Saham

Kinerja PGEO Moncer di Semester I, Analis Pasang Target Harga hingga Rp1.100

Ringkasan Cepat

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan pertumbuhan laba dua digit pada semester I/2026 dengan pendapatan US$235,027 juta (naik 14,7 persen YoY) dan laba bersih US$79,605 juta. Perseroan juga mencetak rekor produksi 3.222 GWh hingga Juli 2026 dan mempercepat pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4. Analis Indo Premier dan KISI Sekuritas menilai PGEO sebagai emiten EBT berfundamental paling solid, dengan target harga hingga Rp1.100 per saham.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)

Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) (Foto PGEO)

Emitenhub.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengawali jalan menuju akhir 2026 dengan modal kuat. Emiten energi baru terbarukan (EBT) ini membukukan pertumbuhan laba dua digit pada semester I/2026, memecahkan rekor produksi hingga Juli, sekaligus mempercepat proyek pengembangan baru yang sudah mengantongi akses pendanaan.

Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham PGEO pada perdagangan Rabu (7/10/2026) ditutup naik 1 persen atau 10 poin ke Rp1.010 per lembar, setelah dibuka di Rp1.000. Sepanjang hari, sahamnya bergerak di rentang Rp990 sampai Rp1.010. Dalam lima hari terakhir, PGEO sudah naik 3,59 persen. Namun secara year-to-date 2026 sahamnya masih terkoreksi 10,62 persen, dengan kapitalisasi pasar Rp42,37 triliun.

Laba tumbuh dua digit

Hingga 30 Juni 2026, PGEO membukukan pendapatan US$235,027 juta, tumbuh 14,7 persen secara tahunan dari US$204,850 juta pada periode sama 2025. Laba bersihnya ikut berakselerasi, dari US$43,899 juta pada kuartal I menjadi akumulasi US$79,605 juta hingga akhir Juni, atau naik 15,48 persen secara tahunan.

Struktur permodalannya juga menguat. Ekuitas tercatat US$2,006 miliar, sementara liabilitas turun 2,80 persen dibanding akhir 2025 menjadi US$961,184 juta.

"Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif," kata Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam keterangannya, dikutip Rabu (7/10/2026).

Rekor produksi dan ekspansi Lumut Balai

Hingga 31 Juli 2026, PGEO mencetak rekor produksi tertinggi sekitar 3.222 GWh, naik 12,7 persen dari 2.859 GWh pada periode sama tahun lalu. Untuk keseluruhan 2026, perseroan menargetkan produksi 5.255 GWh, naik dari 5.095 GWh pada 2025.

Di sisi pengembangan, PGEO mempercepat PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan, masing-masing berkapasitas 55 MW. Setelah persetujuan Final Investment Decision (FID) Unit 3 pada kuartal I/2026, tajak perdana dilakukan pada 8 Juli 2026 di sumur LMB 19-3, disusul pengeboran sumur kedua LMB-19.4 pada 17 September 2026.

Proyek ini juga masuk Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni lalu, yang membuka akses pendanaan lewat potensi pinjaman luar negeri senilai US$158,86 juta untuk Unit 3 dan US$148,97 juta untuk Unit 4.

Proyek lain terus bergerak

Sejumlah proyek strategis PGEO juga melaju. Tarif proyek Lahendong Low Pressure (15 MW) sudah disepakati pada April 2026, sementara proyek Co-Generation berkapasitas total 230 MW membidik penandatanganan PPA pada kuartal IV/2026. Di Ulubelu, proyek Gunung Tiga (2x27,5 MW) menjadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dengan target operasi komersial (COD) pada 2029.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menegaskan ketahanan energi nasional menuntut pasokan listrik yang tak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal.

"Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan," kata Ahmad Yani.

Analis pasang target tinggi

Para analis menaruh harapan pada PGEO, tercermin dari target harga sahamnya. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi merekomendasikan PGEO dengan target harga Rp1.080 sampai Rp1.100. Ia menyoroti kualitas profitabilitas perseroan yang membukukan net profit margin sekitar 34 persen dan operating margin mendekati 49 persen pada semester I/2026.

"Dalam hal ini, saya melihat PGEO memiliki kualitas profitabilitas yang paling baik karena tidak hanya mencatat margin yang tinggi, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan sekitar 15% YoY dan laba bersih sekitar 16% YoY dengan basis aset yang jauh lebih besar dibanding emiten lainnya," kata Imam kepada Bisnis.

Dari sisi likuiditas, Imam menyebut posisi PGEO paling kuat. Per akhir Juni 2026, kas dan setara kas perseroan sekitar US$657 juta, sementara liabilitas jangka pendeknya hanya sekitar US$198 juta, sehingga current ratio berada di kisaran 4,4 kali. Struktur permodalannya pun konservatif, dengan Debt to Equity Ratio (DER) sekitar 0,48 kali, menyisakan ruang besar untuk ekspansi lewat pendanaan eksternal.

KISI Sekuritas menilai serupa. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyebut PGEO sebagai emiten EBT dengan fundamental paling solid, ditopang perjanjian jual beli listrik (PPA) jangka panjang bermekanisme take-or-pay, lindung nilai alami berbasis dolar AS yang menguntungkan saat rupiah melemah, serta dukungan pendanaan dari Pertamina.

Menurut Wafi, persepsi investor terhadap emiten EBT Indonesia masih berhati-hati meski mulai selektif optimistis. Di tingkat global, melemahnya komitmen transisi energi, termasuk menguatnya narasi "drill, baby, drill" di Amerika Serikat, berisiko memangkas premi investasi berbasis ESG. Namun faktor domestik seperti program biodiesel B50, kebijakan pengembangan EBT, dan meningkatnya kebutuhan listrik baseload dinilai menjadi penopang.

"Investor global yang berorientasi pada ESG diperkirakan akan tetap bersikap lebih skeptis, sedangkan investor regional yang berfokus pada prospek pertumbuhan Indonesia masih melihat peluang investasi di sektor ini. PGEO sebagai geothermal baseload paling menarik untuk kedua tipe investor ini," tuturnya.

Dengan target harga analis di atas level saat ini dan fundamental yang disebut paling solid di antara emiten EBT, arah saham PGEO ke depan akan bergantung pada seberapa konsisten perseroan mengeksekusi proyek-proyek pengembangannya dan seberapa cepat sentimen global terhadap investasi hijau berbalik, dua faktor yang sebagian di luar kendali perusahaan.

Iklan