Emitenhub.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperluas daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Sebanyak 19 emiten baru masuk dalam kategori tersebut, sementara dua emiten lainnya dinyatakan keluar dari daftar.
Perubahan tersebut diumumkan melalui keterbukaan informasi BEI sejak Senin (12/10/2026) malam hingga Selasa (13/10/2026), berdasarkan rangkaian pengumuman yang dihimpun EmitenNews.
Penetapan status HSC dilakukan berdasarkan metodologi penghitungan konsentrasi kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat. Untuk kelompok emiten baru, penilaian menggunakan data struktur kepemilikan per 1 Oktober 2026.
Dengan penambahan 19 emiten dan keluarnya dua emiten, jumlah saham dalam daftar HSC menjadi 80 emiten berdasarkan kompilasi data tersebut.
Di antara saham yang baru masuk terdapat PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Dua emiten yang keluar dari kategori HSC adalah PT MD Entertainment Tbk (FILM) dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV).
Daftar 19 Saham Baru Masuk Kategori HSC
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut 19 emiten yang baru ditetapkan memiliki konsentrasi kepemilikan saham tinggi beserta persentasenya.
Kode saham | Konsentrasi HSC |
|---|---|
TBIG | 96,62% |
SSMS | 95,79% |
PSAB | 95,78% |
SMMT | 97,12% |
CITA | 99,16% |
BMAS | 99,91% |
MTEL | 95,58% |
ADES | 95,10% |
SAME | 94,99% |
BBMD | 99,25% |
SHIP | 98,30% |
BALI | 92,60% |
INPP | 98,72% |
EPMT | 99,01% |
DUTI | 99,88% |
MAYA | 96,68% |
CLAY | 99,89% |
TMAS | 95,30% |
DMND | 99,86% |
Dari kelompok pendatang baru tersebut, BMAS mencatat tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi sebesar 99,91%. Posisi berikutnya ditempati CLAY dengan 99,89%, DUTI sebesar 99,88%, dan DMND mencapai 99,86%.
Sementara itu, BALI mencatat tingkat konsentrasi terendah dalam kelompok tambahan tersebut, yakni 92,60%.
Daftar Saham Lain yang Masih Berstatus HSC
Di luar 19 emiten baru, sejumlah perusahaan yang sebelumnya masuk kategori HSC masih tercantum dalam daftar terbaru.
Berikut 61 emiten lainnya beserta persentase konsentrasi kepemilikan berdasarkan data yang dihimpun.
Kode saham | Konsentrasi HSC |
|---|---|
MPRO | 99,99% |
DCII | 99,96% |
BBSI | 99,95% |
PGUN | 99,95% |
POLU | 99,94% |
SOHO | 99,93% |
BNLI | 99,92% |
YUPI | 99,91% |
ROCK | 99,85% |
PRAY | 99,84% |
BTPN | 99,78% |
FAPA | 99,77% |
IFSH | 99,77% |
SMAR | 99,58% |
MLPT | 99,42% |
CMNT | 99,41% |
GEMS | 99,24% |
LIFE | 99,21% |
BNII | 99,14% |
ELPI | 98,90% |
MCOL | 98,62% |
BYAN | 98,50% |
KING | 98,40% |
SOTS | 98,35% |
DNET | 98,06% |
RISE | 98,03% |
AGII | 97,75% |
ALII | 97,62% |
DGWG | 97,35% |
BREN | 97,31% |
SRAJ | 97,21% |
MKPI | 97,02% |
SILO | 96,70% |
HATM | 96,09% |
WBSA | 95,82% |
DSSA | 95,76% |
MEGA | 95,68% |
MORA | 95,65% |
RLCO | 95,35% |
KONI | 95,08% |
FITT | 95,00% |
STTP | 94,95% |
BINA | 94,79% |
SATU | 94,27% |
TCPI | 94,10% |
BELI | 93,83% |
MGRO | 93,76% |
BBHI | 92,71% |
CMNP | 96,64% |
AGAR | 99,32% |
ALKA | 98,21% |
BKDP | 95,45% |
BAJA | 93,89% |
MDIA | 94,31% |
BDKR | 94,95% |
SAFE | 98,14% |
NICK | 99,28% |
MSJA | 98,62% |
BIKE | 93,08% |
INDO | 94,96% |
BSWD | 99,95% |
Secara keseluruhan, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencatat konsentrasi kepemilikan tertinggi sebesar 99,99%. Berikutnya terdapat PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 99,96%, disusul BBSI dan PGUN yang masing-masing mencapai 99,95%.
Sejumlah emiten berkapitalisasi besar juga masih tercantum dalam daftar, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan konsentrasi 97,31% dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76%.
BEI Perluas Pemantauan Konsentrasi Kepemilikan Saham
Penambahan emiten HSC berlangsung setelah BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyempurnakan metodologi pemantauan struktur kepemilikan saham.
Salah satu perubahan dilakukan melalui perluasan penggunaan price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. Sebelumnya, pengujian tersebut mencakup saham dengan kapitalisasi pasar melebihi Rp10 triliun.
Metodologi ini digunakan untuk memperluas pengawasan terhadap konsentrasi kepemilikan dan karakteristik perdagangan saham di pasar modal Indonesia.
Perluasan cakupan tersebut juga menjadi bagian dari pembenahan transparansi pasar melalui penyediaan informasi kepemilikan yang lebih terperinci.
Dengan bertambahnya emiten dalam daftar HSC, investor memperoleh informasi tambahan mengenai struktur kepemilikan saham yang diperdagangkan di BEI.
Status HSC sendiri tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran ketentuan pasar modal. Penetapan tersebut merupakan hasil penilaian terhadap konsentrasi kepemilikan berdasarkan metodologi yang digunakan bursa.
Perubahan status FILM dan MGLV menunjukkan bahwa daftar HSC dapat mengalami penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi terbaru. Sementara itu, penambahan 19 saham menjadi perkembangan dalam penerapan metodologi pemantauan yang telah diperluas BEI.


