Emitenhub.com - Barangkali tak terlintas di benak banyak orang Indonesia pada akhir dekade 1980-an bahwa negeri ini bakal segera memiliki pabrik bahan baku plastik pertama sekaligus terbesar.
Gagasan mendirikan pusat olefin terbesar di Indonesia kala itu berkelindan di lingkaran kekuasaan dan modal, lewat nama-nama seperti Prajogo Pangestu, Bambang Trihatmojo, Peter F. Gontha, dan Henry Pribadi.
Diwacanakan sejak 1989 oleh para pengusaha itu, proyek yang kelak dinamai PT Chandra Asri Petrochemical Center (CAPC) baru mewujud lima hingga enam tahun kemudian.
CAPC kini dikenal dengan nama PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), salah satu angsa bertelur emas sekaligus mesin uang terbesar konglomerat Prajogo Pangestu. Berbekal banyak keistimewaan sebagai anak emas Orde Baru, Chandra Asri resmi beroperasi pada 1995.
Harian Bisnis Indonesia edisi Jumat, 19 Agustus 1994, merekam rencana pengoperasian komersial CAPC sebagai pusat olefin pertama di Indonesia. Nilai investasinya menembus US$1,67 miliar.
Prajogo Pangestu, yang saat itu telah menjabat Presdir CAPC, memastikan seluruh pembangunan fisik rampung pada akhir 1994.
Pada tahap pertama, CAPC direncanakan memproduksi sejumlah produk petrokimia seperti ethylene, propylene, pyrolysis gasoline, serta polyethylene, dengan kapasitas produksi 1,21 juta ton per tahun.
"Produksi komersialnya akan dimulai Maret tahun depan setelah melalui beberapa tahap produksi percobaan selama tiga bulan," tegasnya.
Pabrik petrokimia itu direncanakan menghasilkan 520.000 ton etilena, 245.000 ton propilena, dan 300.000 ton polietilena per tahun. Adapun penjualan tahun pertamanya diperkirakan sekitar US$437 juta.
Semula proyek tersebut dirancang dengan investasi US$2,25 miliar. Namun, angka itu kemudian disusutkan dengan memangkas beberapa jenis produksi untuk pembangunan tahap pertama.
Pendanaan proyek ini berhasil menembus rambu-rambu Tim Pengendalian Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN). Dari empat mega-proyek yang sempat ditangguhkan PKLN, hanya pusat olefin yang berhasil dilanjutkan, setelah status pendanaan PT CAPC berubah dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi 100% Penanaman Modal Asing (PMA).
Pinjaman dana diperoleh dari Hong Kong dan Jepang, antara lain Bank Ekspor Impor Jepang beserta 10 konsorsium lembaga keuangan negara itu, yang menggelontorkan dana US$635 juta pada 1993.
Presiden Soeharto kala itu dikabarkan menaruh perhatian besar pada proyek pusat olefin tersebut. Salah satunya karena putra ketiganya, Bambang Trihatmodjo, ikut ambil bagian. Prajogo pun dikenal sebagai salah satu cukong yang dekat dengan penguasa Orde Baru itu, selain Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim. Menurut Soeharto, proyek ini bakal mampu menekan ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Bila impor tertekan, pengeluaran devisa pun bisa dihemat.
Namun, megaproyek ini pada gilirannya sarat kontroversi. Salah satunya ribut-ribut seputar proteksi bagi industri baru. Menteri Negara Investasi/Ketua BKPM kala itu, Sanyoto Sastrowardoyo, pasang badan dengan menyatakan industri baru perlu diberi proteksi.
"Proteksi akan diberikan setelah proyek ini selesai dibangun. Dengan demikian, produk perusahaan ini tidak diganggu oleh barang luar negeri," ujarnya.
Sanyoto menambahkan pemberian proteksi itu wajar, sebab sejumlah negara penghasil produk serupa juga menerapkannya, seperti Jepang sebesar 40% serta Thailand dan Malaysia sekitar 30%-35%. Senada, seorang pengamat industri yang enggan disebutkan namanya menilai pemerintah bisa saja menetapkan tarif bea masuk tertentu atas barang impor, dan hal itu dipandang wajar.
"Ini kan proyek olefin pertama yang merupakan tonggak baru dalam pembangunan kita. Kenapa kita ribut soal hambatan tarif? Di Jepang kan juga ada, juga di negara-negara lain," tuturnya kala itu.
Sementara itu, Prajogo Pangestu tak ambil pusing dan enggan menanggapi ribut-ribut soal proteksi tersebut.
"Saya sedang super-konsentrasi untuk merampungkan proyek ini. Soal itu [masalah proteksi], no comment dululah," tuturnya.
Dihantam Krisis Moneter hingga Keluar-Masuk Bursa
Perubahan status CAPC menjadi PMA membuat sahamnya dikuasai Siemen International Ltd 65%, Japan Industry Petrochemical Investment Corporation 25%, dan Stallion Company Ltd 10%.
Pabrik ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto dan mulai berproduksi pada rentang 4 Mei hingga 21 Juli 1995. Pada 1997, CAPC tercatat memproduksi 507.810 ton etilena serta 433.000 ton propilena.
Selain Chandra Asri, di kompleks yang sama juga berdiri PT Tri Polyta Indonesia, pabrik yang mengolah hasil olahan CAPC menjadi bahan plastik. Pada Juli 1994, Tri Polyta melantai di Bursa Efek Jakarta dengan kode saham TPIA.


