Emitenhub.com - Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya sekaligus mempercepat laju pengetatan ke tingkat tercepat dalam 36 tahun. Langkah ini diambil saat bank sentral Jepang menghadapi risiko inflasi yang kian besar serta desakan yang makin terbuka dari Washington untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter.
Kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% itu diumumkan pada Jumat (18/9/2026), seusai rapat dua hari. Keputusan tersebut sesuai dengan prediksi seluruh ekonom yang disurvei Bloomberg, dengan hasil pemungutan suara 7-2, ketika anggota dewan Toichiro Asada dan Ayano Sato menyatakan berbeda pendapat.
Laju pengetatan inilah yang menjadi sorotan. Kenaikan ini dilakukan hanya tiga bulan setelah kenaikan sebelumnya, menandai jeda waktu terpendek antara dua kenaikan suku bunga sejak 1990, periode saat pengetatan cepat bank sentral berperan penting dalam pecahnya gelembung aset Jepang. Bagi Gubernur Kazuo Ueda, ini merupakan kenaikan suku bunga keenam selama masa jabatannya, terbanyak dibandingkan kepala BOJ mana pun dalam setidaknya setengah abad terakhir.
Dari sisi pasar, nilai tukar yen justru melemah ke 156,95 per dolar AS setelah keputusan yang telah diperkirakan secara luas itu diumumkan. Pernyataan BOJ tidak memuat sinyal kuat berupa bahasa yang lebih hawkish untuk mendorong spekulasi positif terhadap mata uang Jepang.
Meski demikian, posisi yen masih lebih kuat dibandingkan level pada Juli. Intervensi terkoordinasi AS dan Jepang pada akhir bulan tersebut membantu menjauhkan yen dari level terendah sekitar 40 tahun di 163,99 per dolar AS yang tercatat pada 23 Juli.
Langkah BOJ tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari perubahan kondisi global yang memengaruhi kebijakan moneter, ketika sejumlah otoritas berupaya mengatasi dampak perang Iran. Federal Reserve (The Fed) menegaskan perubahan itu pada Rabu melalui kenaikan suku bunga pertamanya dalam tiga tahun, sekaligus memperkirakan kenaikan lain pada akhir tahun ini. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga pekan lalu untuk kedua kalinya pada tahun ini.
Kenaikan terbaru di Jepang menandai untuk pertama kalinya BOJ, The Fed, dan ECB menaikkan biaya pinjaman pada bulan yang sama. Langkah serentak tersebut menunjukkan sejauh mana BOJ telah beranjak dari statusnya sebagai bank sentral yang selama ini menyimpang dari arus kebijakan moneter global.
Faktor Washington turut memperkuat ekspektasi. Kenaikan ini tidak terlalu mengejutkan setelah serangkaian pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang berulang kali mendesak Jepang menaikkan suku bunga, sehingga keputusan tersebut hampir sepenuhnya telah diperhitungkan pasar pada awal September.
Dalam pertemuan tatap muka dengan Ueda di North Carolina bulan lalu, Bessent "menyatakan dukungan kuat" terhadap langkah tegas Jepang untuk mengatasi pelemahan yen, menurut Departemen Keuangan AS.
BOJ kembali menegaskan pihaknya akan terus menaikkan suku bunga apabila prospek ekonomi dan harga sesuai dengan perkiraan. Dengan level 1,25%, suku bunga kebijakan BOJ untuk pertama kalinya berada dalam kisaran bawah estimasi bank sentral terhadap suku bunga netral, yakni tingkat yang dianggap tidak mendorong maupun membatasi aktivitas ekonomi.
Tekanan inflasi menjadi latar utama pengetatan ini. Indikator utama inflasi Jepang bertahan di atas 2% selama empat tahun berturut-turut hingga 2025, dan BOJ memperkirakan laju tersebut akan tetap berada di atas targetnya dalam beberapa tahun mendatang.
Meski data yang dirilis Jumat sebelumnya menunjukkan inflasi inti sedikit melambat pada Agustus, sebagian akibat distorsi dari subsidi, para analis justru memperkirakan kenaikan harga akan menguat hingga mendekati 3% pada awal tahun depan.


