Saham

DOOH Bidik Akuisisi INET Rp2 Triliun, Siapkan Rights Issue 154,77 Miliar Saham

Ringkasan Cepat

PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) berencana mengakuisisi 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) senilai Rp2,005 triliun untuk memperluas bisnis ke infrastruktur AI dan data center. Perseroan juga menyiapkan rights issue maksimal 154,77 miliar saham baru serta sejumlah aksi korporasi lainnya. Analis Mirae Asset Sekuritas menyoroti peluang pertumbuhan sekaligus risiko valuasi, dilusi saham, dan kebutuhan belanja modal.

• 6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Rencana akuisisi 29,88% saham INET oleh DOOH senilai Rp2,005 triliun untuk ekspansi infrastruktur AI dan data center.

Transaksi 545 juta saham PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) senilai Rp179,85 miliar melalui Pasar Negosiasi Bursa Efek Indonesia. (Foto:DOOH)

Emitenhub.com - Rencana akuisisi 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) membuka jalan bagi PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) untuk memperluas bisnis ke sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center). Transaksi senilai sekitar Rp2 triliun tersebut dapat mengubah arah bisnis perseroan yang selama ini berfokus pada periklanan digital.

Ekspansi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penilaian investor terhadap prospek jangka panjang DOOH. Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), saham perseroan ditutup di level Rp270 per saham.

Dalam enam bulan terakhir, harga saham DOOH telah menguat 86,21%. Namun, secara tahun berjalan atau year-to-date (YtD) 2026, saham tersebut masih mencatat koreksi sebesar 7,53%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai akuisisi INET dapat memperluas rantai bisnis DOOH. Integrasi tersebut mencakup konektivitas dan monetisasi media digital dalam ekosistem Surge serta jaringan distribusi bandwidth dan basis pelanggan homepass INET.

Menurut Nafan, keberhasilan penggabungan operasional kedua bisnis menjadi faktor penting bagi pertumbuhan kinerja perseroan. Meski demikian, ketidakpastian struktur pendanaan transaksi masih dapat memicu volatilitas harga saham dalam jangka pendek.

“Walaupun fluktuasi harga saham berpeluang terjadi dalam jangka pendek akibat ketidakpastian struktur pendanaan, keberhasilan integrasi operasional ini dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan kinerja perseroan,” ujar Nafan kepada Bisnis, Kamis (8/10/2026).

Perubahan model bisnis juga dinilai dapat membuka peluang penilaian ulang atau rerating valuasi DOOH. Infrastruktur digital memiliki karakter pendapatan berulang (recurring revenue) yang dapat memberikan gambaran lebih terukur terhadap kinerja perusahaan.

Untuk mengukur valuasi DOOH setelah transaksi, Nafan menyoroti dua indikator utama, yakni EV/EBITDA dan Net Debt to EBITDA.

EV/EBITDA digunakan untuk membandingkan nilai perusahaan dengan kemampuan menghasilkan laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Sementara itu, Net Debt to EBITDA menjadi ukuran kemampuan perusahaan dalam menanggung utang bersih berdasarkan kinerja operasionalnya.

Kedua indikator tersebut dinilai relevan mengingat bisnis infrastruktur digital membutuhkan belanja modal besar dan memiliki beban depresiasi aset yang tinggi.

Valuasi Akuisisi dan Risiko Dilusi Saham DOOH

Nilai akuisisi sekitar Rp2 triliun untuk 29,88% saham INET mengimplikasikan valuasi ekuitas perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp6,7 triliun.

Nafan menilai angka tersebut tergolong premium jika dibandingkan dengan kinerja historis INET. Karena itu, kewajaran valuasi transaksi akan bergantung pada pertumbuhan aset jaringan serat optik dan realisasi sinergi komersial dengan ekosistem DOOH.

Aspek pendanaan turut menjadi perhatian. Rencana penerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue dapat menimbulkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham DOOH yang tidak menggunakan haknya.

Menurut Nafan, risiko tersebut perlu diperhitungkan bersama kontribusi aset dan laba INET terhadap kinerja keuangan DOOH setelah transaksi.

Akuisisi dinilai tetap menarik apabila konsolidasi bisnis INET mampu meningkatkan laba per saham atau earnings per share (EPS) DOOH dalam satu hingga dua tahun mendatang.

Dengan demikian, keberhasilan transaksi tidak hanya ditentukan oleh penyelesaian akuisisi, tetapi juga kemampuan perseroan mengintegrasikan aset INET dan menghasilkan kontribusi laba yang sebanding dengan nilai investasi serta risiko pendanaannya.

Transformasi bisnis PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) juga menghadapi risiko kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang besar. Pengembangan jaringan serat optik dan infrastruktur digital memerlukan investasi berkelanjutan, sehingga dapat menambah kebutuhan pendanaan dan beban bunga perseroan.

Tantangan berikutnya terletak pada integrasi operasional dengan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Menurut Nafan, penggabungan bisnis media digital dan infrastruktur konektivitas belum tentu meningkatkan kinerja apabila tidak diikuti pertumbuhan monetisasi pelanggan serta efisiensi operasional.

Risiko lain berasal dari valuasi saham yang telah memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan tinggi atau priced-in. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual apabila realisasi laba setelah konsolidasi tidak mencapai proyeksi pasar.

Rencana transaksi ini akan dilakukan DOOH melalui anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI). Perseroan berencana membeli 6,68 miliar saham INET atau setara 29,88% dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN).

Harga pembelian ditetapkan sebesar Rp300 per saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp2,005 triliun. Nilai tersebut setara dengan 647,90% dari total ekuitas konsolidasian DOOH per 30 Juni 2026.

PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menempatkan akuisisi saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terintegrasi. Perubahan strategi tersebut dijalankan bersama pemegang saham pengendali baru, PT Sinergi Internasional Investama (SII).

DOOH Siapkan Lima Pilar Bisnis Infrastruktur Digital

Direktur DOOH Devinisa Suhartono mengatakan perkembangan teknologi dan industrialisasi membuka peluang bagi perseroan untuk memasuki pasar infrastruktur AI. Salah satu sektor yang sedang dikaji adalah pusat data (data center).

Perseroan telah melakukan sejumlah asesmen dan mengumpulkan data mengenai prospek kebutuhan pusat data di Indonesia. Kajian tersebut menjadi dasar untuk menilai peluang ekspansi di luar bisnis periklanan digital.

“Kami merasa peluang-peluang ini merupakan sesuatu yang perlu kami tindak lanjuti dan kami pelajari, agar kami tidak kehilangan kesempatan dalam menyikapi kondisi perkembangan market hari ini terutama perkembangan teknologi,” ujar Devinisa dalam Public Expose DOOH, Jumat (4/9/2026).

Direktur Utama DOOH Vicktor Aritonang menjelaskan bahwa transformasi akan dijalankan melalui struktur holding company. Nantinya, perseroan akan menaungi sejumlah anak usaha yang bergerak dalam lima bidang infrastruktur digital.

Kelima pilar tersebut meliputi Data Centre AI, High Speed Connectivity, Inland Fiber Optic Backbone, Submarine Fiber Optic Backbone, serta Green Energy melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Meski memperluas kegiatan usaha, DOOH tidak berencana menghentikan bisnis periklanan digital. Vicktor menegaskan bahwa lini usaha tersebut tetap beroperasi bersamaan dengan pengembangan lima pilar baru.

Empat Aksi Korporasi untuk Mendukung Ekspansi DOOH

Untuk menjalankan strategi tersebut, DOOH bersama SII menyiapkan empat aksi korporasi yang mencakup pendanaan akuisisi, penambahan modal, dan restrukturisasi perusahaan.

Salah satu sumber pendanaan berasal dari fasilitas pinjaman pemegang saham (shareholder loan) yang disediakan SII dengan plafon mencapai Rp5 triliun.

Pinjaman tersebut memiliki tenor 10 tahun dengan bunga 7,5% per tahun. Pencairan tahap pertama sebesar Rp2 triliun direncanakan untuk membiayai pembelian saham INET.

DOOH juga akan mengalihkan penggunaan sisa dana penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp120 miliar. Dana tersebut akan disetorkan sebagai modal kepada PT Cakrawala Nexus Investama (CNI) untuk mendukung pelaksanaan akuisisi.

Langkah pendanaan berikutnya berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) atau rights issue. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 154,77 miliar saham baru yang disertai Waran Seri II.

Adapun restrukturisasi perusahaan akan mencakup perubahan nama dan alamat kedudukan perseroan serta penyesuaian KBLI 2025. DOOH juga merencanakan perubahan susunan Direksi dan Komisaris serta peningkatan modal dasar.

Keempat agenda tersebut akan diajukan kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 November 2026.

INET Belum Terima Dokumen Transaksi Akuisisi

Sementara itu, manajemen INET menyatakan belum terdapat perjanjian definitif mengenai rencana kolaborasi maupun sinergi operasional dengan DOOH.

Senior Vice President Corporate Secretary INET Arki Rifazka membenarkan adanya rencana pengalihan 6,68 miliar saham atau setara 29,88% kepemilikan INET dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) kepada CNI yang terafiliasi dengan DOOH.

Meski demikian, transaksi tersebut masih berada dalam tahap perencanaan. INET juga belum menerima dokumen transaksi dari pihak-pihak yang terlibat.

“Namun demikian, sampai dengan tanggal surat ini, transaksi tersebut masih berupa rencana dan perseroan belum menerima dokumen transaksi dari para pihak," jelas Arki dalam keterbukaan informasi yang dikutip Rabu (7/10/2026).

Manajemen INET menyatakan tetap terbuka terhadap peluang kerja sama dengan pemegang saham baru. Namun, setiap bentuk kolaborasi harus memberikan nilai tambah bagi perseroan dan memenuhi ketentuan pasar modal yang berlaku.

Iklan