Saham

BEI Luncurkan Go Public Academy for SMEs, Siapkan Usaha Menengah Menuju IPO

Ringkasan Cepat

Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan Go Public Academy for SMEs bersama Kementerian UMKM, PT Surveyor Indonesia, dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kesiapan usaha menengah mengakses pasar modal. Program ini menjadi bagian dari inisiatif RISE to IPO yang telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota sejak 2025. Pembinaan mencakup penguatan tata kelola, kesiapan keuangan, hingga persiapan IPO tanpa mewajibkan peserta menjadi perusahaan terbuka.

• 5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Peluncuran program Go Public Academy for SMEs oleh Bursa Efek Indonesia bersama Kementerian UMKM dan mitra untuk mendukung kesiapan usaha menengah mengakses pasar modal.

Peluncuran program Go Public Academy for SMEs oleh Bursa Efek Indonesia bersama Kementerian UMKM dan mitra untuk mendukung kesiapan usaha menengah mengakses pasar modal. (Foto:IHSG)

Emitenhub.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas upaya mendorong perusahaan menengah mengakses pendanaan pasar modal melalui peluncuran program Go Public Academy for SMEs. Inisiatif ini dikembangkan bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), PT Surveyor Indonesia, serta kalangan perguruan tinggi.

Peluncuran program tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026). Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem pembinaan perusahaan yang lebih terstruktur, mulai dari peningkatan kapasitas bisnis hingga persiapan memasuki pasar modal.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa peran bursa tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan perdagangan dan pencatatan efek. BEI juga berupaya mendukung pengembangan perusahaan agar memiliki fundamental bisnis dan tata kelola yang lebih baik.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, semakin banyak perusahaan diharapkan dapat memahami peluang pendanaan pasar modal sekaligus mempersiapkan diri menjadi perusahaan terbuka.

Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting, menilai usaha menengah memiliki posisi penting dalam menghubungkan kegiatan ekonomi masyarakat dengan industri berskala besar.

Menurutnya, peningkatan skala usaha tidak cukup hanya mengandalkan tambahan modal. Perusahaan juga memerlukan struktur pendanaan yang sehat, tata kelola profesional, transparansi, serta kemampuan mengelola risiko.

Dalam konteks tersebut, pasar modal dapat menjadi alternatif pembiayaan jangka panjang yang melengkapi sumber pendanaan konvensional, termasuk kredit perbankan.

Meski demikian, Loto menegaskan bahwa keikutsertaan dalam program pembinaan tidak mewajibkan perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Keputusan melantai di bursa tetap berada di tangan masing-masing perusahaan dengan mempertimbangkan kesiapan operasional, kondisi keuangan, serta persyaratan yang berlaku.

Program RISE to IPO Jangkau 281 Perusahaan

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menjelaskan bahwa Go Public Academy for SMEs menjadi bagian dari pengembangan program RISE to IPO yang telah dijalankan sejak 2025.

Program RISE dirancang melalui empat tahapan pembinaan, yakni Reach, Inspire, Support, dan Elevate.

Tahap Reach berfokus pada identifikasi dan penjangkauan perusahaan potensial, sedangkan Inspire bertujuan meningkatkan pemahaman serta ketertarikan pelaku usaha terhadap peluang pasar modal.

Selanjutnya, tahap Support diarahkan untuk memperkuat kapasitas dan kesiapan perusahaan melalui pendampingan. Adapun Elevate menitikberatkan pada peningkatan daya saing dan kualitas tata kelola bisnis.

Sejak dilaksanakan pada 2025, rangkaian program RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung.

Dari kegiatan di Jakarta dan Semarang, sebanyak 23 perusahaan telah melalui proses kurasi untuk mengikuti Intensive Coaching Clinic pada Februari 2026.

Sementara itu, perusahaan peserta dari Surabaya, Makassar, dan Bandung dijadwalkan melanjutkan tahapan pendampingan berikutnya.

Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), Kementerian UMKM mencatat sekitar 15.300 usaha menengah di Indonesia. Namun, baru sekitar 1.600 perusahaan yang telah memiliki profil dalam basis data tersebut.

Dari kegiatan pengembangan ekosistem ini, sebanyak 200 pelaku usaha menengah dipilih untuk memperoleh pengenalan lebih lanjut mengenai peluang pembiayaan melalui pasar modal.

Informasi tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat proses pemetaan, seleksi, dan pembinaan perusahaan yang dinilai memiliki potensi untuk berkembang.

Dengan demikian, jumlah 15.300 usaha menengah menjadi basis pemetaan program, bukan jumlah perusahaan yang telah dinyatakan siap melaksanakan IPO.

Go Public Academy Siapkan Tujuh Tahap Pengembangan Perusahaan

Untuk memperkuat kualitas pembinaan, BEI mengembangkan Go Public Academy for SMEs bersama Universitas Indonesia sebagai platform edukasi dan pendampingan bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan pasar modal.

Program ini dirancang melalui tujuh tahapan, mulai dari pengenalan pasar modal hingga penguatan daya saing perusahaan pada tingkat nasional dan internasional.

Ketujuh tahapan tersebut meliputi Awareness, Corporate Readiness, Financial Readiness, IPO Readiness, Public Company Excellence, Capital Market Expansion, serta National and Global Champion.

Pada tahap awal, perusahaan akan memperoleh pemahaman mengenai pasar modal serta pembenahan fondasi bisnis dan keuangan. Pembinaan kemudian diarahkan pada kesiapan IPO, penguatan tata kelola setelah menjadi perusahaan publik, hingga pengembangan akses pendanaan yang lebih luas.

Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan memperluas jangkauan program ke berbagai daerah, sehingga perusahaan potensial di luar pusat kegiatan ekonomi utama juga dapat memperoleh akses edukasi dan pendampingan.

Selain Universitas Indonesia, pengembangan ekosistem ini melibatkan PT Surveyor Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas informasi dan kepercayaan terhadap perusahaan yang berencana memasuki pasar modal.

Kerja sama tersebut mencakup verifikasi dan validasi informasi keuangan maupun nonkeuangan, serta penguatan penerapan prinsip tata kelola, lingkungan, sosial, dan keberlanjutan.

Langkah ini diharapkan dapat membantu perusahaan meningkatkan transparansi dan memenuhi standar yang dibutuhkan dalam mengakses pembiayaan pasar modal.

Pelaksanaan Go Public Academy juga akan melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, perusahaan efek, asosiasi usaha, mentor, praktisi, serta lembaga pendukung lainnya.

Kolaborasi lintas sektor tersebut dirancang untuk menyediakan jalur pengembangan perusahaan yang lebih terintegrasi, mulai dari identifikasi potensi usaha hingga pendampingan menuju sumber pendanaan yang sesuai.

Di sisi lain, BEI juga berupaya meningkatkan daya tarik pasar modal melalui kajian mengenai insentif perpajakan bagi perusahaan tercatat.

Bersama DDTC, BEI telah melakukan kajian terkait fasilitas perpajakan yang dapat dimanfaatkan perusahaan ketika melantai di bursa.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, perusahaan terbuka yang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperoleh fasilitas tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar tiga poin persentase lebih rendah dibandingkan tarif umum.

Informasi mengenai fasilitas tersebut menjadi salah satu aspek yang dapat diperkenalkan kepada perusahaan dalam mempertimbangkan manfaat dan kewajiban setelah melakukan IPO.

Melalui pengembangan Go Public Academy for SMEs, BEI dan para mitra berupaya memperkuat kesiapan perusahaan menengah dalam mengakses pasar modal sekaligus meningkatkan kualitas calon emiten Indonesia.

Program tersebut juga diharapkan memperluas pilihan sumber pendanaan bagi dunia usaha dan memperkuat kontribusi pasar modal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Iklan