Saham

Kompak Cetak Kinerja Positif, Trio Emiten Menara MTEL, TOWR, dan TBIG Gaspol Bisnis Non-Menara

Tiga emiten menara di BEI, yakni MTEL, TOWR, dan TBIG, kompak mencatatkan peningkatan pendapatan dan laba bersih sepanjang semester I/2026. Selain penyewaan menara sebagai kontributor utama, ketiganya kian agresif menggarap bisnis non-menara seperti serat optik dan konektivitas, dengan analis menyematkan rekomendasi beragam mulai dari buy hingga hold.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi peningkatan kinerja tiga emiten menara MTEL, TOWR, dan TBIG pada semester I/2026 serta ekspansi ke bisnis non-menara

Ilustrasi peningkatan kinerja tiga emiten menara MTEL, TOWR, dan TBIG pada semester I/2026 serta ekspansi ke bisnis non-menara (Foto:TOWR)

Emitenhub.com - Trio emiten menara di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kompak mengerek kinerja sepanjang semester I/2026.

Mesin pertumbuhannya tak lagi bertumpu pada penyewaan menara semata. Sepanjang paruh pertama tahun ini, para emiten menara kian agresif merambah bisnis non-menara seperti serat optik, konektivitas, hingga ekosistem infrastruktur digital lainnya.

Mitratel, anak usaha Telkom Indonesia, misalnya, membukukan pendapatan Rp4,69 triliun. Angka itu tumbuh 2,1% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp4,56 triliun.

Penyewaan menara masih menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp3,83 triliun. Di sisi lain, bisnis fiber optic terus melaju kencang dengan raihan pendapatan Rp309 miliar.

Torehan itu mengerek laba bersih MTEL 1,5% menjadi Rp1,11 triliun. Pada periode sama tahun 2025, Mitratel mencetak laba bersih Rp1,09 triliun.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko menyebut transformasi menuju Next-Gen Tower Company sebagai langkah strategis Perseroan untuk memperkuat daya saing sekaligus menumbuhkan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.

"Dengan pondasi yang semakin kuat, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan," tutur Theodorus dalam keterangan resminya.

Dari sisi operasional, Mitratel mengelola 40.563 menara telekomunikasi hingga akhir paruh pertama 2026, tumbuh 2% dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah kolokasi melonjak 10,3% menjadi 23.303, sehingga tenancy ratio terkerek dari 1,53x ke 1,57x.

Pada lini infrastruktur fiber optik, jaringan MTEL telah membentang 59.239 kilometer, naik 8,8%. Adapun billable fiber menyentuh 74.779 kilometer atau tumbuh 13,9% secara tahunan.

Beralih ke TBIG, emiten menara Grup Saratoga ini membukukan pendapatan Rp3,46 triliun dengan EBITDA Rp2,95 triliun hingga akhir Juni 2026. Pendapatan tersebut naik 0,28% secara tahunan dari sebelumnya Rp3,45 triliun.

Kenaikan pendapatan itu turut mengangkat laba bersih TBIG menjadi Rp835,93 miliar, tumbuh 1,62% secara tahunan dari Rp822,6 miliar.

"Momentum pertumbuhan organik kami terus berlanjut hingga kuartal kedua. Pada semester pertama tahun ini, kami menambah 2.023 penyewaan bruto ke dalam portofolio kami, yang terdiri dari 1.417 sites telekomunikasi baru dan 606 kolokasi," kata Hardi Wijaya Liong, CEO TBIG.

Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso menerangkan kontrak jangka panjang perseroan menjamin arus kas yang stabil. Kondisi itu memungkinkan TBIG rutin menjalankan berbagai inisiatif bagi pemegang saham, termasuk pembagian dividen Rp1,06 triliun yang telah dibayarkan awal bulan ini.

"Para pemberi pinjaman kami tetap mendukung bisnis kami, dan kami terus menerapkan strategi konservatif dalam melakukan lindung nilai terhadap utang kami dalam mata uang dolar AS," ujar Helmy.

Hingga 30 Juni 2026, TBIG mengantongi 42.332 penyewaan dan 25.280 sites telekomunikasi. Sites tersebut terdiri atas 25.172 menara telekomunikasi dan 108 jaringan DAS. Dengan total penyewaan pada menara sebanyak 42.224, rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan berada di 1,68x.

Emiten menara Grup Djarum, TOWR, juga membukukan lonjakan pendapatan dua digit sepanjang semester I/2026 menjadi Rp7,2 triliun. Raihan itu naik 12,69% secara tahunan dari sebelumnya Rp6,39 triliun.

Laba bersih TOWR ikut terkerek 12,39% secara tahunan, dari Rp1,65 triliun pada semester I/2025 menjadi Rp1,85 triliun pada semester I/2026.

Sewa menara masih menjadi tulang punggung pendapatan TOWR dengan kontribusi Rp5,74 triliun pada semester I/2026. Namun, pendapatan jasa dan lainnya melesat menjadi Rp1,36 triliun pada paruh pertama tahun ini, dari sebelumnya Rp645,4 miliar.

Pendapatan jasa dan lainnya itu mencakup konektivitas Rp1 triliun, penjualan generator set Rp330 miliar, jasa konstruksi dan pemeliharaan Rp60 miliar, pembayaran digital Rp41,3 miliar, solar panel Rp13,58 miliar, dan pendapatan FTTH Rp3 miliar.

Motor Pertumbuhan Anyar di Balik Bisnis Menara

Bisnis menara memang masih menjadi kontributor utama pendapatan dan laba bersih para emiten hingga semester I/2026. Namun, paruh pertama tahun ini memperkenalkan motor pertumbuhan baru bagi mereka.

Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dan Belva Monica dalam risetnya menuturkan kinerja emiten menara hingga akhir paruh pertama 2026 masih sejalan dengan ekspektasi.

Untuk TBIG, Indo Premier Sekuritas menilai kinerja operasional segmen menara perseroan melampaui perkiraan, sekalipun pertumbuhan pendapatannya masih sesuai proyeksi.

"Potensi kenaikan pendapatan masih terbuka apabila tambahan penyewa baru mulai berkontribusi pada semester berikutnya," ucap Aurelia dan Belva dalam risetnya.

Sejumlah katalis positif yang dinilai mampu mendorong kinerja TBIG antara lain percepatan implementasi layanan fixed wireless access (FWA) oleh PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), serta ekspansi jaringan 5G setelah operator mengantongi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.

Adapun untuk TOWR, Indo Premier Sekuritas melihat pendapatan perseroan pada semester I/2026 melampaui perkiraan, tetapi margin EBITDA menyusut akibat bisnis non-menara yang tumbuh lebih cepat.

"Perkembangan bisnis menara, monetisasi jaringan serat optik, serta arah suku bunga akan menjadi faktor utama yang menentukan prospek pertumbuhan TOWR," tulis Indo Premier Sekuritas.

Untuk MTEL, Indo Premier Sekuritas mencatat pertumbuhan EBITDA yang mencapai Rp3,9 triliun pada semester I/2026 sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, laba bersih inti sebesar Rp1,1 triliun berada di bawah proyeksi akibat kenaikan beban depresiasi dan biaya proyek.

Katalis utama bagi saham MTEL, menurut Indo Premier Sekuritas, adalah ekspansi jaringan 5G dan layanan fixed wireless access (FWA).

Indo Premier Sekuritas menyematkan rekomendasi buy untuk MTEL dengan target harga (target price/TP) Rp760, buy untuk TOWR dengan TP Rp940 per saham, serta hold untuk TBIG dengan TP Rp1.400 per saham.

Sementara itu, analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan memasang rekomendasi buy untuk TOWR dengan TP Rp500 per saham.

Steven menjelaskan risiko utama TOWR masih bersumber dari kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama serta tekanan valuasi di sektor telekomunikasi.

"Namun, upaya perusahaan dalam menurunkan tingkat utang (deleveraging) diperkirakan dapat memperkuat ketahanan neraca keuangan," tutur Steven.

Untuk MTEL, Steven memberi rekomendasi buy dengan TP Rp680 per saham. Ia menilai valuasi MTEL masih menarik, ditopang tiga faktor utama, yakni monetisasi bisnis serat optik yang terus membaik, permintaan kolokasi yang tetap kuat, dan pertumbuhan laba yang kian kentara.

Risiko utama yang perlu dicermati pada saham MTEL adalah suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama sehingga mengerek biaya pendanaan, serta biaya ekspansi jaringan dan operasional yang lebih besar dari perkiraan.

Iklan