik (engineering).

Melansir Time, selepas kuliah, Zeng bergabung dengan perusahaan milik negara yang terletak di Provinsi Fujian. Dengan kata lain, ia mendapat pekerjaan Iron Rice Bowl atau "Mangkuk Besi", sebuah metafora di Cina tentang pekerjaan yang aman dan terjamin seumur hidup, kebanggaan para orang tua, yang kerap dikaitkan dengan sektor pemerintahan dan perusahaan milik negara.

Alih-alih hidup nyaman dengan pekerjaan tersebut, Zeng hanya bertahan selama tiga bulan dan memilih pindah ke Kota Dongguan. Berdasarkan Money Week, di sana ia bergabung dengan perusahaan manufaktur elektronik sembari berkuliah untuk meraih gelar PhD dalam bidang Fisika di Chinese Academy of Sciences.

Selama 10 tahun di Dongguan, Zeng berhasil menjadi satu-satunya direktur SAE Magnetics yang berbasis di Cina daratan. Selama itu pula, ia mulai mempelajari secara mendalam tentang baterai.

Perjalanan Menjadi Raja Baterai Dunia

Setelah malang melintang di Dongguan, pada akhir 1990-an, CEO perusahaan magnetic hard drive Liang Shaokang membujuk Zeng untuk mulai membangun perusahaan baterai.

Akhirnya, pada 1999, Zeng berhasil mendirikan Amperex Technology (ATL) di Hongkong yang mampu memproduksi baterai perangkat elektronik seluler atau lithium-ion batteries, dengan Apple sebagai pelanggan pertamanya.

Pendirian ATL sangat tepat waktu, karena penjualan telepon seluler tengah meningkat, banyak orang mulai terhubung dengan internet, dan mereka membutuhkan daya portabel yang lebih besar. Kala itu, permintaan baterai lithium membludak, dan Dongguan sejurus kemudian menjadi pusat produksi telepon seluler, pengisi daya, serta aksesori.

Pada awal pendiriannya, ATL hanya memiliki sedikit hak paten sendiri. Zeng bersama rekan-rekannya menghabiskan US$1 juta untuk membeli paten lithium polymer dari Bell Labs di Amerika Serikat. Namun, ketika mereka kembali ke Cina, membuat baterai tersebut berfungsi sebagaimana mestinya bukan perkara mudah.

Mereka berjuang dalam bayang-bayang kekhawatiran akan kegagalan yang bisa mengakhiri perusahaan. Akhirnya, mereka berhasil membuat lithium berfungsi, bahkan mampu memangkas biaya dengan cepat. ATL dapat memproduksi lithium dengan setengah biaya dari pesaingnya di Korea.

Melansir Time, pada 2000, Jepang menyumbang 90% produksi lithium-ion tahunan secara global dengan 500 juta baterai, sementara Cina hanya memproduksi 35 juta per tahun. Namun, pada 2001, ATL telah mengirimkan satu juta baterai yang digunakan dalam headset Bluetooth dan pemutar DVD portable.

Masa-masa tersebut menjadi awal mula pergerakan Cina di industri baterai yang sejak 1991 dikuasai Jepang melalui Sony.

Adapun Zeng meraih kekayaan pertamanya pada 2005 setelah menjual ATL kepada TDK Corporation asal Jepang seharga US$100 juta, dengan tetap berbisnis baterai melalui pendirian unit baterai khusus mobil. Zeng akhirnya mendirikan CATL pada 2011 karena TDK dilarang masuk pasar Cina.

Perusahaan yang tercatat di dua bursa, Hongkong dan Shenzhen, itu merupakan pemasok baterai bagi produsen mobil seperti BMW, Geely, dan Tesla. CATL bernasib serupa dengan ATL, didirikan pada waktu yang sangat tepat. Kala itu, Beijing mulai memprioritaskan kendaraan listrik dan menawarkan subsidi yang besar.

Puncaknya terjadi pada 2015, ketika Cina mengumumkan kepada produsen mobil global bahwa untuk memenuhi syarat mendapatkan subsidi, mereka harus menggunakan baterai dari supplier dalam negeri yang disetujui, termasuk CATL. Walhasil, dalam setahun, pendapatan CATL meningkat dari US$1,2 miliar menjadi US$9 miliar.

Pada 2017, CATL menyalip Panasonic sebagai produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia dari sisi penjualan. Zeng juga menerapkan strategi yang sama seperti di ATL, yakni berhasil menurunkan biaya produksi dibandingkan pesaingnya dari Korea dan Jepang. Produsen mobil Jerman seperti BMW pun tidak punya pilihan selain bergantung pada Cina untuk mendapatkan baterai kendaraan listrik.

Tidak hanya Jerman, CATL juga memasok baterai ke sejumlah perusahaan rintisan Cina seperti Nio dan Zpeng yang terdaftar di bursa saham Amerika Serikat. Keduanya telah mengekspor mobil ke Eropa. Selain itu, terdapat MG Motor (Morris Garages), perusahaan mobil Inggris yang dimiliki SAIC milik negara Cina, yang juga menjual ZS EV menggunakan baterai CATL.

Di samping itu, CATL juga membeli saham di proyek lithium Australia, proyek nikel di Indonesia, serta deposit kobalt di Republik Demokratik Kongo.

Melansir data resmi World Intellectual Property Organization (WIPO) dalam Global Innovation Index 2026, badan PBB tersebut menerbitkan daftar peringkat 100 klaster sains dan teknologi paling produktif di dunia.

Dari seorang anak desa miskin di Fujian hingga menjadi orang terkaya di sektor energi dunia, perjalanan Robin Zeng mencerminkan bagaimana taruhan pada teknologi baterai di waktu yang tepat mampu mengubah nasib sekaligus peta industri global. Lewat ATL dan kemudian CATL, ia memindahkan pusat gravitasi produksi baterai dunia dari Jepang dan Korea ke Cina, sembari mengikat produsen mobil kelas dunia pada rantai pasoknya. Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik, dominasi CATL, berikut kekayaan Zeng yang menembus US$55,4 miliar, menjadi penanda betapa strategisnya penguasaan baterai dalam transisi energi yang sedang berlangsung.

Iklan