Emitenhub.com - Kinerja emiten rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan perlambatan pertumbuhan laba hingga kuartal III-2026. Tekanan daya beli dan pergeseran konsumsi menuju produk berharga lebih murah (downtrading) menjadi tantangan bagi produsen rokok dalam mempertahankan volume penjualan dan margin keuntungan.
Meski sejumlah emiten masih membukukan kenaikan laba bersih secara tahunan, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan semester I-2026. Kondisi tersebut terlihat pada PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Pertumbuhan laba bersih HMSP melambat dari 97,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada semester I-2026 menjadi 44,42 persen hingga September 2026.
Sementara itu, GGRM mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 308,56 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2026, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2.440,18 persen pada semester sebelumnya.
Perlambatan juga dialami WIIM yang membukukan kenaikan laba bersih sebesar 73,98 persen hingga kuartal III-2026, dibandingkan pertumbuhan 104,56 persen pada semester I-2026.
Berbeda dengan ketiga emiten tersebut, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) justru mengalami pembalikan kinerja. Setelah mencatat pertumbuhan laba bersih 16,11 persen pada semester I-2026, perseroan membukukan penurunan laba sebesar 4,55 persen hingga September 2026.
Dari sisi pendapatan, kinerja masing-masing emiten menunjukkan perbedaan. GGRM mengalami penurunan pendapatan sebesar 8,67 persen secara tahunan, tetapi laba bersihnya tetap tumbuh 308,56 persen seiring penurunan beban pokok pendapatan sebesar 13,99 persen.
Pendapatan dari segmen sigaret kretek mesin (SKM), yang menjadi kontributor utama penjualan GGRM, mengalami kontraksi sebesar 9,26 persen.
Sebaliknya, HMSP mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 4,50 persen dan laba bersih 44,42 persen. Namun, laba kotornya hanya meningkat 3,93 persen, menunjukkan bahwa kenaikan penjualan belum sepenuhnya diikuti penguatan margin.
Segmen SKM HMSP tumbuh 15,58 persen secara tahunan, sedangkan penjualan produk bebas asap meningkat 10,44 persen.
Pada kelompok emiten rokok lapis kedua, WIIM membukukan pertumbuhan penjualan 10 persen dengan kenaikan laba bersih 73,98 persen. Sementara itu, penjualan ITIC meningkat 7,26 persen, tetapi laba bersihnya justru turun 4,55 persen.
Perbedaan tersebut juga tercermin dari rasio margin laba bersih atau net profit margin (NPM). Hingga akhir September 2026, WIIM mencatat NPM tertinggi di antara keempat emiten tersebut sebesar 9,78 persen.
Posisi berikutnya ditempati HMSP dengan NPM 7,44 persen, GGRM sebesar 7,35 persen, dan ITIC sebesar 6,54 persen.
Downtrading Tekan Volume Penjualan dan Margin Emiten Rokok
Pergeseran konsumsi menuju produk rokok dengan harga lebih terjangkau menjadi salah satu tantangan utama industri tembakau, terutama bagi produsen yang memiliki eksposur besar pada segmen premium seperti GGRM dan HMSP.
Perbedaan tarif cukai antara kelompok produsen serta persaingan dengan rokok ilegal turut memengaruhi pilihan konsumen. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan strategi harga untuk mempertahankan pangsa pasar.
Manajemen GGRM sebelumnya melaporkan volume penjualan sepanjang semester I-2026 turun 13,50 persen menjadi 20,50 miliar batang.
Penurunan terdalam terjadi pada segmen SKM light tar (LT), yang merosot 56,75 persen menjadi 0,14 miliar batang. Sementara itu, volume SKM high tar (HT), sebagai penyumbang utama penjualan, turun 13,30 persen menjadi 17,47 miliar batang.
Kontraksi volume GGRM lebih besar dibandingkan penurunan volume penjualan rokok nasional sebesar 6,8 persen. Pada tingkat industri, segmen SKM HT melemah 10,3 persen, sedangkan SKM LT turun 6 persen.
Manajemen GGRM menyatakan perseroan berupaya mempertahankan pangsa pasar domestik dengan tetap memperhatikan kebijakan harga kompetitor. Strategi tersebut dilakukan agar produk perusahaan tidak berada pada posisi harga paling tinggi di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, induk usaha HMSP, Philip Morris International (PMI), melaporkan pangsa pasar bisnisnya di Indonesia turun dari 30,9 persen pada September 2025 menjadi 30 persen pada September 2026.
Adapun pangsa pasar produk tembakau bebas asap berbasis heated tobacco unit (HTU) tercatat sebesar 0,6 persen, relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.
PMI juga mengidentifikasi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi profitabilitas ke depan, termasuk keberhasilan pengembangan produk bebas asap serta perubahan regulasi dan kebijakan perpajakan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai terdapat perbedaan strategi yang cukup signifikan antara HMSP dan GGRM dalam menghadapi fenomena downtrading.
Menurutnya, HMSP relatif mampu menangkap pergeseran permintaan menuju produk dengan harga lebih terjangkau. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan SKM yang membantu menopang pendapatan dan laba perseroan.
Sebaliknya, GGRM masih menghadapi tekanan volume penjualan, sehingga pertumbuhan laba yang tinggi lebih banyak berasal dari penurunan biaya pokok pendapatan dibandingkan ekspansi penjualan.
"Artinya, HMSP lebih adaptif dengan portofolio produk yang menyasar segmen harga terjangkau, sedangkan pemulihan laba GGRM masih bertumpu pada efisiensi biaya dan belum didukung pertumbuhan pasar," kata Abida kepada Bisnis, Senin (2/11/2026).
Abida juga melihat perusahaan rokok lapis kedua seperti WIIM dan ITIC memiliki peluang memperoleh manfaat dari pergeseran konsumsi karena menawarkan produk pada segmen harga lebih rendah.
Namun, pelemahan laba ITIC menunjukkan bahwa peralihan konsumen ke produk ekonomis tidak otomatis menjamin peningkatan profitabilitas.
Kenaikan biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan tetap berpotensi menekan margin, bahkan ketika volume atau nilai penjualan meningkat.
Prospek Saham Rokok 2027 Bergantung pada Daya Beli dan Kebijakan Cukai
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai perlambatan pertumbuhan laba emiten rokok pada kuartal III-2026 menunjukkan tekanan terhadap industri semakin terasa.
Menurutnya, pelemahan daya beli dan perubahan perilaku konsumsi memengaruhi struktur permintaan serta komposisi penjualan perusahaan.
Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan laba bersih tidak selalu mencerminkan pemulihan fundamental bisnis. Peningkatan keuntungan juga dapat berasal dari efisiensi produksi, pengendalian beban operasional, atau perbaikan struktur biaya.
Kinerja GGRM menjadi salah satu contohnya. Meski laba bersih tumbuh lebih dari 300 persen, penjualan perseroan justru mengalami penurunan.
Ronny menilai pertumbuhan laba tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan basis laba pada periode sebelumnya serta kontribusi penurunan beban pokok pendapatan.
Sementara itu, perlambatan pertumbuhan laba HMSP dan WIIM menunjukkan manfaat efisiensi serta perubahan bauran produk juga memiliki keterbatasan ketika persaingan harga semakin ketat.
Adapun kontraksi laba ITIC di tengah peningkatan penjualan memperlihatkan pentingnya pengendalian biaya produksi agar pertumbuhan pendapatan dapat diterjemahkan menjadi keuntungan yang lebih besar.
Ronny memperkirakan tekanan terhadap industri rokok masih berlanjut hingga akhir 2026, meskipun dampaknya berbeda pada setiap perusahaan.
Menurutnya, perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara volume penjualan, strategi harga, efisiensi biaya, dan kekuatan distribusi untuk mempertahankan profitabilitas.
Memasuki 2027, arah kebijakan cukai hasil tembakau menjadi salah satu faktor yang akan menentukan perkembangan industri.
Pemerintah sebelumnya memutuskan tidak menaikkan tarif cukai rokok pada 2026. Namun, kebijakan untuk 2027 masih perlu mempertimbangkan kondisi fiskal, penerimaan negara, kesehatan masyarakat, perkembangan industri, serta efektivitas penindakan rokok ilegal.
Ronny menilai stabilitas tarif cukai berpotensi memberikan ruang bagi perusahaan dalam menyusun strategi harga dan produksi. Meski demikian, kebijakan tersebut tidak secara langsung menghilangkan tekanan daya beli maupun fenomena downtrading.
Dari sisi pasar saham, keempat emiten rokok mencatat pelemahan pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Saham GGRM turun 1,83 persen ke Rp16.100, sedangkan HMSP terkoreksi 2,26 persen menjadi Rp650 per saham.
Tekanan juga terjadi pada ITIC yang melemah 2,35 persen ke Rp166 serta WIIM yang turun 0,65 persen menjadi Rp1.520.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai investor perlu semakin selektif dalam mencermati saham emiten rokok, terutama dengan mempertimbangkan pertumbuhan volume, margin keuntungan, dan arus kas operasional.
Menurut Nafan, HMSP memiliki kekuatan dari sisi skala bisnis, merek, jaringan distribusi, serta potensi pembagian dividen. Sementara itu, WIIM menunjukkan momentum pertumbuhan penjualan dan kemampuan menjangkau konsumen pada segmen harga ekonomis.
Untuk GGRM, peluang pemulihan kinerja masih bergantung pada keberlanjutan efisiensi biaya serta perbaikan volume penjualan. Adapun ITIC memerlukan penguatan margin dan pengendalian biaya produksi untuk memperbaiki profitabilitas.
Nafan menambahkan bahwa perkembangan daya beli masyarakat, pergeseran konsumsi, persaingan dengan rokok ilegal, serta kebijakan cukai 2027 akan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Dengan tekanan tersebut, prospek emiten rokok hingga 2027 diperkirakan semakin bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan menyesuaikan portofolio produk dan menjaga efisiensi tanpa mengorbankan pertumbuhan penjualan.
