Saham

Rumor Merger Mitratel (MTEL) dan Tower Bersama (TBIG) Berembus Lagi, TOWR Terancam Tertekan

Ringkasan Cepat

Rumor merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat, dengan MTEL dikabarkan telah meminta penasihat keuangan mengajukan proposal. Analis menilai entitas gabungan yang bakal mengelola 65.800 menara berpotensi mengubah peta persaingan dan menekan pemain seperti TOWR, meski Danantara, Telkom, dan analis menegaskan prosesnya masih di tahap penjajakan awal tanpa konfirmasi resmi.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi rumor merger Mitratel dan Tower Bersama yang berpotensi mengubah peta persaingan industri menara telekomunikasi

Ilustrasi rumor merger Mitratel dan Tower Bersama yang berpotensi mengubah peta persaingan industri menara telekomunikasi (Foto:MTEL)

Emitenhub.com - Rumor mengenai penggabungan bisnis atau merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali berembus. Apabila terjadi, dampak merger ini diperkirakan memberikan tekanan ke pemain menara lainnya.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengaku belum mengetahui kabar potensi merger kedua emiten telekomunikasi tersebut. Sebab, wacana yang berkembang di publik ini, apabila benar, masih berada di level korporasi.

"Nanti saya cek bagaimana. Karena itu kan aksi korporasi, bukan aksi pemegang saham. Jadi kami mesti cek dari mereka. Apakah itu bagian daripada corporate strategy mereka," ujarnya kepada wartawan saat dimintai konfirmasi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Menurut Dony, merger antara perusahaan BUMN dan swasta bukan hal yang mustahil selama masuk ke dalam peta jalan (roadmap) maupun rencana kerja perseroan.

Hanya saja, Dony enggan berkomentar lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia mendorong agar pertanyaan teknis disampaikan ke induk usaha Mitratel, yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

"Memungkinkan saja, enggak ada masalah selama kalau itu bagian dari roadmap. Pada dasarnya kan setiap perusahaan punya rencana kerja masing-masing. Nanti coba ditanyakan ke Telkom bagaimana prosesnya, kan mereka punya hierarkirnya," terang pria yang juga Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN itu.

Adapun ketika dikonfirmasi mengenai kabar ini, induk dari Mitratel, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), menuturkan belum dapat memberikan komentar lebih lanjut.

SVP Group Sustainability & Corporate Communication Telkom Ahmad Reza menyampaikan sebagai bagian dari TelkomGroup, Mitratel secara berkala melakukan evaluasi terhadap berbagai opsi strategis dalam rangka mendukung pengembangan bisnis dan penciptaan nilai jangka panjang.

Reza menuturkan saat ini TLKM belum dapat memberikan komentar lebih lanjut mengenai isu merger tersebut. "Apabila terdapat informasi material yang perlu disampaikan kepada publik, Perseroan akan menyampaikannya melalui mekanisme keterbukaan informasi dan saluran resmi sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ucap Reza, Selasa (1/9/2026).

Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja sebelumnya menjelaskan rumor ini menghidupkan kembali tesis yang sebenarnya sudah muncul sejak 2014. Saat itu, TBIG berupaya mengakuisisi MTEL dari Telkom melalui skema tukar saham (share swap) yang berpotensi menambah 3.928 menara serta menghasilkan tambahan pendapatan sekitar US$130 juta dan EBITDA sekitar US$70 juta berdasarkan angka 2013. Lebih dari satu dekade kemudian, pembicaraan merger kembali aktif pada Juli 2025, sementara spekulasi kembali muncul pada Agustus 2026.

Daniel menuturkan pihaknya menilai merger tersebut positif bagi kedua pihak maupun industri secara keseluruhan. Portofolio kedua perusahaan secara geografis saling melengkapi, dengan MTEL lebih terkonsentrasi di luar Jawa (52,4%), sementara TBIG memiliki eksposur lebih besar di Jawa (57,4%). "Kondisi ini membatasi tumpang tindih aset dan memungkinkan sebagian besar aset gabungan tetap dipertahankan," ujar Daniel dalam risetnya.

Potensi Tekanan terhadap Perusahaan Menara Lainnya

Dari kacamata analis, apabila merger kedua perusahaan menara ini terealisasi, hal itu akan memberikan tekanan terhadap perusahaan menara lainnya.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi melihat peluang merger ini terealisasi secara momentum lebih kuat daripada upaya merger yang gagal pada 2015, karena business overlap sudah terjadi secara organik.

"MTEL sudah minta penasihat keuangan ajukan proposal, ini tahap lebih advanced daripada sekadar rumor. Tapi masih penjajakan awal, belum ada konfirmasi resmi dari ketiga pihak," ucap Wafi, Selasa (1/9/2026).

Ia melanjutkan, deal sebesar ini biasanya membutuhkan waktu panjang untuk penyelesaian atau closing karena kompleksitas persetujuan dari regulator.

Wafi juga melihat dampak merger ini ke industri akan transformatif karena skala dampaknya. Entitas gabungan akan mengelola 65.800 menara dan 106.100 tenant, sehingga menjadi pemain dominan.

"TOWR dan pemain lain pasti hadapi tekanan kompetisi meningkat signifikan. Industri akan re-shaped dari sisi competitive dynamics, meski demand growth underlying tetap jadi driver fundamental terlepas resolusi merger," ujar Wafi.

Di sisi lain, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai rumor merger MTEL-TBIG kembali menarik perhatian, tetapi investor perlu belajar dari pola rumor sebelumnya. "Isu serupa sudah muncul pada 2014-2015, ketika TBIG pernah dikaitkan dengan rencana akuisisi 49% MTEL melalui skema share swap, namun transaksi tersebut tidak berlanjut," kata Sukarno.

Ia melanjutkan rumor kembali muncul pada Juli 2025, tetapi saat itu TBIG secara resmi membantah dan menyatakan tidak ada perjanjian maupun dokumen merger yang ditandatangani.

Kini, kata Sukarno, statusnya sedikit berbeda. Pada 2026, isu kembali mencuat dan MTEL dikabarkan memang tengah mengevaluasi kemungkinan aksi korporasi, sementara Danantara menyebutnya masih dalam pembahasan dan belum menjadi keputusan pemegang saham.

Rumor merger MTEL-TBIG kali ini datang dengan bobot yang berbeda dari isu serupa pada 2014 dan 2025, karena MTEL dikabarkan sudah meminta penasihat keuangan mengajukan proposal. Jika terwujud, entitas gabungan dengan 65.800 menara akan mengubah peta persaingan dan menekan pemain seperti TOWR. Namun, seluruh pihak, mulai dari Danantara, Telkom, hingga para analis, sepakat bahwa prosesnya masih di tahap penjajakan awal tanpa konfirmasi resmi. Pasar pun lebih tepat menunggu keterbukaan informasi ketimbang menjadikan rumor ini sebagai dasar keputusan, mengingat dua wacana serupa sebelumnya berujung buntu.

Iklan