Emitenhub.com - Sejumlah emiten batu bara mencatatkan penguatan kinerja sepanjang semester I/2026. Kinerja moncer ini diperkirakan masih dapat berlanjut hingga akhir 2026.
Penguatan laba bahkan mencapai lebih dari 100% pada tiga emiten, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY). Emiten batu bara milik Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), bahkan mencetak lonjakan laba bersih hingga hampir 1.000% sampai akhir Juni 2026.
CUAN tercatat mencetak pertumbuhan laba bersih tertinggi di antara emiten batu bara lainnya, yakni hingga 919,59% menjadi US$19,78 juta dari sebelumnya US$1,94 juta. Sementara itu, pendapatan CUAN mencapai US$736,1 juta dari sebelumnya US$462,11 juta.
Sementara itu, emiten batu bara pelat merah PTBA juga mencatatkan laba bersih yang melonjak menjadi Rp2,65 triliun pada semester I/2026, dari Rp833,04 miliar pada periode sama tahun sebelumnya, atau tumbuh 218,11%.
Dari sisi pendapatan, PTBA membukukan kenaikan 7,73% menjadi Rp22,03 triliun dari sebelumnya Rp20,45 triliun.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyampaikan memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, PTBA berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
"Di tengah momentum penguatan harga batu bara global, perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran," ujar Bambang dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kemampuan PTBA dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Di sisi lain, emiten batu bara milik Grup Bakrie, BUMI, juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi. Laba bersih BUMI mencapai US$58,85 juta, melonjak 188,34% dibandingkan US$20,41 juta pada semester I/2025. Pendapatan perseroan juga tumbuh 27,85% menjadi US$866,75 juta dari US$677,93 juta.
Sementara itu, INDY juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang tinggi, mencapai US$10,2 juta atau melesat 355,36% dari US$2,24 juta pada semester I/2025. Pendapatan INDY meningkat 20,19% menjadi US$1,15 miliar.
Di kelompok emiten lain, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membukukan pertumbuhan laba bersih 76,84% menjadi US$309,37 juta, dengan pendapatan naik 16,5% menjadi US$999,24 juta.
Anak usaha ADRO, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), juga mencatat pertumbuhan laba bersih 10,52% menjadi US$473,77 juta. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang paling moderat dalam kelompok emiten yang direkapitulasi, meski pendapatannya tetap meningkat 6,25% menjadi US$2,55 miliar.
Selanjutnya, anak usaha ADRO lainnya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), membukukan kenaikan laba bersih 23,97% menjadi US$174,18 juta, sedangkan pendapatan tumbuh 31,52% menjadi US$583,88 juta.
Adapun emiten batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), mencatat pertumbuhan laba bersih 15,07% menjadi US$410,26 juta dengan pendapatan naik 7,41% menjadi US$1,74 miliar.
Peluang Laba Berlanjut pada Semester II/2026
Kinerja moncer emiten batu bara sepanjang semester I/2026 membuat momentum pertumbuhan laba mereka berpeluang berlanjut pada semester II/2026.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menyampaikan prospek sektor batu bara hingga akhir 2026 masih cukup positif. Namun, investor diperkirakan kian selektif memilih emiten karena ruang kenaikan harga batu bara tidak sebesar sebelumnya, sementara sejumlah tekanan terhadap biaya masih membayangi.
"Momentum tersebut masih berpeluang berlanjut, tetapi kemungkinan tidak merata untuk seluruh emiten. Kuncinya berada pada kemampuan mempertahankan ASP, peningkatan volume produksi dan penjualan, sekaligus menjaga biaya operasional," ujar Elandry, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, emiten yang sempat menghadapi gangguan produksi maupun persoalan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada awal tahun juga memiliki peluang mencatatkan pemulihan laba seiring normalisasi produksi pada semester II/2026.
Sebaliknya, lanjut Elandry, pertumbuhan margin berpotensi mulai terbatas apabila harga batu bara kembali mengalami moderasi pada paruh kedua tahun ini, terutama jika biaya operasional tetap berada pada level tinggi.
Secara keseluruhan, Elandry melihat prospek sektor batu bara hingga akhir tahun cukup konstruktif. Namun, perhatian pasar akan bergeser dari sekadar pergerakan harga komoditas menuju kemampuan masing-masing emiten dalam menjaga margin, efisiensi biaya, volume produksi, dan arus kas.
Prospek tersebut melanjutkan perbaikan kinerja yang telah terlihat pada sejumlah emiten batu bara sepanjang semester I/2026. Menurut Elandry, pertumbuhan laba pada paruh pertama tahun ini terutama ditopang kombinasi pemulihan harga jual, peningkatan volume penjualan, dan efisiensi biaya.
Selain itu, lanjutnya, harga batu bara yang membaik turut mengerek ASP sejumlah produsen. Ia mencontohkan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang mencatat kenaikan volume penjualan sekitar 5% secara tahunan pada semester I/2026, bersamaan dengan peningkatan ASP sekitar 4%.
Kendati demikian, Elandry menilai faktor pendorong pertumbuhan laba berbeda pada masing-masing emiten. Sebagian perusahaan mendapatkan dorongan dari peningkatan volume dan harga batu bara, sedangkan emiten yang telah melakukan diversifikasi turut menikmati kontribusi dari bisnis non-batu bara.
"Jadi menurut saya, perbaikan laba semester I lebih mencerminkan kombinasi commodity price, volume produksi, serta disiplin biaya dibandingkan hanya kenaikan harga batu bara semata," ucapnya.
Pada semester II/2026, kata Elandry, pergerakan harga batu bara masih menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kinerja emiten. Harga Batubara Acuan (HBA) periode kedua Agustus 2026 berada di kisaran US$124 per ton, level yang dinilai masih memberikan bantalan terhadap pendapatan produsen.
Dari sisi global, risiko geopolitik dan kebutuhan sejumlah negara menjaga keamanan pasokan energi juga berpotensi menopang permintaan batu bara, khususnya di kawasan Asia.
Namun, ruang kenaikan harga diperkirakan tidak terlalu agresif karena pertumbuhan konsumsi batu bara India mulai melambat seiring peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan.
Tantangan yang Membayangi Emiten Batu Bara
Sementara itu, kata Elandry, sejumlah tantangan dari dalam negeri masih perlu dicermati. Kewajiban domestic market obligation (DMO) berpotensi membatasi ASP emiten yang memiliki porsi penjualan domestik besar. Pada saat bersamaan, perusahaan menghadapi potensi kenaikan biaya penambangan, stripping ratio, bahan bakar, hingga royalti.
Kondisi tersebut membuat emiten dengan biaya produksi rendah, pertumbuhan volume produksi, serta porsi ekspor lebih besar berpeluang memiliki ruang margin yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini.
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan perbaikan kinerja emiten batu bara pada paruh pertama tahun ini terutama ditopang kenaikan ASP, pemulihan volume penjualan, dan perbaikan margin. "Keterbatasan pasokan akibat pengetatan RKAB Indonesia menjadi katalis utama harga," kata Sukarno, Rabu (2/9/2026).
Ia mencontohkan PTBA yang mencatat laba bersih Rp2,7 triliun atau naik 218% YoY dengan ASP naik sekitar 20% YoY, sementara AADI membukukan laba US$474 juta atau meningkat 11% didukung pemulihan volume dan ASP. ITMG juga mencatat laba US$106 juta atau naik 17% dengan ASP US$81/ton.
Kiwoom Sekuritas melihat outlook sektor batu bara pada semester II/2026 masih positif, tetapi lebih moderat. Sukarno mencermati harga batu bara Newcastle telah kembali ke sekitar US$145/ton pada awal September, didukung permintaan listrik Asia dan risiko pasokan. Adapun produksi batu bara Indonesia hingga semester I/2026 baru sekitar 367 juta ton atau 61% dari RKAB, sehingga terdapat ruang mengejar ketertinggalan produksi pada semester II/2026. Namun, peningkatan pasokan Indonesia dan potensi normalisasi harga dapat membatasi kenaikan ASP lebih lanjut.
"Normalisasi produksi/RKAB akan meningkatkan volume penjualan, sementara harga batu bara yang masih tinggi menjaga cash margin," ujar Sukarno. Ia menjelaskan risiko utama bagi saham batu bara berasal dari kenaikan fuel cost, stripping ratio, dan normalisasi harga jika supply global kembali meningkat.
Rapor semester I/2026 menegaskan sektor batu bara sedang menikmati momentum kuat, dari CUAN yang labanya meroket hampir 1.000% hingga PTBA, BUMI, dan INDY yang mencetak pertumbuhan tiga digit. Para analis menilai momentum ini berpeluang berlanjut ke paruh kedua, ditopang HBA yang bertahan di kisaran US$124 per ton, harga Newcastle yang kembali ke US$145 per ton, serta ruang mengejar produksi yang baru terealisasi 61% dari RKAB. Namun perhatian pasar akan bergeser dari sekadar harga komoditas menuju kemampuan tiap emiten menjaga ASP, volume, dan disiplin biaya, di tengah bayang-bayang DMO, kenaikan biaya operasi, dan potensi normalisasi harga.


