Saham

Laba Mitratel (MTEL) Naik Tipis 0,77% Jadi Rp1,55 Triliun, Pendapatan Rp7 Triliun

Ringkasan Cepat

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mencatat kenaikan laba bersih sebesar 0,77 persen menjadi Rp1,55 triliun hingga September 2026. Pendapatan perseroan tumbuh 1,81 persen menjadi Rp7 triliun, tetapi laba bruto dan laba usaha mengalami penurunan akibat peningkatan biaya. Total aset MTEL mencapai Rp58,77 triliun per akhir September 2026.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mencatat laba bersih Rp1,55 triliun dan pendapatan Rp7 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mencatat laba bersih Rp1,55 triliun dan pendapatan Rp7 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. (Foto:MTEL)

Emitenhub.com - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel membukukan laba bersih sebesar Rp1,55 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat tipis 0,77 persen dibandingkan Rp1,54 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan pendapatan meskipun perseroan masih menghadapi tekanan biaya operasional. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang belum diaudit, Selasa (3/11/2026), pendapatan MTEL mencapai Rp7 triliun hingga September 2026, tumbuh 1,81 persen dari Rp6,88 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, peningkatan pendapatan belum mampu mendorong pertumbuhan laba bruto. Mitratel mencatat laba bruto sebesar Rp3,50 triliun, turun 0,69 persen dibandingkan Rp3,52 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Penurunan tersebut terjadi seiring kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 4,16 persen menjadi Rp3,50 triliun dari sebelumnya Rp3,36 triliun.

Beban pokok pendapatan perseroan antara lain mencakup penyusutan sebesar Rp1,43 triliun dan amortisasi Rp1,34 triliun. Selain itu, terdapat biaya konstruksi dan manajemen proyek senilai Rp386,77 miliar serta biaya perencanaan, operasional, dan pemeliharaan menara telekomunikasi sebesar Rp340,17 miliar.

Beban Operasional Meningkat, Laba Usaha MTEL Turun

Tekanan biaya juga tercermin pada kinerja operasional perseroan. Hingga September 2026, laba usaha Mitratel tercatat sebesar Rp3,05 triliun, melemah 1,55 persen dibandingkan Rp3,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban usaha meningkat 5,5 persen menjadi Rp454,59 miliar dari Rp430,87 miliar. Sementara itu, perseroan membukukan penghasilan usaha lainnya bersih sebesar Rp11,14 miliar.

Dari pos nonoperasional, penghasilan lain-lain bersih tercatat sebesar Rp45,46 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp46,84 miliar pada periode Januari hingga September 2025.

Kondisi tersebut membuat laba sebelum beban pendanaan dan pajak turun 1,59 persen menjadi Rp3,09 triliun, dari sebelumnya Rp3,14 triliun.

Di sisi pendanaan, MTEL mencatat penghasilan keuangan sebesar Rp42,61 miliar. Sementara itu, beban pendanaan mencapai Rp789,05 miliar, disertai beban pendanaan sewa sebesar Rp126,11 miliar.

Setelah memperhitungkan komponen tersebut, laba sebelum pajak final dan pajak penghasilan meningkat 1,36 persen menjadi Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan mencatat beban pajak final sebesar Rp557,08 miliar, meningkat dari Rp528,72 miliar. Di sisi lain, beban pajak bersih turun menjadi Rp108,10 miliar dari sebelumnya Rp117,71 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, laba tahun berjalan MTEL tetap tumbuh 0,77 persen menjadi Rp1,55 triliun. Adapun laba per saham dasar dan dilusian tercatat sebesar Rp19, tidak berubah dibandingkan periode Januari hingga September 2025.

Dari sisi neraca, total aset Mitratel mencapai Rp58,77 triliun per 30 September 2026, meningkat 0,72 persen dibandingkan Rp58,35 triliun pada akhir Desember 2025.

Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp26,51 triliun, sedangkan ekuitas mencapai Rp32,26 triliun.

Kinerja sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan Mitratel masih diikuti peningkatan sejumlah komponen biaya. Meski laba bruto dan laba usaha menurun, perseroan tetap membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan.

Iklan