Saham

PGEO Kembangkan Data Center Berbasis Panas Bumi 5 MW di Kamojang

Ringkasan Cepat

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengembangkan proyek percontohan pusat data (data center) berbasis energi panas bumi berkapasitas awal 5 MW di Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut dirancang menggunakan pasokan listrik sepenuhnya dari panas bumi tanpa terhubung dengan jaringan eksternal. PGEO memperkirakan pengembangan membutuhkan waktu satu hingga dua tahun dan membuka peluang ekspansi ke wilayah kerja panas bumi lainnya.

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi pusat data berbasis energi panas bumi yang dikembangkan Pertamina Geothermal Energy (PGEO) melalui proyek percontohan berkapasitas 5 MW di Kamojang, Jawa Barat.

Ilustrasi pusat data berbasis energi panas bumi yang dikembangkan Pertamina Geothermal Energy (PGEO) melalui proyek percontohan berkapasitas 5 MW di Kamojang, Jawa Barat. (Foto PGEO)

Emitenhub.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai mengembangkan proyek percontohan (pilot project) pusat data (data center) berbasis energi panas bumi dengan kapasitas awal 5 megawatt (MW) di Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi di luar bisnis pembangkitan listrik konvensional.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, mengatakan pusat data tersebut dirancang menggunakan pasokan listrik yang sepenuhnya berasal dari energi panas bumi atau pure geothermal.

Melalui konsep tersebut, operasional pusat data akan menggunakan sistem kelistrikan independen tanpa terhubung dengan jaringan listrik eksternal maupun sumber energi lainnya.

"Kita bikin independen tanpa terkoneksi dengan sumber energi lainnya. Jadi, kita bikin pure green energy dari geothermal. Ini yang sedang kita coba dalam bentuk pilot project," ujar Edwil dalam media briefing, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, pengembangan dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan potensi panas bumi yang tersedia di wilayah Kamojang. Kapasitas awal sebesar 5 MW dipilih sebagai langkah untuk menguji kelayakan penerapan teknologi tersebut.

PGEO telah melakukan sejumlah studi teknis dan mulai mempersiapkan infrastruktur pembangkit untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data.

"Untuk pilot project ini, kami coba dengan step kecil dulu, 5 megawatt di Kamojang. Kita bangkitkan menggunakan energi geothermal di Kamojang," kata Edwil.

Perseroan memperkirakan pengembangan proyek membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun. Selain menyelesaikan aspek teknis, PGEO masih perlu mematangkan model bisnis dan skema komersial agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Pengembangan pusat data berbasis panas bumi juga menjadi salah satu upaya perseroan untuk menciptakan sumber permintaan listrik baru di luar pelanggan konvensional.

Melalui strategi tersebut, PGEO berupaya memperluas potensi pemanfaatan energi panas bumi dengan menjangkau sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik berkelanjutan, termasuk infrastruktur pusat data.

Apabila proyek percontohan di Kamojang menunjukkan hasil yang sesuai harapan, perseroan membuka peluang untuk mengembangkan fasilitas serupa di wilayah kerja panas bumi lainnya.

Saat ini, PGEO memiliki 15 wilayah kerja panas bumi yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

Edwil menyebut potensi pengembangan panas bumi perseroan di Sulawesi mencapai sekitar 400 MW, sedangkan potensi di Sumatra melebihi 2 gigawatt (GW).

Potensi tersebut dinilai dapat membuka peluang pengembangan pusat data berbasis panas bumi pada tahap berikutnya, bergantung pada hasil pengujian dan kelayakan komersial proyek awal.

Melalui proyek percontohan Kamojang, PGEO akan menguji kelayakan teknologi, aspek lingkungan, serta potensi bisnis penggunaan energi panas bumi sebagai sumber listrik langsung bagi operasional pusat data.

Iklan