Saham

Danantara Pangkas 1.074 BUMN Jadi 200, Empat Pendekatan Jadi Kunci Penyehatan

Ringkasan Cepat

BPI Danantara membawa penyehatan BUMN ke tahap lebih konkret menjelang ulang tahun keduanya, dengan target memangkas 1.074 perusahaan pelat merah menjadi 200 entitas. COO Danantara Dony Oskaria memaparkan empat pendekatan, yakni likuidasi, divestasi aset, konsolidasi atau merger, dan restrukturisasi, dengan BUMN Karya sebagai prioritas penataan. Analis menilai dampaknya signifikan namun bertahap, sementara Indeks IDXBUMN20 masih terkoreksi 20,64 persen sejak awal tahun ke level 302,42 per 1 Okto

• 6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Logo BPI Danantara di tengah program penyehatan dan konsolidasi badan usaha milik negara

Logo BPI Danantara di tengah program penyehatan dan konsolidasi badan usaha milik negara

Emitenhub.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai membawa penyehatan BUMN ke tahap transformasi yang lebih konkret menjelang ulang tahun keduanya. Agenda terbesarnya adalah memangkas jumlah perusahaan pelat merah dari 1.074 entitas menjadi tinggal 200 badan usaha.

Pemangkasan itu berpijak pada kondisi portofolio yang berat. Dari 1.074 perusahaan, sebanyak 52 persen merugi, dan hanya delapan perusahaan yang konsisten menyetor dividen ke negara. Tekanan paling tampak di kelompok BUMN Karya, yang jika utang seluruh entitasnya dikonsolidasi menembus Rp180 triliun. Salah satu di antaranya bahkan menanggung utang Rp22 triliun dengan aset di luar konstruksi hanya sekitar Rp7 triliun.

Sejak resmi meluncur pada 24 Februari 2025, sovereign wealth fund (SWF) ini memulai langkah dengan penguatan kelembagaan lewat pembentukan PT Danantara Investasi Manajemen (DIM) dan PT Danantara Aset Manajemen (DAM).

Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria memaparkan pemetaan BUMN dibagi tiga tahap. Tahap pertama mencari benchmark perusahaan global, dengan meninjau model bisnis, aliran pendapatan, dan komposisi pendapatan tiap BUMN. Tahap kedua, Danantara mengukur pangsa pasar lewat market sizing. Tahap ketiga, menganalisis kapasitas internal perusahaan, baik dari sisi finansial maupun SDM.

Dari penilaian itu, Danantara menyiapkan empat pendekatan. Pertama, likuidasi bagi perusahaan yang sudah tak bisa diselamatkan. Indikatornya, nilai aset dan liabilitas tak seimbang serta beban utang terlalu besar.

Kedua, divestasi aset. Danantara menyasar BUMN yang punya aset bernilai tapi bergerak di luar bisnis inti, atau justru membebani keuangan konsolidasi. Contohnya terlihat pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melepas dua anak usaha layanan kesehatannya ke perusahaan asal Singapura, Fullerton Health. Contoh lain adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), yang akan mengalihkan kepemilikan saham di proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ke Kementerian Keuangan. WIKA kini menggenggam sekitar 33,36 persen saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan nilai investasi mencapai Rp6 triliun.

Ketiga, konsolidasi atau merger. Dony menyebut BUMN Karya akan dipadatkan dari tujuh entitas menjadi tiga, yakni PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Hutama Karya (Persero). Lewat perampingan ini, perusahaan diharapkan lebih sehat dan kembali berkontribusi bagi negara.

Pendekatan keempat adalah restrukturisasi. Contohnya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), yang tengah menggelar rights issue hingga 124,35 miliar saham Seri E senilai Rp25 per saham sebagai bagian dari penyehatan keuangan 2025 sampai 2029. Dalam aksi itu, Danantara Asset Management mengeksekusi haknya lewat inbreng 65,77 persen saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) senilai Rp5,66 triliun, demi memperkuat ekuitas sekaligus menopang modal kerja dan pemulihan operasional GIAA.

Dony menegaskan Danantara baru menyuntik modal setelah model bisnis perusahaan dinilai sehat dan aksi korporasinya rampung.

"Proses transformasi ini harus tuntas dan pas. Tidak ada lagi menyisakan perusahaan yang rugi dan bermasalah. Hanya ada dua konsekuensi, pertama ditutup, atau Danantara melakukan inject equity," kata Dony saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).

BUMN Karya jadi prioritas penataan

Di antara rencana merger, Dony menilai konsolidasi BUMN Karya paling cepat bisa direalisasikan. Dua yang disiapkan lebih dulu adalah penggabungan PTPP dengan ADHI, serta merger PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero).

Jalur berbeda ditempuh untuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), yang digarap lewat restrukturisasi. Dony menyebut Hutama Karya sebagai satu-satunya BUMN Karya yang relatif paling sehat, sehingga beban berat tersisa di dua entitas lain.

"Jadi hanya Wika dan Waskita yang akan menjadi persoalan, karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, divestasi aset mereka, menurunkan utangnya," katanya.

Seusai merger, Danantara akan mengevaluasi besaran kewajiban dan kapasitas pembayaran utang tiap entitas. Evaluasi itu mencocokkan nilai pinjaman dengan kemampuan bayar berdasarkan proyeksi bisnis ke depan.

Danantara didorong punya cetak biru

Pengamat BUMN sekaligus Direktur Next Indonesia Center Herry Gunawan menilai peran Danantara sangat vital dalam restrukturisasi, terutama bagi BUMN Karya. Selain menentukan arah bisnis, kehadiran Danantara dinilai mengerek kepercayaan pemangku kepentingan, baik investor maupun mitra perusahaan yang direstrukturisasi.

Herry mengingatkan Danantara perlu memegang peta besar yang jelas sebelum menata sektor per sektor. "Masukan untuk Danantara dalam restrukturisasi BUMN adalah Danantara harus memiliki cetak biru BUMN secara keseluruhan, sehingga sektor yang direstrukturisasi masuk dalam skenario tersebut. Selain itu, visinya harus jelas, restrukturisasi yang sedang dilakukan mau diarahkan ke mana," kata Herry.

Tuntasnya empat pendekatan ini akan menentukan apakah target memangkas 1.074 BUMN menjadi 200 entitas benar-benar menghasilkan perusahaan yang sehat, atau sekadar memperkecil jumlah di atas kertas. Dua pilihan yang ditegaskan Dony, ditutup atau disuntik modal, menyisakan sedikit ruang abu-abu bagi entitas yang selama ini bertahan dalam kondisi merugi.

Jalan menuju kinerja keuangan positif

Penyehatan BUMN diharapkan bermuara pada perbaikan kinerja keuangan. Untuk menjaganya, Herry Gunawan menyodorkan beberapa pertimbangan bagi Danantara.

Pertama, fokus pada bisnis inti. Herry mencatat banyak BUMN selama ini melebar ke luar core, dari perusahaan konstruksi yang menggarap bisnis hotel hingga produsen pupuk yang menjual air minum dalam kemasan. Kedua, penyehatan harus memperhitungkan posisi perusahaan dalam rantai pasok industri. Jika sektor hulunya sudah kuat, penyehatan diarahkan ke pengolahan atau hilir agar peluang berkembangnya lebih besar.

"Ketiga, Danantara perlu memerhatikan efisiensi operasional, baik dari sisi produksi, proses bisnis, maupun produksi," kata Herry.

Dampak bertahap ke emiten pelat merah

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dampak penyehatan ini berpotensi signifikan bagi emiten BUMN, meski sifatnya bertahap. Menurutnya, konsolidasi bisa menciptakan skala ekonomi, memangkas duplikasi aset dan biaya, serta memperkuat posisi tawar. Restrukturisasi utang menekan beban keuangan dan memperbaiki arus kas, sementara divestasi aset nonproduktif mengefisienkan penggunaan modal.

Garuda menjadi contoh yang ia soroti. "Pada GIAA, misalnya, transaksi inbreng GMFI telah membuat ekuitas standalone Garuda menjadi positif US$646,15 juta per 30 Juni 2026, meskipun ekuitas konsolidasinya masih negatif US$52,15 juta, sehingga pekerjaan pemulihan fundamental masih cukup besar," kata Nafan.

Kondisi itu, lanjutnya, menandakan penyehatan neraca baru sebatas syarat perlu, belum syarat cukup untuk melahirkan pertumbuhan laba. Setelah struktur keuangan dibenahi, pasar akan menanti bukti perbaikan di pendapatan, EBITDA, laba bersih, arus kas bebas, dan return on invested capital.

Untuk BUMN Karya seperti PTPP, ADHI, dan WIKA, Nafan menilai keberhasilan penyehatan bergantung pada penyelesaian utang, piutang proyek, serta disiplin mengambil proyek baru. Buktinya, rencana konsolidasi kelompok ini sempat ditunda karena restrukturisasi utang dan pembenahan internal belum rampung.

Daya tawar saham BUMN

Perbaikan kinerja diharapkan mengangkat minat investor terhadap saham pelat merah. Nafan menilai ekspektasi pasar bisa lebih konstruktif begitu ada bukti restrukturisasi menghasilkan perbaikan fundamental yang berkelanjutan.

Dalam jangka pendek, aksi korporasi seperti rights issue, merger, inbreng, atau konsolidasi justru berpeluang memicu volatilitas. Investor perlu menghitung ulang valuasi, potensi dilusi, struktur kepemilikan, dan kebutuhan modal lanjutan. Sesudah itu, arah sentimen ditentukan risiko eksekusi: apakah efisiensi benar terwujud, utang turun, arus kas membaik, dan laba mulai tumbuh.

"Jadi, re-rating saham BUMN lebih mungkin terjadi ketika pasar beralih dari sekadar pricing terhadap cerita restrukturisasi menjadi pricing terhadap bukti pemulihan kinerja," kata Nafan.

Ke depan, menurut Nafan, investor akan kian memilah emiten berdasarkan kualitas fundamental dan keberhasilan eksekusi masing-masing, bukan sekadar karena sama-sama berlabel BUMN.

Tekanan itu tergambar di harga. Indeks IDXBUMN20 ditutup di level 302,42 pada Kamis (1/10/2026), terkoreksi 20,64 persen sejak awal tahun. Indeks ini memuat 20 saham BUMN pilihan berdasarkan nilai, frekuensi perdagangan, dan kapitalisasi pasar, sehingga tidak mewakili seluruh emiten pelat merah.

Iklan