Saham

PGEO Tawarkan Panas Bumi Jadi Tulang Punggung Green Data Center RI

Ringkasan Cepat

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menegaskan kesiapan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload bersih untuk menopang pertumbuhan pusat data dan ekosistem AI di Indonesia, di tengah lonjakan kebutuhan seiring 235,26 juta pengguna internet dan 185 fasilitas pusat data. PGEO telah memulai kajian elektrifikasi green data center di Area Kamojang sebagai proyek percontohan, sekaligus menargetkan pertumbuhan kapasitas menuju sekitar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034 sebagai bagian da

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi PGEO menawarkan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload bersih untuk menopang green data center di Indonesia

Ilustrasi PGEO menawarkan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload bersih untuk menopang green data center di Indonesia (Foto PGEO)

Emitenhub.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) menegaskan kesiapan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload energi baru terbarukan (EBT) untuk menopang pertumbuhan pusat data (data center) dan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Indonesia tengah memasuki era transformasi digital yang ditandai dengan meningkatnya kebutuhan pusat data. Perkembangan ini didukung oleh 235,26 juta pengguna internet dan 185 fasilitas pusat data yang diperkirakan terus bertambah hingga 2029/2030.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menjelaskan kebutuhan pusat data dan AI factory memiliki karakteristik yang sangat spesifik, yakni membutuhkan pasokan listrik yang stabil, tersedia selama 24 jam, sekaligus bersih. Karakteristik tersebut sulit dipenuhi oleh sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten.

"Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data center di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan PGE telah memulai langkah konkret melalui kajian pengembangan elektrifikasi green data center dengan energi panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut dirancang sebagai proyek percontohan dan proof of concept untuk memvalidasi model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, serta menyiapkan pasar.

Guna mendorong optimalisasi pengembangan pusat data berbasis EBT, khususnya panas bumi, terdapat beberapa langkah kunci yang memerlukan dukungan penuh. Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi. Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing. Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, menyesuaikan strategi dengan kebijakan pemerintah dalam cetak biru pengembangan pusat data sekaligus panas bumi nasional.

"Strategi tersebut perlu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional," kata Ahmad Yani.

Inisiatif elektrifikasi green data center ini merupakan bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Strategi tersebut juga mencakup elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium, dengan tujuan menciptakan permintaan baru bagi energi panas bumi sekaligus mempercepat pemanfaatan potensi yang selama ini belum terserap.

Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan pertumbuhan secara bertahap menuju sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan sekitar 1,8 GW pada 2034, yang akan ditopang portofolio sumber daya sekitar 3 GW. Pengembangan tersebut dioptimalkan melalui pipeline proyek yang jelas dan terukur.

Langkah pengembangan panas bumi ini juga sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi 5,2 GW panas bumi dalam RUPTL. Hal ini sekaligus mendukung cita-cita Indonesia untuk menjadi produsen panas bumi terbesar di dunia pada 2030.

Iklan