Emitenhub.com - Dewan Energi Nasional (DEN) meyakini Indonesia cukup tangguh menghadapi krisis solar (diesel) global, berkat program mandatori biodiesel B50 serta pasokan minyak mentah alternatif yang antara lain berasal dari Rusia.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menyatakan langkah Indonesia menyetop impor solar kualitas rendah atau CN 48 sekaligus menerapkan mandatori biodiesel B50 cukup membantu menghadapi krisis diesel global, terlebih jika krisis tersebut mulai merembet ke Tanah Air.
"Iya, betul [stop impor solar CN 48 dan biodiesel B50]. Jadi itu cukup membantu," kata Satya kepada awak media di Istana Merdeka, Kamis (18/9/2026) malam.
Diversifikasi Sumber Impor
Satya juga menegaskan Indonesia tidak menghadapi kendala dalam pemenuhan pasokan minyak mentah, seiring diversifikasi sumber impor yang terus dilakukan, salah satunya dari Rusia. Ia meyakini kilang minyak di Indonesia cukup mumpuni untuk memproduksi diesel berkualitas baik, sehingga negara cukup tangguh menghadapi krisis diesel dunia.
"Crude itu diproses, ya, untuk menjadi diesel. Jadi tidak masalah, kita punya refinery yang sudah cukup tinggi kan, seperti RDMP [refinery development master plan] yang ada di Balikpapan dan juga di Cilacap. Itu tidak ada masalah, justru apa pun bisa kita olah untuk menjadi BBM jadi," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan Indonesia dapat mulai menghentikan impor solar tahun ini. Ia menyampaikan pemerintah memulai penghentian impor pada solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48, sedangkan impor solar berkualitas tinggi atau CN 51 akan dihentikan pada semester II/2026.
Langkah tersebut, menurut Bahlil, berpijak pada kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah RDMP di Kilang Balikpapan beroperasi. Selepas penerapan B50, ia memperkirakan produksi solar domestik surplus sekitar 4 juta ton.
"Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tetapi tidak bagus bagi importir," kata Bahlil di Kuliah Umum Media Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dalam perkembangannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia masih berencana mengimpor sekitar 600.000 kl solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini. Selain itu, Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97 pada 2026.
"Catatan: pada 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98," sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).
Krisis pasokan dan lonjakan harga solar di dunia akhir-akhir ini diperparah oleh eskalasi konflik Rusia dan Ukraina, menyusul gangguan produksi dan logistik migas yang juga terjadi akibat konflik di wilayah Teluk Persia.
Krisis pasokan diesel di sektor kilang global tersebut diperkirakan menyebabkan pasokan ketat dalam beberapa bulan mendatang, sehingga harga tetap tinggi dan menekan permintaan, menurut para analis dan trader.
Selain dampak perang di Teluk Persia yang telah berlangsung lebih dari enam bulan serta eskalasi konflik baru-baru ini, pasar juga kini menghadapi dampak serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia. Serangan tersebut mendorong Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel.
Hilangnya pasokan ekspor bahan bakar dari pusat-pusat pengolahan utama di Timur Tengah dan Rusia kini masing-masing mencapai 2 juta barel per hari. Hal itu diungkapkan CEO Vitol Group Russell Hardy dalam konferensi Asia Pacific Petroleum Conference yang diselenggarakan S&P Global Energy di Singapura baru-baru ini.
Karena kapasitas kilang di wilayah lain sudah mencapai batas maksimal, konsumen beralih menggunakan cadangan bahan bakar distilat dan akan terus menguras persediaan tersebut.
"Kapasitas penyulingan yang kita jalankan saat ini masih belum cukup untuk mencegah pengurangan cadangan tersebut," ujarnya dikutip Bloomberg.
Harga diesel, yang juga dikenal sebagai bahan bakar penggerak utama ekonomi global, telah melonjak lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah sejak awal perang.
Di tengah krisis diesel global yang dipicu perang di Teluk Persia dan gangguan pasokan Rusia, Indonesia menyandarkan ketahanannya pada kombinasi mandatori B50, penghentian impor solar berkualitas rendah, serta diversifikasi sumber minyak mentah. Beroperasinya RDMP Balikpapan menjadi tumpuan untuk mengerek kapasitas kilang domestik sekaligus menekan ketergantungan impor. Meski demikian, rencana impor yang masih tersisa pada solar CN 51, avtur, dan bensin menunjukkan kemandirian energi belum sepenuhnya tercapai, sehingga daya tahan Indonesia ke depan akan diuji oleh seberapa lama gejolak pasokan global ini berlangsung.


